Tantangan Terberat Marshanda di Film Saat Aku Bersuara
Uptodai.com - Aktris berbakat tanah air, Marshanda film Saat Aku Bersuara menjadi proyek layar lebar terbaru yang menuntut totalitas akting luar biasa darinya. Dalam film ini, perempuan berusia 37 tahun tersebut dipercaya untuk memerankan karakter sensitif sebagai seorang korban pelecehan seksual. Saat ditemui di kawasan Senayan, Jakarta Pusat, ia membagikan pengalamannya yang penuh emosi selama proses syuting berlangsung.
Memerankan karakter yang mengalami trauma mendalam tentu bukan perkara mudah bagi ibu satu anak ini. Marshanda mengaku harus menyelami spektrum emosi yang sangat luas, mulai dari titik terendah hingga upaya untuk bangkit kembali. Baginya, transisi emosional dari rasa terpuruk hingga menemukan secercah harapan menjadi dinamika peran yang sangat menguras energi psikologisnya.
Dedikasi Marshanda Terhadap Isu Sosial
Sebagai seorang aktris senior yang telah berkarier sejak kecil, Marshanda memang dikenal selalu selektif dalam memilih peran. Keputusannya mengambil peran krusial ini juga sejalan dengan kepedulian sosialnya yang tinggi terhadap isu-isu kesehatan mental dan trauma. Melalui film ini, ia berharap dapat menyuarakan jeritan hati para penyintas yang sering kali bungkam karena stigma sosial.
Di antara semua emosi yang harus ia hidupkan, Marshanda menyebutkan bahwa rasa berharap adalah emosi yang paling sulit untuk dimainkan. Menurutnya, mempertahankan harapan di tengah ketidakpastian adalah perjuangan batin yang sangat berat bagi seorang korban. Tidak adanya jaminan bahwa suara mereka akan didengar atau divalidasi membuat rasa berharap terasa sangat menyiksa.
Perjuangan Batin Menjaga Harapan
“Karena punya rasa berharap, tapi ketika nggak ada janji di depan gitu apakah akan dibela atau dianggap, itu sulit sekali,” ungkap Marshanda dengan penuh penghayatan. Ia menambahkan bahwa keputusasaan atau keinginan untuk menyerah justru terkadang lebih mudah dirasakan daripada terus memelihara harapan yang semu. Ketakutan akan penolakan dari lingkungan sekitar sering kali menjadi tembok besar bagi para korban untuk bersuara.
Kehadiran sinema Saat Aku Bersuara ini diharapkan mampu menjadi medium edukasi yang kuat bagi masyarakat luas mengenai urgensi perlindungan korban kekerasan seksual. Industri perfilman Indonesia sendiri kini semakin berani mengangkat isu-isu realitas sosial yang sensitif namun penting untuk didiskusikan. Akting memukau Marshanda dalam karya ini diprediksi akan menyentuh hati banyak penonton dan memicu kesadaran kolektif yang lebih besar.