Uptodai.com - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) melaporkan telah terjadi ratusan gempa susulan di Palu setelah guncangan utama berkekuatan Magnitudo 6,7 melanda wilayah tersebut. Hingga saat ini, tercatat ada 466 kali aktivitas seismik susulan dengan kekuatan terbesar mencapai M5,2 dan terkecil M1,3. Meskipun jumlahnya sangat banyak, hanya sekitar 25 getaran saja yang benar-benar dirasakan oleh masyarakat setempat. Guncangan beruntun ini sempat memicu kepanikan luar biasa mengingat riwayat kebencanaan di wilayah Sulawesi Tengah.

Penyebab Utama Gempa dan Aktivitas Sesar Sausu

Menurut rilis resmi BMKG, gempa utama yang mengguncang Torue, Parigi Moutong, merupakan jenis gempa bumi dangkal akibat aktivitas sesar Sausu. Hasil analisis mekanisme sumber menunjukkan bahwa pergerakan lempeng tektonik ini berupa pergerakan turun atau dikenal sebagai normal fault. Pusat gempa terdeteksi berada di darat pada kedalaman 16 kilometer, tepatnya berlokasi sekitar 42 kilometer arah Tenggara Kota Palu. Posisi yang sangat dekat dengan pemukiman inilah yang memicu rambatan energi getaran terasa begitu kuat di permukaan.

Kondisi Perairan Stabil dan Bebas Potensi Tsunami

Meskipun kekuatan gempa cukup signifikan, BMKG memastikan bahwa peristiwa ini sama sekali tidak berpotensi menimbulkan bencana tsunami. Hasil pemantauan instrumen di lapangan menunjukkan kondisi permukaan air laut di beberapa titik kritis tetap berada dalam batas normal. Stasiun pemantau di wilayah Parigi dan Poso melaporkan nihilnya pergerakan air laut yang mencurigakan pasca-guncangan. Informasi ini sangat krusial untuk meredam kepanikan warga pesisir yang masih trauma dengan bencana tsunami masa lalu.

Trauma Masa Lalu dan Karakteristik Tektonik Palu

Wilayah Sulawesi Tengah memang dikenal sebagai salah satu zona paling aktif secara tektonik di Indonesia karena dilintasi sistem sesar aktif yang kompleks. Pengalaman pahit bencana gempa bumi, tsunami, dan likuifaksi pada tahun 2018 silam membuat masyarakat setempat sangat sensitif terhadap setiap getaran tanah. Keberadaan sesar Sausu yang berdekatan dengan sesar Palu-Koro memperumit karakteristik seismik di kawasan rawan bencana ini. Oleh karena itu, pemahaman mendalam mengenai mitigasi bencana mandiri menjadi kunci utama keselamatan warga di masa depan.

Dampak Kerusakan Infrastruktur di Wilayah Terdampak

Guncangan gempa bumi ini dilaporkan menimbulkan kerusakan fisik pada sejumlah bangunan di beberapa wilayah terdampak. Wilayah Palolo di Kabupaten Sigi merasakan guncangan paling hebat pada skala VII MMI, yang berujung pada kerusakan infrastruktur yang cukup masif. Sementara itu, Kota Palu, Parigi Utara, dan Poso juga mencatatkan dampak kerusakan pada skala intensitas VI MMI. Beberapa fasilitas umum dan rumah warga dilaporkan mengalami retak rambut hingga kerusakan struktur sedang.

Imbauan BMKG Terkait Hoaks dan Mitigasi Bencana

Merespons situasi darurat ini, Deputi Bidang Geofisika BMKG, Nelly, mengimbau seluruh masyarakat agar tetap tenang dan tidak mudah terprovokasi. Warga diminta untuk mengabaikan segala bentuk isu hoaks atau informasi tidak resmi yang menyebar liar di media sosial. Selain itu, masyarakat juga sangat disarankan untuk menjauhi bangunan yang sudah retak guna menghindari risiko keruntuhan akibat getaran susulan. Langkah antisipasi dini ini diharapkan dapat meminimalisir potensi korban jiwa di tengah ketidakpastian kondisi geologis saat ini.