Uptodai.com - Pengembangan baterai sodium-ion CATL kini terus dipercepat sebagai solusi mutakhir untuk menghadapi ketidakpastian pasar kendaraan listrik global. Raksasa manufaktur asal China tersebut menargetkan sebanyak 20.000 unit mobil listrik (EV) akan mengadopsi teknologi baterai alternatif ini sepanjang tahun 2026. Langkah strategis ini diambil sebagai bagian dari komitmen perusahaan dalam menerapkan jalur ganda “lithium-sodium” guna menekan ketergantungan pada bahan baku lithium yang harganya kian fluktuatif.

Ni Jun, selaku petinggi CATL, memaparkan target ambisius tersebut dalam Forum Ekonomi Dunia yang berlangsung di Dalian, China. Menurutnya, pencapaian ini akan menjadi tonggak sejarah baru dalam mempercepat adopsi massal teknologi penyimpanan energi alternatif yang lebih ramah kantong. Guna merealisasikan ambisi besar ini, CATL tidak main-main dengan menggelontorkan investasi riset hingga mencapai 10 miliar yuan atau setara dengan US$1,5 miliar.

Keunggulan Teknologi Baterai Naxtra di Suhu Ekstrem

Produk baterai sodium-ion generasi terbaru besutan CATL ini resmi diperkenalkan dengan nama Naxtra. Salah satu keunggulan utama Naxtra adalah kemampuannya untuk tetap beroperasi secara optimal dalam kondisi cuaca yang sangat dingin. Teknologi ini diklaim mampu bertahan dan bekerja dengan baik pada rentang suhu ekstrem mulai dari -20 hingga -30 derajat Celsius.

Kemampuan adaptasi cuaca dingin ini menjadi angin segar bagi industri EV di negara-negara belahan bumi utara seperti Amerika Serikat, Kanada, dan Jepang. Selama ini, performa baterai lithium konvensional kerap merosot tajam ketika dihadapkan pada musim dingin yang ekstrem. Pengujian langsung di wilayah bersalju Yakeshi, Mongolia Dalam, membuktikan bahwa mobil listrik dengan baterai Naxtra tetap tangguh melibas tanjakan bersalju tanpa kendala berarti.

Mengapa Memilih Sodium-Ion Dibanding Lithium?

Selain ketahanan suhu, transisi ke sodium-ion didorong oleh melambungnya harga lithium global yang sempat melonjak hingga 190 persen dalam beberapa tahun terakhir. Sodium, yang melimpah di kerak bumi dan dapat diekstrak dengan mudah dari garam laut, menawarkan stabilitas pasokan yang jauh lebih terjamin bagi rantai pasok global. Hal ini membuat biaya produksi kendaraan listrik masa depan berpotensi turun secara signifikan serta meminimalkan kerusakan lingkungan akibat eksploitasi tambang lithium yang kontroversial.

Meskipun memiliki keunggulan biaya dan ketahanan suhu, baterai sodium-ion saat ini masih menghadapi tantangan berupa kepadatan energi yang lebih rendah dibanding lithium konvensional. Namun, CATL mengatasinya dengan memposisikan baterai ini untuk segmen mobil listrik perkotaan (city car) serta kendaraan mikro yang tidak membutuhkan jarak tempuh ekstra jauh. Dengan portofolio klien global yang sangat kuat seperti Tesla, Hyundai, dan BMW, inovasi CATL ini diprediksi akan segera mengubah peta persaingan industri otomotif dunia secara masif.

Keberhasilan CATL dalam mengomersialkan teknologi ramah lingkungan ini juga diharapkan dapat memicu produsen baterai global lainnya untuk ikut beralih ke material alternatif yang lebih berkelanjutan. Langkah taktis ini dinilai sangat krusial untuk menciptakan ekosistem transportasi hijau yang lebih mandiri, stabil, dan tidak bergantung pada monopoli satu jenis komoditas tambang saja. Pada akhirnya, konsumen global akan diuntungkan dengan kehadiran pilihan kendaraan listrik yang lebih bervariasi dengan harga jual yang jauh lebih terjangkau di masa depan.