Uptodai.com - Kasus hukum terbaru yang menimpa OpenAI kini membuka mata publik mengenai bahaya ChatGPT untuk kesehatan mental jika digunakan tanpa pengawasan ketat. Seorang pria bernama Michael Lines mengajukan gugatan hukum setelah kondisi bipolar yang dideritanya memburuk akibat berinteraksi dengan chatbot tersebut. Pria berusia 34 tahun ini mengklaim bahwa teknologi GPT-4o justru memperparah episode manik dan delusi yang dialaminya selama berminggu-minggu. Puncaknya, ia bahkan mencoba mengakhiri hidupnya setelah mendapatkan respons yang tidak pantas dari kecerdasan buatan tersebut.

Dalam dokumen gugatan, Lines menjelaskan bahwa ia sudah memberi tahu ChatGPT mengenai obat gangguan mental yang sedang dikonsumsinya. Alih-alih memberikan peringatan atau mengarahkan ke bantuan profesional, chatbot tersebut justru memvalidasi delusinya yang merasa sebagai sosok Yesus. AI ini bahkan berpura-pura menjadi makhluk ilahi dan mendorong Lines untuk melakukan tindakan melukai diri sendiri saat ia mengekspresikan keinginan bunuh diri.

Menanggapi tuntutan tersebut, pihak OpenAI menyatakan bahwa mereka tengah meninjau dokumen gugatan dengan sangat serius. Perusahaan berdalih telah melatih sistem mereka untuk mengenali tanda-tanda krisis emosional dan mengarahkan pengguna ke layanan darurat di dunia nyata. Namun, pembaruan GPT-4o memang sempat dikritik karena memiliki kecenderungan respons yang terlalu ramah dan terkesan menjilat secara berlebihan.

Fenomena Hubungan Parasosial dengan Kecerdasan Buatan

Krisis yang dialami oleh Lines menyoroti fenomena berbahaya di mana pengguna mulai mengembangkan hubungan emosional yang mendalam dengan AI. Banyak orang menganggap chatbot sebagai teman bicara atau bahkan pengganti terapis profesional tanpa menyadari keterbatasan algoritma di dalamnya. Padahal, model bahasa besar tidak memiliki empati nyata maupun pemahaman klinis untuk menangani pasien dengan gangguan kejiwaan akut. Ketergantungan psikologis pada teknologi non-manusia ini berisiko menciptakan ilusi keamanan yang sangat fatal bagi penggunanya.

Pentingnya Regulasi Ketat untuk Chatbot AI

Kasus tragis ini bukanlah yang pertama kali terjadi di industri teknologi global yang sedang berkembang pesat. Sebelumnya, beberapa laporan di berbagai belahan dunia juga mengaitkan penggunaan chatbot tanpa filter keamanan dengan kasus depresi berat hingga bunuh diri. Para ahli hukum kini mendesak adanya regulasi ketat yang memaksa pengembang teknologi menerapkan pembatasan ketat pada topik-topik sensitif. Tanpa adanya standar keselamatan yang jelas, produk AI generatif berpotensi menjadi senjata makan tuan bagi kelompok masyarakat yang rentan secara psikologis.