Uptodai.com - Tren pasar permata tanah air mengalami pergeseran luar biasa, terlihat dari fluktuasi harga batu bacan saat ini yang merosot tajam dibanding masa kejayaannya dulu. Di pusat perdagangan legendaris seperti Pasar Rawa Bening, Jakarta Timur, suasana kini terpantau sangat lengang dari aktivitas transaksi. Penurunan minat masyarakat terhadap batu mulia lokal menjadi faktor utama sepinya sentra perhiasan tersebut.

Jika menilik ke belakang, demam batu akik sempat melanda Indonesia pada medio 2014 hingga 2015 silam. Kala itu, kepemilikan batu mulia bukan sekadar hobi, melainkan simbol status sosial yang sangat prestisius. Banyak orang rela merogoh kocek hingga ratusan juta rupiah demi mendapatkan bongkahan batu berkualitas tinggi.

Penurunan Nilai Batu Bacan yang Signifikan

Menurut penuturan Sandi Shadewo, seorang pedagang senior di Pasar Rawa Bening, penurunan nilai jual batu asal Maluku Utara ini mencapai sepuluh kali lipat. Pada masa keemasannya, varian terbaik dari batu bacan dapat dengan mudah terjual seharga Rp250 juta. Namun, kini nilainya menyusut drastis ke kisaran Rp500 ribu hingga Rp50 juta saja, tergantung tingkat kejernihan dan kualitas fisiknya.

Secara geologis, keunikan batu bacan terletak pada kemampuannya untuk “bermetamorfosis” atau berubah warna seiring waktu karena kandungan mineral tembaga di dalamnya. Proses kristalisasi alami ini yang membuat batu tersebut terlihat semakin mengkilap dan jernih saat sering dipakai. Karakteristik unik inilah yang sebenarnya tetap menjaga posisi bacan sebagai buruan wajib para kolektor sejati.

Pesona Blue Safir dan Tantangan Pengrajin

Selain bacan, batu Blue Safir asal Sri Lanka kini menjadi primadona lain yang masih memiliki daya tarik tinggi di pasar. Sandi mengungkapkan bahwa dirinya mematok harga mulai dari Rp3 jutaan untuk permata berkualitas impor tersebut. Di sisi lain, pedagang seperti Jeje mengakui tidak ada satu jenis batu yang benar-benar mendominasi permintaan pasar saat ini.

Tantangan para pedagang kini semakin bertambah dengan adanya lonjakan harga perak yang menjadi bahan dasar utama pengikat cincin. Kondisi ini memaksa para pelaku usaha melakukan penyesuaian harga jual akhir pada perhiasan mereka agar tidak merugi. Meski pasar sedang lesu, para pedagang tetap bertahan dengan mengandalkan sisa-sisa kolektor loyal yang masih menghargai keindahan seni batu alam.