Uptodai.com - Langkah geopolitik terbaru menunjukkan bahwa Putin tolak nego damai dengan Ukraina dan justru memilih untuk merancang eskalasi militer besar-besaran dalam beberapa bulan ke depan. Keputusan ini diambil guna memecah kebuntuan perang yang kini telah memasuki tahun kelima tanpa ada tanda-tanda mereda. Dua sumber anonim menyebutkan adanya probabilitas yang sangat tinggi terkait rencana mobilisasi kekuatan baru dari pihak Kremlin.

Ambisi Presiden Rusia ini kian menebal setelah rentetan serangan pesawat tanpa awak (drone) Ukraina berhasil menghantam infrastruktur vital mereka. Serangan presisi Kyiv yang menghancurkan kilang minyak dan pelabuhan Rusia justru memicu kemarahan Moskow untuk terus mengobarkan peperangan. Fokus utama dari rencana eskalasi militer ini difokuskan penuh untuk merebut sisa wilayah Donbas di Ukraina timur.

Perebutan wilayah Donbas diposisikan sebagai harga mati untuk sebuah kemenangan prinsipil bagi rezim Vladimir Putin. Para analis menilai bahwa menguasai Donbas sepenuhnya akan memberikan legitimasi politik domestik yang sangat dibutuhkan oleh Kremlin di tengah tekanan sanksi ekonomi Barat. Oleh karena itu, Moskow rela mengorbankan sumber daya yang luar biasa besar demi mencapai target teritorial tersebut.

Ancaman Perluasan Target Serangan Rusia

Guna memuluskan target tersebut, pakar militer Rusia bahkan mulai mendiskusikan opsi perluasan target serangan udara secara radikal. Diskusi ini mencakup potensi menggempur pangkalan-pangkalan NATO di negara-negara Baltik dan Rumania yang berisiko memicu konflik global. Langkah nekat ini dikhawatirkan dapat menyeret aliansi barat ke dalam konfrontasi bersenjata secara langsung dengan Rusia.

Meskipun demikian, beberapa pakar menilai ancaman terhadap NATO ini lebih merupakan strategi gertakan politik untuk memecah konsensus Barat. Jack Watling dari Royal United Services Institute (RUSI) London mengungkapkan bahwa Rusia sebenarnya tidak menargetkan perang langsung dengan NATO. Namun, isu ini sengaja diembuskan untuk memecah belah kesolidan anggota NATO dalam merumuskan respons bersama.

Kontradiksi Klaim Perdamaian Internasional

Langkah keras Moskow ini mencuat tepat setelah Donald Trump mengklaim bahwa resolusi perdamaian sudah berada di depan mata. Klaim tersebut disampaikan pasca-melakukan panggilan telepon terpisah dengan Putin dan Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky. Namun, situasi di lapangan justru menunjukkan arah yang bertolak belakang dengan klaim optimistis dari politisi Amerika Serikat tersebut.

Laporan intelijen senior Ukraina menunjukkan bahwa pergerakan militer Moskow belakangan ini sama sekali tidak mencerminkan persiapan menuju meja perundingan. Sebaliknya, militer Rusia terindikasi sedang memobilisasi pasukan dalam skala besar untuk menggelar operasi baru yang diprediksi meluas hingga ke luar perbatasan. Juru Bicara Kremlin, Dmitry Peskov, menegaskan bahwa Rusia memiliki kemampuan cukup untuk melanjutkan operasi militer khusus secara independen.

Di medan tempur darat, jalannya peperangan masih berlangsung sangat sengit dan melelahkan di sepanjang 1.200 kilometer garis depan. Efektivitas taktik drone Ukraina terbukti mampu meredam keunggulan jumlah personel militer Rusia yang jauh lebih masif. Konfrontasi bersenjata belakangan ini berpusat di kota Kostiantynivka, sebuah benteng pertahanan krusial di wilayah Donetsk yang terus diperebutkan kedua belah pihak.