Uptodai.com - Pemerintah Indonesia akhirnya bersiap melakukan groundbreaking untuk memulai pengerjaan fisik Proyek Blok Masela yang terletak di Kepulauan Tanimbar, Maluku. Langkah bersejarah ini menandai babak baru setelah proyek strategis nasional ini mengalami penundaan selama hampir tiga dekade sejak kontrak pertama kali ditandatangani. Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mengonfirmasi bahwa Presiden RI Prabowo Subianto dijadwalkan meresmikan momen penting ini secara langsung maupun virtual.

Kehadiran proyek ini diharapkan mampu memberikan dampak multiplier effect yang luar biasa bagi perekonomian wilayah Indonesia Timur, khususnya Provinsi Maluku. Selain menyerap ribuan tenaga kerja lokal selama masa konstruksi, proyek ini juga diproyeksikan akan mendorong pertumbuhan industri turunan berbasis gas di sekitar wilayah operasional. Pemerintah daerah setempat pun kini tengah bersiap meningkatkan kapasitas sumber daya manusia agar masyarakat lokal dapat berpartisipasi aktif dalam proyek skala global ini.

Potensi Cadangan Gas Raksasa di Lapangan Abadi

Cadangan Gas Blok Masela yang berpusat di Lapangan Abadi ini tercatat sangat fantastis, yakni mencapai sekitar 6,97 triliun kaki kubik (TCF). Dengan potensi sebesar itu, wilayah ini dikategorikan sebagai salah satu cadangan gas laut dalam terbesar yang dimiliki oleh Indonesia saat ini. Proyeksi produksi dari lapangan ini diperkirakan mampu menghasilkan Liquefied Natural Gas (LNG) sebesar 9,5 juta metrik ton per tahun (MMTPA) serta gas pipa sebesar 150 juta kaki kubik standar per hari (MMSCFD).

Produksi LNG dalam jumlah masif ini tidak hanya ditujukan untuk memenuhi kebutuhan domestik yang terus meningkat, tetapi juga untuk pasar ekspor global. Di tengah ketidakpastian geopolitik dunia, pasokan gas dari Indonesia dipandang sebagai alternatif energi bersih yang sangat strategis bagi negara-negara di kawasan Asia Timur. Hal ini sekaligus memperkuat posisi tawar Indonesia dalam peta geopolitik energi internasional sebagai produsen LNG utama dunia.

Perjalanan Panjang dan Tantangan Investasi Masela

Kontrak bagi hasil (PSC) Blok Masela sebenarnya telah ditandatangani sejak tahun 1998 oleh Pemerintah Indonesia dan Inpex Corporation pada era Presiden BJ Habibie. Namun, dalam perjalanannya, proyek ini harus melewati berbagai dinamika mulai dari perubahan skema pengembangan dari laut (offshore) menjadi darat (onshore) hingga restrukturisasi konsorsium. Perubahan kebijakan tersebut membuat pemerintah memberikan kompensasi berupa perpanjangan kontrak hingga tahun 2055 mendatang agar investasi tetap bernilai ekonomis bagi investor.

Untuk menyelaraskan dengan komitmen transisi energi global, proyek ini juga direncanakan mengadopsi teknologi Carbon Capture and Storage (CCS). Penerapan teknologi ramah lingkungan ini bertujuan untuk menekan emisi karbon yang dihasilkan selama proses produksi gas alam berlangsung. Langkah inovatif ini diharapkan menjadikan Blok Masela sebagai pionir proyek gas hijau berstandar internasional yang mendukung target Net Zero Emission Indonesia pada tahun 2060.