Uptodai.com - Laporan terbaru mengenai tingkat stres kerja paling tinggi di ASEAN kembali menarik perhatian publik global. Berdasarkan data Gallup’s State of the Global Workplace Report 2026, Filipina menempati posisi puncak sebagai negara dengan pekerja paling stres di Asia Tenggara. Sebanyak 50% pekerja di negara tersebut mengaku mengalami tekanan mental setiap hari dalam lingkungan kerja mereka.

Di posisi kedua, Singapura menyusul dengan persentase mencapai 43%, disusul oleh Kamboja sebesar 34%. Sementara itu, posisi keempat dan kelima ditempati oleh Myanmar dengan 30% dan Laos dengan 26%. Angka-angka ini menunjukkan tantangan besar yang dihadapi oleh para pekerja di kawasan ini terkait kesehatan mental.

Beralih ke posisi berikutnya, Thailand mencatat angka 25%, sedangkan Malaysia berada di angka 20%. Indonesia sendiri patut sedikit bernapas lega karena berada di posisi kedelapan dengan persentase harian sebesar 14%. Angka ini menempatkan Indonesia sebagai salah satu negara dengan tingkat stres kerja terendah, hanya satu tingkat di atas Vietnam yang mencatat 13%.

Mengapa Tekanan Kerja di Negara Tetangga Begitu Tinggi?

Tingginya tekanan kerja di Filipina dan Singapura sering kali dikaitkan dengan budaya kerja yang sangat kompetitif dan tuntutan industri yang cepat. Di Singapura, misalnya, biaya hidup yang tinggi dan persaingan profesional yang ketat memaksa karyawan bekerja melebihi jam kerja standar. Hal ini memicu kelelahan fisik dan mental yang berujung pada fenomena burnout massal di kalangan pekerja urban.

Pentingnya Menjaga Kesejahteraan Mental di Tempat Kerja

Meskipun persentase Indonesia relatif rendah, angka 14% tetap berarti bahwa satu dari sepuluh pekerja di tanah air mengalami stres harian. Banyak perusahaan di Indonesia kini mulai menyadari pentingnya program kesehatan mental, seperti menyediakan layanan konseling bagi karyawan. Langkah preventif ini sangat krusial guna menjaga produktivitas jangka panjang serta menciptakan lingkungan kerja yang lebih sehat dan humanis.

Secara keseluruhan, perbedaan angka yang cukup lebar antarnegara di Asia Tenggara mencerminkan variasi kebijakan ketenagakerjaan dan kondisi ekonomi masing-masing wilayah. Kesejahteraan pekerja kini bukan lagi sekadar isu sekunder, melainkan pilar utama dalam pembangunan ekonomi yang berkelanjutan. Oleh karena itu, sinergi antara pemerintah dan sektor swasta sangat dibutuhkan untuk menekan angka stres kerja ini.