Tren AI Menghidupkan Orang Meninggal Marak di Korea Selatan
Uptodai.com - Tren AI menghidupkan orang meninggal kini semakin marak dan menjadi fenomena sosial baru di Korea Selatan. Perusahaan teknologi asal Seoul bernama Vaice memanfaatkan kemajuan kecerdasan buatan ini untuk membantu masyarakat mengobati kerinduan pada anggota keluarga yang telah wafat. Hanya dengan biaya sekitar US$ 390 atau setara Rp 7 juta, pelanggan sudah bisa mendapatkan video kenangan berdurasi tiga hingga lima menit.
Proses pembuatan video kenangan ini membutuhkan beberapa foto serta sampel suara singkat dari mendiang. CEO Vaice, Jeongu Won, menjelaskan bahwa sistem kecerdasan buatan kemudian merender wajah dan suara tersebut agar terlihat hidup kembali. Pengalaman sentimental ini dirasakan oleh Lee Geon Hui, seorang pelanggan yang membuat video pesan permintaan maaf dari mendiang kakeknya untuk sang ayah.
Teknologi yang dikenal sebagai grief tech atau teknologi duka ini sejatinya memadukan algoritma pemelajaran mendalam dengan rekayasa digital. Di era digital saat ini, masyarakat Negeri Ginseng memang sangat terbuka terhadap adopsi inovasi mutakhir. Kepopuleran layanan ini terbukti dari tingginya permintaan yang mencapai 300 pelanggan setiap bulannya, yang mayoritas didominasi oleh kelompok usia 40 hingga 50 tahun.
Penyelesaian Konflik dan Tradisi Keluarga
Banyak klien menggunakan kesempatan ini untuk menyampaikan naskah yang belum sempat diucapkan semasa hidup, termasuk ucapan kasih sayang dan permohonan maaf atas konflik masa lalu. Video animasi hasil rekayasa kecerdasan buatan ini umumnya diputar saat momen pemujaan leluhur atau peringatan hari kematian. Kehadiran sosok digital tersebut dianggap memberikan kedamaian emosional bagi keluarga yang ditinggalkan.
Fenomena ini juga mencerminkan pergeseran budaya dalam memproses rasa duka cita di era modern. Jika dahulu kenangan hanya tersimpan dalam album foto statis atau rekaman video lama, kini teknologi memungkinkan adanya interaksi seolah-olah terjadi komunikasi dua arah. Tren serupa bahkan mulai dilirik oleh beberapa negara maju lainnya sebagai bagian dari industri rekreasional kecerdasan buatan.
Dilema Etika dan Dampak Psikologis
Meskipun menawarkan kepuasan emosional, tren ini menimbulkan perdebatan sengit dari sudut pandang etika, psikologi, hingga hukum. Ahli dari Korea Advanced Institute of Science and Technology, Yong Man Ro, menilai teknologi ini bagaikan pedang bermata dua karena menyentuh emosi terdalam manusia. Di sisi lain, pakar hukum juga mendesak perlunya regulasi ketat untuk melindungi hak cipta dan privasi mendiang agar tidak disalahgunakan.
Beberapa psikolog juga mengkhawatirkan bahwa teknologi visualisasi orang mati dapat menghambat proses pemulihan duka yang alami. Keterikatan berlebihan pada sosok simulasi digital berisiko membuat seseorang terjebak dalam penolakan terhadap realitas kematian. Oleh karena itu, batasan hukum serta kesadaran etis menjadi hal krusial yang harus segera dirumuskan seiring pesatnya perkembangan inovasi ini.