Survei Kaspersky Ungkap Fenomena Baru: 3 dari 10 Orang Indonesia Curhat ke AI Saat Sedih
Uptodai.com - Kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) kini tak lagi sekadar berperan sebagai alat bantu produktivitas. Lebih dari itu, teknologi ini mulai mengambil peran yang jauh lebih personal dalam kehidupan manusia. Hal tersebut terungkap dalam survei terbaru Kaspersky yang menunjukkan adanya perubahan signifikan dalam cara masyarakat memanfaatkan AI, terutama selama musim liburan.
Menariknya, AI kini tidak hanya digunakan untuk membantu perencanaan perjalanan atau belanja, tetapi juga hadir sebagai pendamping digital yang mampu memberikan dukungan emosional. Fenomena ini terlihat cukup menonjol di Indonesia. Berdasarkan survei tersebut, lebih dari 30% pengguna di Tanah Air mengaku memilih berinteraksi dengan AI ketika sedang merasa sedih atau tidak bahagia.
Survei ini dilakukan oleh Kaspersky untuk memahami bagaimana AI dimanfaatkan dalam mengisi waktu luang sekaligus menyederhanakan berbagai persiapan liburan. Namun di sisi lain, riset ini juga menyoroti potensi risiko keamanan siber yang muncul seiring meningkatnya ketergantungan pada teknologi kecerdasan buatan.
Hasil survei menunjukkan bahwa popularitas AI pada musim liburan 2025–2026 tergolong sangat tinggi. Sebanyak 74% responden global menyatakan berencana menggunakan AI dalam berbagai aktivitas liburan mereka. Sementara itu, antusiasme terbesar datang dari generasi muda. Sebanyak 86% responden berusia 18 hingga 34 tahun mengaku siap mengandalkan AI selama masa liburan.
Di Indonesia, tren ini berjalan seiring dengan kebiasaan digital masyarakat yang semakin adaptif. AI dimanfaatkan untuk berbagai kebutuhan praktis. Lebih dari separuh pengguna mengaku akan menggunakan AI untuk mencari resep makanan (56%) serta mencari restoran dan akomodasi (54%). Dengan kata lain, AI dianggap mampu memangkas waktu riset dan membuat proses pencarian informasi menjadi lebih efisien.
Tak hanya itu, AI juga dipandang sebagai sumber inspirasi. Sekitar 50% responden mengandalkan AI untuk bertukar pikiran terkait ide hadiah, konsep perayaan, hingga tips dekorasi Natal dan Tahun Baru. Persentase yang sama juga menggunakan AI untuk mendapatkan ide menghabiskan waktu luang selama liburan.
Peran AI sebagai asisten belanja pun semakin kuat. Separuh responden menyebut AI membantu mereka menyusun daftar belanja, menemukan promo terbaik, hingga membaca dan menganalisis ulasan produk. Generasi muda bahkan menunjukkan minat tinggi terhadap penggunaan AI sebagai perencana anggaran, dengan 50% responden usia 18–34 tahun merasa nyaman mengatur keuangan liburan dengan bantuan teknologi ini.
Sebaliknya, kelompok usia yang lebih tua cenderung lebih berhati-hati. Responden berusia di atas 55 tahun terlihat kurang antusias mempercayakan pengelolaan pengeluaran kepada AI. Hanya 31% dari mereka yang tertarik menggunakan AI untuk mengatur anggaran. Namun demikian, kelompok usia ini tetap memanfaatkan AI untuk mencari resep (59%) serta ide hadiah (41%).
Di balik kemudahan tersebut, Kaspersky mengingatkan adanya risiko yang perlu diwaspadai. Informasi yang dihasilkan chatbot AI tidak selalu sepenuhnya akurat atau aman. Oleh karena itu, pengguna disarankan untuk selalu memeriksa ulang tautan yang dibagikan AI sebelum mengkliknya, karena bisa saja mengarah ke konten berbahaya atau phishing. Untuk meminimalkan risiko, penggunaan solusi keamanan siber dengan deteksi phishing berbasis AI sangat dianjurkan.
Lebih jauh lagi, survei ini mengungkap sisi lain dari penggunaan AI yang cukup menarik. Secara global, 29% pengguna AI mengaku mempertimbangkan untuk berbicara dengan AI saat merasa tidak bahagia. Angka ini bahkan lebih tinggi di Indonesia, yakni mencapai 31%. Artinya, AI mulai diposisikan sebagai teman bicara virtual ketika seseorang sedang menghadapi emosi negatif.
Minat terbesar terhadap dukungan emosional berbasis AI datang dari Generasi Z dan milenial. Sebanyak 35% responden dari kelompok usia ini memilih AI sebagai tempat berbagi perasaan. Sementara itu, minat dari generasi yang lebih tua relatif rendah. Hanya 19% responden berusia 55 tahun ke atas yang mempertimbangkan untuk berbicara dengan AI ketika sedang kesal atau sedih.
Meski interaksi dengan AI terasa personal, Kaspersky menegaskan bahwa pengguna perlu tetap waspada. Sebagian besar chatbot AI dimiliki oleh perusahaan komersial yang memiliki kebijakan tersendiri dalam mengumpulkan dan memproses data. Oleh sebab itu, pengguna disarankan untuk meninjau kebijakan privasi sebelum memulai percakapan, menghindari membagikan informasi pribadi atau keuangan, serta memilih layanan AI dari perusahaan yang memiliki reputasi baik dalam hal keamanan data.
Vladislav Tushkanov, Manajer Grup di Kaspersky AI Technology Research Center, menekankan pentingnya sikap kritis dalam menggunakan AI. Menurutnya, meski model bahasa besar atau LLM semakin canggih dalam berdialog, teknologi ini tetap belajar dari data internet yang tidak lepas dari bias dan kesalahan. Karena itu, pengguna disarankan untuk bersikap skeptis secara sehat dan tidak berbagi informasi secara berlebihan.
Sebagai catatan, survei ini dilakukan pada November 2025 dengan melibatkan 3.000 responden dari 15 negara, termasuk Indonesia. Hasilnya memperlihatkan bahwa AI bukan lagi sekadar teknologi pendukung, melainkan telah menjadi bagian dari kehidupan emosional masyarakat modern.