Titah Prabowo: Target 5.700 Desa Teraliri Listrik di 2026
Uptodai.com - Presiden terpilih Prabowo Subianto memberikan instruksi tegas mengenai percepatan program elektrifikasi nasional. Sebanyak 5.700 desa teraliri listrik harus tuntas dalam waktu dekat. Mandat ini menjadi prioritas utama pemerintah baru, mengingat pemerataan akses energi merupakan hak dasar seluruh warga negara Indonesia.
Titah tersebut disampaikan setelah Menteri Sekretaris Negara, Prasetyo Hadi, melaporkan mengenai progres dan tantangan yang dihadapi Kementerian ESDM. Laporan tersebut menyoroti bahwa masih ada ribuan komunitas pedesaan yang belum tersentuh jaringan listrik. Oleh karena itu, percepatan proyek ini menjadi fokus utama kabinet agar kesenjangan energi segera teratasi.
Urgensi Titah Presiden: Menghapus Kesenjangan Energi
Prasetyo Hadi menjelaskan bahwa isu 5.700 desa yang belum berlistrik merupakan salah satu perhatian utama yang disampaikan langsung oleh Presiden. Meskipun upaya elektrifikasi terus berjalan, laju penyelesaiannya dianggap perlu ditingkatkan secara drastis. Pemerintah menyadari betul bahwa tanpa listrik, pembangunan infrastruktur dan ekonomi digital di desa akan terhambat.
Data yang diterima istana menunjukkan adanya kemajuan yang dicapai pada periode sebelumnya. Sepanjang tahun 2025, upaya penyambungan listrik baru berhasil menjangkau sekitar 1.400 desa. Namun demikian, angka ini menyisakan pekerjaan rumah yang sangat besar dan mendesak bagi otoritas terkait.
Bahlil Lahadalia Ditargetkan Tuntaskan Misi Elektrifikasi
Presiden Prabowo secara spesifik meminta agar Menteri ESDM, Bahlil Lahadalia, segera mengambil langkah strategis yang lebih agresif. Beliau mendesak adanya percepatan agar sisa 5.700 desa dapat menikmati listrik sepenuhnya. Target yang dipatok sangat ambisius, yaitu seluruh desa tersebut harus sudah teraliri listrik pada akhir tahun 2026.
Permintaan percepatan ini mencerminkan komitmen pemerintah untuk mencapai Rasio Elektrifikasi (RE) 100 persen di seluruh wilayah Indonesia. Untuk mencapai target ini, sinergi antara Kementerian ESDM, PLN, dan pemerintah daerah harus diperkuat. Langkah-langkah inovatif diperlukan agar proyek ini tidak terhambat oleh birokrasi atau kendala geografis.
Tantangan Logistik dan Solusi Energi Terbarukan
Pekerjaan rumah untuk menyalurkan listrik ke 5.700 desa tentu tidak mudah mengingat lokasi desa-desa tersebut yang tersebar di berbagai pelosok nusantara. Banyak desa berada di wilayah terpencil dengan medan yang sulit, sehingga pemasangan jaringan konvensional menjadi sangat mahal dan memakan waktu. Ini menjadi tantangan logistik utama yang harus dipecahkan oleh tim di lapangan.
Untuk mengatasi kendala ini, PLN dan Kementerian ESDM kemungkinan akan mengandalkan solusi di luar jaringan listrik utama (off-grid). Salah satu opsi yang paling menjanjikan adalah pengembangan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) komunal atau Pembangkit Listrik Tenaga Mikro Hidro (PLTMH). Penggunaan energi terbarukan terpusat dinilai lebih cepat dan efisien untuk daerah yang sangat terisolasi.
Akses listrik yang merata memiliki dampak sosial dan ekonomi yang sangat besar. Ketika desa-desa ini teraliri listrik, aktivitas pendidikan, kesehatan, dan usaha mikro kecil menengah (UMKM) dapat berjalan lebih optimal. Dengan demikian, titah percepatan penyelesaian 5.700 desa teraliri listrik ini secara langsung akan meningkatkan kualitas hidup dan mendorong pertumbuhan ekonomi di wilayah pedesaan.