Uptodai.com - Ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat (AS) dan Venezuela yang kian memanas menjadi sorotan global. Konflik ini tidak hanya berkutat pada isu politik domestik Venezuela, tetapi juga berpotensi memengaruhi stabilitas pasar komoditas dunia.

Menteri Perdagangan (Mendag) Republik Indonesia akhirnya buka suara mengenai potensi risiko dan dampak konflik AS Venezuela perdagangan Indonesia. Pemerintah memastikan bahwa hingga saat ini, gejolak politik dan hukum di negara Amerika Latin tersebut belum memberikan gangguan signifikan terhadap aktivitas dagang bilateral.

Menurut Mendag, stabilitas hubungan dagang kedua negara tetap terjaga. Aktivitas ekspor dan impor berjalan normal, tanpa adanya perubahan drastis yang disebabkan oleh dinamika politik yang melibatkan sanksi dari AS dan penangkapan tokoh politik di Caracas.

Analisis Mendag: Mengapa Dampak ke RI Terbatas?

Ketika disinggung mengenai potensi eskalasi konflik yang bisa berkepanjangan, Mendag menjelaskan bahwa risiko yang dihadapi Indonesia relatif terbatas. Hal ini disebabkan oleh volume perdagangan antara Jakarta dan Caracas yang masih tergolong kecil dalam skala perdagangan nasional Indonesia.

Data menunjukkan bahwa total nilai perdagangan Indonesia dengan Venezuela pada tahun 2024 tercatat hanya sebesar US$69,2 juta. Angka ini merupakan porsi yang sangat kecil dibandingkan total perdagangan global Indonesia.

Menariknya, Indonesia justru mencatat surplus signifikan dalam hubungan dagang tersebut. Pada 2024, Indonesia berhasil membukukan surplus sebesar US$28,5 juta. Posisi surplus ini memberikan bantalan bagi Indonesia terhadap potensi guncangan ekonomi dari Venezuela.

Kinerja Perdagangan yang Resilien

Bahkan, kinerja perdagangan bilateral Indonesia-Venezuela menunjukkan tren positif di tengah ketidakpastian global. Berdasarkan data dari Kementerian Perdagangan, total perdagangan kedua negara pada periode Januari hingga November 2025 justru mengalami peningkatan tajam.

Nilai total perdagangan pada periode tersebut mencapai US$89,2 juta, atau naik sekitar 39,1% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Kenaikan ini didorong oleh kuatnya ekspor Indonesia ke Venezuela yang mencapai US$75,1 juta, sementara impor hanya US$14,1 juta.

Dengan demikian, Indonesia mencatatkan surplus yang semakin besar, mencapai US$60,9 juta pada periode tersebut. Angka ini membuktikan bahwa hubungan dagang bilateral memiliki ketahanan tersendiri, terlepas dari isu-isu geopolitik yang melibatkan Nicolas Maduro dan Washington.

Geopolitik Global dan Komoditas Strategis

Meskipun dampak bilateralnya terbatas, pemerintah mengakui bahwa konflik antara Amerika Serikat dan Venezuela harus dicermati dalam konteks geopolitik yang lebih luas. Venezuela, sebagai salah satu negara penghasil minyak terbesar di dunia, memiliki nilai strategis yang tinggi.

Ketegangan yang terjadi berpotensi memengaruhi stabilitas pasar komoditas global, terutama pada sektor minyak bumi dan energi. Jika terjadi disrupsi besar pada pasokan minyak Venezuela, hal itu dapat memicu lonjakan harga yang pada akhirnya akan berdampak pada rantai pasok dan arus perdagangan internasional secara umum.

Namun demikian, bagi Indonesia, Venezuela bukanlah mitra dagang utama ataupun pemasok komoditas esensial dalam jumlah besar. Oleh karena itu, meskipun ada potensi gejolak harga komoditas global, dampak langsung terhadap struktur perdagangan Indonesia dinilai sangat minimal.

Komoditas Utama yang Diperdagangkan

Struktur komoditas yang diperdagangkan juga menjadi alasan mengapa hubungan ini tidak terlalu sensitif terhadap krisis. Indonesia sebagian besar mengekspor produk manufaktur dan barang jadi ke Venezuela.

Ekspor utama Indonesia ke Venezuela mencakup produk seperti sabun dan preparat pembersih, kendaraan dan bagian-bagiannya, serat stapel buatan, pakaian jadi bukan rajutan, serta kertas dan karton. Ini menunjukkan Indonesia berperan sebagai penyuplai produk konsumen.

Di sisi lain, impor Indonesia dari Venezuela didominasi oleh bahan mentah atau semi-olahan. Komoditas impor utama meliputi kakao dan cokelat, sayuran, aluminium, jangat dan kulit mentah, serta bahan kimia organik. Ketergantungan Indonesia pada impor dari Venezuela dinilai rendah, sehingga potensi kerugian akibat sanksi atau ketidakstabilan pasokan dapat diminimalisir.

Secara keseluruhan, pemerintah mengambil sikap tenang. Dinamika politik dan hukum yang terjadi di Caracas, termasuk isu penangkapan tokoh politik, belum memberikan pengaruh nyata terhadap kinerja perdagangan Indonesia, baik dari sisi ekspor yang surplus maupun impor yang terkendali.