Uptodai.com - Deputi Menteri Purbaya Yudhi Sadewa optimistis terhadap prospek ekonomi nasional. Ia memaparkan strategi Purbaya dorong pertumbuhan ekonomi Indonesia hingga menyentuh angka 6% pada tahun 2026. Target ambisius ini didasarkan pada adanya momentum pembalikan ekonomi yang kuat dan terarah.

Purbaya menjelaskan bahwa keyakinan tersebut didukung oleh dua mesin pertumbuhan utama yang kini bergerak semakin sinkron. Kedua mesin yang dimaksud adalah sektor fiskal yang dikelola pemerintah dan sektor moneter yang diatur oleh bank sentral.

Strategi Purbaya: Sinkronisasi Fiskal dan Moneter

Sinkronisasi antara kebijakan fiskal pemerintah dan kebijakan moneter bank sentral menjadi kunci utama pencapaian target 6%. Purbaya menekankan bahwa kolaborasi yang lebih erat ini akan menghasilkan dampak ganda yang sangat signifikan bagi perekonomian.

“Saya mau dorong ke 6% semaksimal mungkin, dan kemungkinan besar bisa. Sekarang mudah lebih sinkron, sehingga ke depan mesin fiskal, mesin moneter, dan sektor swasta akan bertumbuh, bergerak lebih cepat, akan hidup semua,” ujarnya dalam konferensi pers APBN Kita 2025 di Kantor Kementerian Keuangan, Jakarta, Kamis (8/1/2026).

Sinergi kebijakan makro ini diharapkan mampu menggerakkan roda perekonomian domestik secara masif. Selain itu, sinkronisasi tersebut juga memberikan kepastian yang lebih besar bagi pelaku usaha untuk merencanakan investasi jangka panjang.

Memperbaiki Iklim Investasi Indonesia 2026

Selain sinkronisasi kebijakan makro, Purbaya juga menyoroti pentingnya perbaikan iklim investasi Indonesia 2026. Langkah ini krusial untuk menarik modal asing langsung (FDI) yang sangat dibutuhkan guna mempercepat pertumbuhan ekonomi.

Pemerintah kini berfokus mengupayakan pembenahan serius dalam hal kemudahan berbisnis. Salah satu inisiatif konkret yang dilakukan adalah pembentukan tim khusus debottlenecking.

Tim ini bertugas mempercepat penyelesaian berbagai hambatan dan masalah bisnis yang dihadapi investor atau perusahaan domestik. Bahkan, Purbaya membuka kanal pengaduan bisnis resmi untuk memproses masalah secara cepat dan transparan.

Tim Debottlenecking Tangani Puluhan Kasus

Upaya ini bukan sekadar janji, sebab sudah ada dua kasus bisnis yang menjalani sidang penyelesaian masalah melalui tim tersebut. Purbaya juga mengungkapkan bahwa saat ini terdapat 36 kasus lain yang sedang dalam antrian untuk ditangani oleh tim debottlenecking.

“Kemudian ke depan kita akan seperti itu terus. Perbaiki terus iklim investasi sehingga setiap hal yang mengganggu, akan kita tangani cepat mungkin,” jelasnya. Komitmen ini menunjukkan keseriusan pemerintah dalam membereskan birokrasi yang menghambat investasi dan aktivitas bisnis.

Purbaya lantas menceritakan salah satu kasus yang berhasil diselesaikan oleh timnya sebagai contoh konkret. Kasus tersebut melibatkan sebuah perusahaan tekstil swasta yang kesulitan mendapatkan pinjaman operasional dari bank.

Perusahaan kecil tersebut membutuhkan pinjaman sekitar Rp4 miliar, namun ditolak oleh perbankan. Menurut Purbaya, hal ini terjadi karena bank-bank tersebut lebih asyik menempatkan uang di instrumen lain yang dianggap kurang produktif bagi sektor riil.

“Kalau Anda ingat waktu kes yang pertama di P2SP itu adalah perusahaan kecil, pinjam uang Rp4 miliar saja enggak ada. Sekarang sudah kita perbaiki, harusnya ke depan begitu lagi,” tegas Purbaya. Pembenahan sektor keuangan ini bertujuan agar dana dapat disalurkan kembali ke sektor swasta yang membutuhkan, bukan hanya berputar di sektor finansial saja.

Indonesia Lebih Unggul dari Vietnam

Purbaya percaya bahwa jika perbaikan iklim investasi ini berjalan optimal, Indonesia akan menjadi magnet baru bagi investor global. Investor asing akan mulai masuk dan menanamkan modalnya di Tanah Air karena melihat keseriusan pemerintah dalam mengurus pertumbuhan domestik.

Keunggulan utama Indonesia dibandingkan pesaing regional seperti Vietnam adalah ukuran pasar domestik yang sangat besar. Pasar yang masif ini menjadi daya tarik alami yang sulit ditandingi oleh negara tetangga.

“Nanti kalau membaik terus ke depan, mereka akan mulai masuk. Dan kalau terapikan tadi investasinya, harusnya kita akan lebih menarik. Dan lebih menarik dari Vietnam, karena pasar kita juga besar,” imbuhnya.

Meskipun membuka pintu lebar-lebar bagi FDI, Purbaya memastikan bahwa investasi yang masuk akan diseleksi secara ketat. Hal ini penting untuk mencegah terjadinya kanibalisme terhadap perusahaan-perusahaan domestik yang sudah eksis, sehingga pertumbuhan ekonomi benar-benar dinikmati oleh semua pihak.