Uptodai.com - Dunia teknologi tengah menghadapi gelombang kejut yang dipicu oleh masifnya pengembangan Kecerdasan Buatan (AI). Sebagai dampaknya, Ledakan AI harga RAM global diprediksi akan meroket tajam, bahkan mencapai puncaknya hingga 55% dalam satu kuartal saja.

Lonjakan harga ini bukan sekadar fluktuasi pasar biasa. Riset dari TrendForce menunjukkan bahwa harga rata-rata Dynamic Random Access Memory (DRAM) global diproyeksikan naik antara 50% hingga 55% pada kuartal ini, dibandingkan dengan kuartal sebelumnya. Analis TrendForce, Tom Hsu, bahkan menyebut kenaikan ini sebagai fenomena yang “belum pernah terjadi sebelumnya” dalam industri memori.

Mengapa Harga Memori-RAM Global Melonjak Drastis?

Tiga pemain utama, yakni Micron, SK Hynix, dan Samsung Electronics, yang menguasai hampir seluruh pasar memori dunia, kini menjadi pihak yang paling diuntungkan dari situasi ini. Mereka kesulitan memenuhi permintaan yang melonjak drastis, terutama dari sektor AI.

Kepala Bisnis Micron, Sumit Sadana, mengungkapkan kepada CNBC di pameran dagang CES, bahwa lonjakan permintaan memori sangat tajam dan signifikan. Permintaan ini jauh melampaui kemampuan pasokan yang ada, bahkan melampaui kemampuan pasokan seluruh industri memori secara global.

Penyebab utama dari lonjakan permintaan ini adalah High Bandwidth Memory (HBM). HBM merupakan komponen penting yang mengelilingi Unit Pemrosesan Grafis (GPU) AI berdaya tinggi. Chip AI seperti yang diproduksi oleh Nvidia dan AMD sangat bergantung pada HBM untuk menjalankan komputasi yang intensif.

Permintaan Memori HBM yang Eksklusif

Produsen chip ternama seperti Nvidia melapisi bagian chip yang melakukan komputasi GPU dengan beberapa blok komponen khusus yang sangat cepat, yang disebut HBM. Memori jenis ini jauh lebih menuntut spesifikasi dibandingkan RAM konvensional yang digunakan pada laptop atau ponsel pintar konsumen.

Sebagai perbandingan, sebuah smartphone biasanya hanya dilengkapi dengan memori DDR berdaya rendah sebesar 8 atau 12 GB. Namun, memori HBM dirancang untuk spesifikasi bandwidth tinggi yang dibutuhkan oleh chip AI, memungkinkannya memproses data dalam jumlah besar dengan kecepatan luar biasa.

Pembuatan HBM melibatkan proses yang sangat rumit. Micron, misalnya, harus menumpuk 12 hingga 16 lapisan memori pada satu chip, mengubahnya menjadi sebuah “kubus” memori yang padat. Proses ini memakan sumber daya produksi yang besar dan eksklusif.

Ancaman Kelangkaan untuk Pasar Non-AI

Produksi HBM memiliki konsekuensi langsung terhadap ketersediaan memori konvensional. Sadana menjelaskan bahwa ketika Micron membuat satu bit memori HBM, mereka harus mengorbankan tiga bit memori konvensional untuk perangkat lain.

Rasio pengorbanan tiga banding satu ini berarti semakin banyak pasokan HBM yang ditingkatkan, semakin sedikit memori yang tersisa untuk bagian pasar non-HBM, seperti PC dan smartphone. Situasi ini secara otomatis menekan ketersediaan memori untuk perangkat konsumen, yang pada akhirnya ikut mendorong harga naik.

Bahkan Nvidia, yang kini menjadi pelanggan terbesar di pasar HBM, menunjukkan kebutuhan memori yang sangat besar. Misalnya, GPU Rubin Nvidia yang baru memasuki tahap produksi, hadir dengan memori HBM4 generasi berikutnya hingga 288 gigabyte per chip.

Permintaan raksasa ini membuat seluruh rantai pasok memori global bergeser fokus. Industri kini dipaksa untuk memprioritaskan HBM di atas segala jenis memori lainnya, memastikan bahwa lonjakan Ledakan AI harga RAM akan terus berlanjut hingga kapasitas produksi HBM dapat menyusul permintaan pasar.