Mengungkap Titik Terendah Hidup Ubay Nidji Sebelum Gabung Band
Uptodai.com - Muhammad Yusuf Nur Ubay, atau yang akrab disapa Ubay, baru-baru ini berbagi kisah perjuangan panjangnya meniti karier di dunia musik. Ia mengungkapkan secara terbuka mengenai fase paling sulit dan kelam dalam hidupnya, momen yang ia sebut sebagai Titik Terendah Hidup Ubay Nidji sebelum mencapai puncak karier.
Kisah inspiratif ini disampaikan Ubay saat sesi bincang-bincang santai yang digelar dalam rangka perayaan satu tahun album *Manifestasi Hati*. Acara tersebut berlangsung di salah satu lokasi ikonik, yakni rooftop Halte Transjakarta Tosari, Jakarta Pusat.
Menggantikan Legacy Giring Ganesha
Ubay mengakui bahwa ia tidak pernah sedikit pun membayangkan dirinya akan berada di posisi yang ia duduki saat ini. Perjalanannya bergabung dengan Nidji terasa seperti takdir yang datang tiba-tiba, apalagi mengingat beban besar yang harus ia pikul.
Ia harus melanjutkan tongkat estafet sekaligus warisan besar dari vokalis legendaris Nidji sebelumnya, Giring Ganesha. Keputusan Giring untuk hengkang dan terjun ke dunia politik meninggalkan kekosongan yang sangat besar, menuntut Ubay untuk mengisi peran tersebut dengan sempurna.
“Gue nggak pernah kepikiran sedikit pun bisa jadi vokalis Nidji,” ungkap Ubay, jujur mengakui bahwa peran ini adalah kejutan terbesar dalam hidupnya. Tekanan untuk mempertahankan kualitas dan popularitas band tentu bukan hal yang mudah.
Momen Paling Pahit di Tahun 2018
Dalam sesi bincang-bincang tersebut, Ubay mengajak para penggemar, yang dikenal sebagai Teman Nidji, untuk menengok kembali ke masa-masa sulit yang pernah ia hadapi. Menurutnya, Oktober 2018 menjadi bulan paling berat dan krusial dalam perjalanan hidupnya.
Tepat pada tanggal 16 Oktober 2018, Ubay harus menerima kenyataan pahit kehilangan sosok ayah tercinta untuk selama-lamanya. Kepergian sang ayah tidak hanya meninggalkan duka mendalam, tetapi juga memicu rasa kehilangan arah dalam menjalani hidup.
Meskipun diliputi kesedihan yang tak terperikan, Ubay mengaku masih menggenggam erat satu impian besar. Ia bertekad bahwa ia harus berhasil menjalani hidup sebagai musisi profesional, sebuah cita-cita yang sudah ia yakini sebagai jalan hidupnya.
“Di tengah kehilangan itu, gue masih punya mimpi: gimana caranya mimpi gue jadi musisi bisa berhasil. Karena kayaknya memang ini jalan hidup gue,” lanjutnya, menunjukkan betapa kuatnya tekad di tengah keterpurukan.
Doa sebagai Usaha Terakhir Ubay
Saat berada di ambang keputusasaan dan merasa semua usahanya sia-sia, Ubay menyebut bahwa doa menjadi pegangan terakhirnya. Ia memutuskan untuk benar-benar menyerahkan segalanya kepada Tuhan, mencari petunjuk di tengah kegelapan.
Ubay memohon agar diberikan jalan yang jelas dan dilancarkan rezekinya melalui jalur musik yang ia cintai. Ia pun menyampaikan permintaan tersebut dengan penuh keyakinan dan kepasrahan total.
“Terakhir gue minta tolong sama diri gue sendiri buat berdoa. Gue bilang ke Tuhan, kasih jalannya, tolong lancarkan, dan jadikan ini rezeki gue,” tuturnya, menggambarkan momen spiritual yang mengubah segalanya.
Munculnya Audisi Mari Cari Vokalis Nidji
Tak lama setelah memanjatkan doa yang tulus tersebut, semesta seolah merespons permintaannya. Sebuah pengumuman audisi besar tiba-tiba muncul di linimasa Instagram pribadinya. Pengumuman itu adalah audisi resmi untuk mencari vokalis baru Nidji.
Audisi bertajuk *Mari Cari Vokalis Nidji* tersebut berlangsung pada tahun 2018, tahun yang sama dengan momen titik terendahnya. Kemunculan pengumuman ini terasa seperti sebuah mukjizat dan jawaban atas doanya.
Ubay langsung merasa terpanggil dan melihat ini sebagai kesempatan emas yang tidak boleh dilewatkan. Ia menyadari bahwa inilah usaha terakhir yang harus ia perjuangkan dengan sepenuh hati setelah melalui berbagai fase sulit di Jakarta.
Sebelum mengikuti audisi yang mengubah nasibnya, Ubay memang sudah cukup lama berjuang dan menetap di ibu kota. Ia pernah mencoba peruntungan di ajang *Indonesian Idol*, berakting di sinetron FTV, bahkan menjalani pekerjaan serabutan seperti menjual jus di kios kecil demi menyambung hidup. Semua pengalaman pahit itu kini menjadi latar belakang berharga yang membentuk karakternya sebagai vokalis Nidji.