Uptodai.com - Ketegangan antara Teheran dan Washington kembali memuncak ke titik kritis. Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, secara terbuka menyatakan bahwa Iran siap perang lawan AS jika Amerika Serikat (AS) memilih opsi militer. Pernyataan tegas ini muncul di tengah gelombang demonstrasi antipemerintah yang meluas di berbagai kota Iran.

Peringatan keras dari Teheran tersebut merupakan respons langsung terhadap ancaman yang dilontarkan Presiden AS Donald Trump. Trump sebelumnya mengisyaratkan bahwa Washington sedang mempertimbangkan “tindakan keras” menyusul respons represif pemerintah Iran terhadap para demonstran yang menuntut perubahan sistemik.

Kesiapan Pertahanan Iran Meningkat Drastis

Dalam wawancara dengan Al Jazeera Arabic pada Senin (12/1/2026), Araghchi menekankan bahwa meskipun Iran tetap membuka jalur komunikasi dengan AS, negaranya telah menyiapkan segala kemungkinan terburuk. Ia mengklaim kemampuan pertahanan negara itu kini jauh lebih matang dan siap dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.

Araghchi bahkan secara terbuka menantang Washington untuk menguji kembali kekuatan militer Iran. “Jika Washington ingin menguji opsi militer yang sebelumnya sudah pernah diuji, kami siap menghadapinya,” tegasnya, merujuk pada konflik singkat yang pernah melibatkan Iran di masa lalu.

Pernyataan ini menunjukkan peningkatan kepercayaan diri militer Iran di tengah tekanan ekonomi dan politik global. Teheran tampaknya ingin mengirim pesan jelas bahwa ancaman militer tidak akan mengintimidasi mereka, melainkan justru memperkuat tekad untuk mempertahankan kedaulatan.

Opsi Keras Amerika Serikat dan Tuntutan Dialog

Di sisi lain, Presiden Donald Trump memang tidak menutup kemungkinan intervensi militer sebagai salah satu pilihan. Ia menyebut bahwa “opsi-opsi keras” sedang disiapkan terkait tindakan aparat Iran terhadap demonstrasi yang awalnya dipicu oleh kesulitan ekonomi.

Namun, menariknya, Trump juga mengungkapkan rencana untuk mengadakan pertemuan bilateral guna membahas program nuklir Iran yang menjadi sumber ketegangan utama. “Kami sedang menyiapkan pertemuan untuk bernegosiasi mengenai program nuklir, tetapi kami mungkin harus bertindak karena apa yang terjadi sebelum pertemuan itu,” ujar Trump.

Paradoks ini menunjukkan dilema yang dihadapi Washington: menyeimbangkan antara tekanan diplomatik untuk menghentikan program nuklir dan tekanan moral untuk menanggapi dugaan pelanggaran hak asasi manusia selama penanganan protes.

Menolak Diseret ke Perang Demi Kepentingan Pihak Lain

Meskipun menyatakan kesiapan tempur, Araghchi menyampaikan harapannya agar Amerika Serikat memilih jalur diplomasi yang bijak. Ia memperingatkan adanya pihak-pihak tertentu yang berupaya “menyeret Washington ke dalam perang” hanya demi melayani kepentingan negara lain.

Pernyataan ini secara implisit menunjuk Israel, yang sering dituding Iran sebagai dalang di balik upaya destabilisasi kawasan. Teheran meyakini bahwa ada agenda tersembunyi yang bertujuan memprovokasi konflik langsung antara Iran dan AS.

Korban Jiwa dan Tuduhan Terorisme di Balik Protes

Situasi domestik Iran memang semakin memanas. Protes yang berkembang menjadi tuntutan perubahan sistemik telah memicu bentrokan serius. Pemerintah Iran sendiri bersikeras bahwa kerusuhan tersebut diprovokasi oleh agen asing, khususnya Amerika Serikat dan Israel.

Pemerintah Iran terus mengulang klaim bahwa terdapat “unsur-unsur teroris” yang menyusup ke dalam kerumunan demonstran. Unsur-unsur ini dituduh menargetkan aparat keamanan dan bahkan demonstran damai, sehingga meningkatkan jumlah korban jiwa secara drastis.

Media resmi Iran melaporkan bahwa lebih dari 100 personel keamanan tewas dalam beberapa hari terakhir akibat bentrokan tersebut. Sementara itu, kelompok aktivis oposisi memberikan angka korban sipil yang jauh lebih tinggi, menunjukkan jurang perbedaan narasi yang signifikan antara Teheran dan pihak luar mengenai skala kekerasan yang terjadi.