Target 2 Juta Motor Listrik Ambyar, Penjualan 2025 Cuma 50 Ribu Unit
Uptodai.com - Ambisi pemerintah Indonesia untuk membanjiri jalanan dengan Target 2 Juta Motor Listrik pada tahun 2025 harus menghadapi kenyataan pahit di lapangan. Data terbaru menunjukkan bahwa mimpi besar elektrifikasi kendaraan roda dua tersebut kini terasa jauh panggang dari api.
Ironisnya, alih-alih meroket sesuai proyeksi, angka penetrasi kendaraan ramah lingkungan ini justru menunjukkan penurunan signifikan. Realisasi penjualan di pasar domestik hanya menyentuh angka puluhan ribu unit, menjadikannya kontributor kurang dari satu persen dari total pasar motor nasional.
Realisasi Penjualan Jauh dari Harapan Pasar
Berdasarkan catatan Asosiasi Industri Sepeda Motor Indonesia (AISI), total motor yang terjual di Indonesia mencapai lebih dari 6,4 juta unit. Namun, dari jumlah masif tersebut, segmen motor listrik hanya menyumbang sekitar 50 ribuan unit saja.
Angka ini dipertegas oleh data Sistem Registrasi Uji Tipe (SRUT) Kementerian Perhubungan, yang mencatat penjualan motor listrik sepanjang 2025 hanya mencapai 55.059 unit. Padahal, tahun sebelumnya, 2024, penjualan sempat menyentuh angka 77.078 unit.
Ini berarti terjadi penurunan tajam sebesar 28,6 persen dalam kurun waktu satu tahun. Jelas, realisasi Penjualan Motor Listrik 2025 ini sangat kontras jika dibandingkan dengan target ambisius Presiden yang sempat diutarakan Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita pada 2022 lalu.
Biang Kerok di Balik Penurunan Drastis
Penyebab utama ambyarnya target ini diyakini adalah ketidakpastian kebijakan insentif dari pemerintah. Drama ‘tarik ulur’ terkait subsidi motor listrik menjadi faktor penentu yang membuat konsumen menahan diri dan enggan melakukan pembelian.
Ketika wacana subsidi sebesar Rp 7 juta muncul ke permukaan, lalu kemudian lenyap tanpa kepastian implementasi yang jelas, banyak calon pembeli memilih untuk bersikap wait and see. Kondisi ini menciptakan kekosongan permintaan yang signifikan dan menghambat pertumbuhan pasar.
Situasi ini diperparah dengan proses birokrasi yang dianggap rumit bagi sebagian masyarakat untuk mengakses insentif tersebut. Meskipun tujuan insentif baik, implementasi yang kurang mulus membuat dorongan elektrifikasi menjadi tumpul.
Sikap Produsen: Mandiri Tanpa Sokongan Dana Negara
Meskipun menghadapi pasar yang lesu dan kebijakan insentif yang tidak pasti, para produsen yang tergabung dalam AISI menegaskan komitmen mereka. Head of PR AISI, Ahmad Muhibbuddin, menyatakan bahwa anggota asosiasi akan tetap memasarkan kendaraan listrik (EV).
Mereka menyambut baik jika insentif diberikan, namun tidak menjadikannya sebagai satu-satunya tumpuan. Insentif dipandang sebagai alat untuk meningkatkan penjualan, bukan sebagai penentu keberlangsungan industri.
Strategi Baru Pabrikan Kendaraan Energi Baru
Di sisi lain, Asosiasi Industri Sepeda Motor Listrik Indonesia (AISMOLI) mengambil sikap yang lebih tegas terhadap dinamika pasar ini. Ketua AISMOLI, Budi Setiyadi, bahkan menyatakan bahwa asosiasi sudah tidak lagi mengharapkan kebijakan subsidi dari pemerintah.
Menurut Budi, industri harus bersiap untuk mandiri. Situasi ini memaksa pabrikan motor listrik untuk memutar otak, mencari terobosan, dan mengembangkan strategi pemasaran baru agar tetap eksis di pasar otomotif nasional tanpa harus bergantung pada sokongan dana negara.
Oleh karena itu, pabrikan kini didorong untuk fokus pada inovasi teknologi, peningkatan kualitas produk, dan penawaran harga yang kompetitif. Tujuannya adalah membangun kepercayaan konsumen secara organik, lepas dari kebijakan populis yang sifatnya sementara.
Realita 55 ribu unit penjualan ini menjadi pengingat keras bahwa mencapai Target 2 Juta Motor Listrik di 2025 kini hanyalah pepesan kosong. Fokus industri kini beralih dari mengejar kuantitas yang didorong insentif, menjadi membangun fondasi pasar yang kuat dan berkelanjutan.