HP China Tergeser, Apple Kembali Jadi Raja Smartphone Dunia Terbaru
Uptodai.com - Dinamika persaingan di pasar ponsel pintar global kembali bergejolak sepanjang tahun 2025. Data terbaru dari firma riset terkemuka, Counterpoint, menunjukkan bahwa pasar global mencatat kenaikan signifikan sebesar 2% secara tahunan (YoY), dan kini telah memunculkan Raja Smartphone Dunia Terbaru.
Peningkatan ini sebagian besar didorong oleh strategi pemasaran yang lebih agresif, adopsi masif perangkat 5G di pasar negara berkembang, serta opsi pembelian yang semakin memudahkan konsumen. Tren yang paling mencolok adalah pergeseran minat konsumen yang secara konsisten mengarah ke segmen premium atau ponsel dengan harga yang lebih tinggi.
Pertumbuhan Pasar Smartphone 2025 Didominasi Segmen Premium
Senior Analyst Counterpoint, Shilpi Jain, menjelaskan bahwa sepanjang 2025, pasar smartphone melanjutkan tren yang cenderung mengarah ke segmen dengan harga lebih tinggi. Hal ini terjadi karena konsumen memutuskan untuk melakukan peningkatan (upgrade) ke perangkat yang memiliki spesifikasi lebih premium.
Fenomena ini menunjukkan bahwa pengguna tidak lagi mencari ponsel murah, melainkan perangkat yang menawarkan daya tahan, fitur inovatif, dan pengalaman pengguna yang lebih baik. Konsumen kini lebih memilih menunda pembelian, namun menargetkan produk flagship dari merek-merek ternama.
Di sisi lain, para produsen sempat menghadapi tekanan besar akibat kebijakan tarif yang digaungkan oleh pemerintahan Amerika Serikat (AS) pada awal 2025. Namun, dampak kebijakan tersebut perlahan menyusut seiring perkembangan dinamika geopolitik dan strategi cerdas dari pabrikan smartphone untuk meredam efek tarif tersebut.
Pertumbuhan pasar smartphone global juga tidak merata. Beberapa kawasan seperti Jepang, Timur Tengah, Afrika, dan sejumlah negara Asia menunjukkan pertumbuhan yang sangat signifikan. Kawasan-kawasan ini berhasil mengimbangi kinerja pasar di negara-negara yang sudah lebih dulu matang, yang cenderung stagnan.
Apple Kembali Merebut Takhta Raja Smartphone Dunia Terbaru
Momen peluncuran seri iPhone 17 menjadi titik balik krusial bagi Apple, yang berhasil bangkit kembali dan merebut gelar Raja Smartphone Dunia Terbaru. Apple mencatat pertumbuhan impresif sebesar 10% YoY sepanjang 2025, dengan pangsa pasar (market share) yang kini mencapai 20%.
Pencapaian ini sekaligus membalikkan keadaan setelah seri iPhone 16 sempat menjadi periode “tiarap” bagi raksasa teknologi asal Cupertino tersebut. Kala itu, Apple dinilai minim inovasi, menunda peluncuran fitur AI andalannya, Apple Intelligence, dan menghadapi persaingan ketat dari HP Android yang semakin inovatif.
Senior Analyst Counterpoint, Varun Mishra, menegaskan bahwa pertumbuhan Apple di tahun 2025 didorong oleh ekspansi yang efektif dan permintaan yang melonjak di negara-negara berkembang. Strategi ini didukung oleh portofolio produk yang lebih kuat dan beragam, menjangkau berbagai segmen harga.
Samsung dan Tekanan Berat Pabrikan China
Samsung, yang sebelumnya memegang takhta sebagai ‘raja’ HP dunia pada tahun 2024, kini terpaksa harus lengser ke posisi kedua. Kendati demikian, Samsung tetap menunjukkan kinerja yang solid dengan mempertahankan pertumbuhan positif stabil sebesar 5%, menguasai 19% dari total pangsa pasar global.
Keberhasilan Apple dan Samsung mendominasi dua posisi puncak membuktikan bahwa tren pasar kini memang berpihak pada segmen smartphone premium. Kedua perusahaan ini dikenal sebagai penguasa utama di pasar perangkat flagship yang berharga tinggi.
Sebaliknya, pabrikan HP China pelan-pelan mulai tergeser dari posisi dominan mereka. Xiaomi, yang berada di posisi ketiga, mencatat kinerja stagnan dengan pangsa pasar 13%, sedikit menurun dibandingkan capaian mereka pada tahun 2024 yang mencapai 14%.
Vivo, yang menempati posisi keempat, sejatinya mencatat pertumbuhan tipis sebesar 3% YoY. Namun, pangsa pasar mereka tetap tidak berubah dari tahun sebelumnya, yakni 8%. Sementara itu, Oppo, yang telah menunjukkan kinerja lesu dalam beberapa kuartal terakhir, kembali mencatat tekanan yang signifikan. Ini mengindikasikan bahwa fokus pasar telah beralih, dan merek-merek yang terlalu bergantung pada segmen menengah mulai kesulitan bersaing.