Uptodai.com - Fenomena penurunan kadar oksigen air di berbagai belahan dunia kini tengah berada pada titik yang sangat mengkhawatirkan. Laporan ilmiah terbaru dalam jurnal Limnology and Oceanography mengungkapkan bahwa krisis lingkungan ini luput dari perhatian sebagian besar masyarakat global. Padahal, penurunan kualitas udara di dalam air ini mengancam kelangsungan seluruh rantai makanan di Bumi.

Ada tiga faktor utama yang memicu terjadinya deoksigenasi perairan akibat aktivitas destruktif manusia. Pertama, pemanasan global secara drastis menurunkan kemampuan air dalam mengikat oksigen, di mana setiap kenaikan suhu satu derajat Celcius mengurangi kapasitas simpan sebesar dua persen. Kedua, pencemaran limbah rumah tangga dan pupuk pertanian memicu ledakan populasi alga beracun yang mengonsumsi oksigen saat membusuk.

Faktor ketiga adalah terganggunya sirkulasi alami akibat terbentuknya lapisan air hangat di permukaan laut yang menghalangi oksigen turun ke dasar. Fenomena stratifikasi ini membuat wilayah laut dalam menjadi zona mati yang minim kehidupan. Akibatnya, biota laut yang menetap di dasar perairan perlahan mati lemas karena kehabisan pasokan udara.

Dampak Nyata Terhadap Ketahanan Pangan Global

Kondisi ini tidak hanya merusak ekosistem laut, tetapi juga mengancam sektor perikanan global yang menjadi tumpuan hidup miliaran manusia. Ketika populasi ikan dan kepiting menyusut drastis, para nelayan lokal akan kehilangan mata pencaharian mereka secara instan. Krisis pangan akut pun membayangi negara-negara berkembang yang sangat bergantung pada komoditas laut sebagai sumber protein utama.

Selain itu, mamalia laut seperti lumba-lumba dan paus juga terkena dampak tidak langsung yang sangat signifikan. Mereka terpaksa bermigrasi lebih jauh demi mencari mangsa yang berpindah ke wilayah perairan yang lebih dingin dan kaya oksigen. Perubahan rute migrasi ini meningkatkan risiko tabrakan dengan kapal dagang serta memicu penurunan angka reproduksi mamalia tersebut.

Para ilmuwan kini mendesak agar parameter oksigen air segera dimasukkan ke dalam daftar planetary boundary atau batas aman kelayakan Bumi. Saat ini, ancaman deoksigenasi telah berinteraksi erat dengan pengasaman laut dan kepunahan massal berbagai spesies laut. Jika ambang batas kritis ini terlampaui, kerusakan ekosistem global berpotensi menjadi permanen dan tidak dapat dipulihkan.

Lingkaran Setan Pelepasan Gas Rumah Kaca

Ketika perairan kehilangan oksigen, mikroba anaerobik akan mendominasi dan melepaskan gas metana serta dinitro oksida ke atmosfer. Kedua gas ini memiliki efek rumah kaca yang jauh lebih kuat daripada karbon dioksida dalam mempercepat pemanasan global. Akibatnya, suhu Bumi akan semakin memanas, memicu penurunan oksigen yang lebih parah di masa depan.

Meskipun lautan tidak akan kehabisan oksigen sepenuhnya dalam waktu dekat, arah pergerakan ekosistem saat ini sudah sangat mengkhawatirkan. Memperbaiki kerusakan lingkungan ini membutuhkan waktu ratusan tahun, jauh lebih lama dari sisa waktu yang dimiliki manusia untuk bertindak. Langkah mitigasi ekstrem harus segera diambil sebelum seluruh rantai kehidupan di Bumi benar-benar runtuh.