Uptodai.com - Kisah tragis menimpa seorang pemuda asal Inggris bernama Alex Yarham. Di usia yang masih sangat belia, 24 tahun, pria muda meninggal demensia setelah didiagnosis mengidap kondisi neurodegeneratif yang biasanya menyerang lansia.

Kasus ini menjadi sorotan dunia medis karena demensia, terutama dalam bentuk yang parah, sangat jarang terjadi pada kelompok usia dewasa muda. Kondisi otak Yarham, berdasarkan hasil pemindaian MRI, menunjukkan kemunduran yang mengejutkan, menyerupai otak orang berusia 70 tahun.

Mengapa Demensia Bisa Menyerang Usia 24 Tahun?

Demensia umumnya diidentikkan dengan penyakit orang tua. Namun, dalam beberapa kasus langka, demensia dapat muncul sangat dini, bahkan berkembang dengan sangat cepat. Yarham didiagnosis mengidap Demensia Frontotemporal (DFT) atau Frontotemporal Dementia (FTD).

FTD merupakan jenis demensia yang berbeda dari Alzheimer. Jika Alzheimer cenderung menyerang fungsi memori atau ingatan terlebih dahulu, FTD secara spesifik menargetkan area otak yang mengatur kepribadian, perilaku, dan kemampuan berbahasa.

Area-area vital ini terletak di lobus frontal (belakang dahi) dan lobus temporal (di atas telinga). Bagian otak ini bertanggung jawab atas kemampuan kita untuk merencanakan sesuatu, mengendalikan dorongan impulsif, serta memahami dan mengekspresikan ucapan.

Gejala awal yang ditunjukkan Yarham pada tahun 2022 cukup halus, ia mulai sering lupa dan terkadang menunjukkan ekspresi kosong di wajahnya. Namun, kemunduran terjadi sangat cepat. Pada tahap akhir kehidupannya, ia kehilangan kemampuan berbicara, tidak lagi bisa merawat diri sendiri, dan terpaksa terikat di kursi roda.

Perbedaan FTD dengan Alzheimer dan Dampaknya

Kerusakan pada lobus frontal dan temporal dapat menyebabkan perubahan perilaku yang sangat menyedihkan bagi keluarga. Penderita FTD bisa menjadi sangat pendiam, atau sebaliknya, menjadi impulsif dan menunjukkan perilaku yang tidak pantas di mata sosial.

FTD sendiri merupakan bentuk demensia yang kurang umum, diperkirakan hanya terjadi pada sekitar satu dari 20 kasus demensia. Yang menjadikannya sangat kejam adalah potensi penyakit ini untuk muncul pada usia dewasa muda, bahkan remaja.

Demensia frontotemporal genetik sering kali memiliki komponen keturunan yang kuat. Para peneliti menemukan bahwa mutasi genetik tertentu berperan besar dalam mempercepat kerusakan otak pada pasien muda.

Peran Mutasi Genetik dalam Percepatan Kerusakan Otak

Dalam banyak kasus FTD, perubahan pada gen tertentu mengganggu proses alami sel otak dalam menangani protein. Normalnya, protein yang tidak terpakai akan dipecah dan didaur ulang oleh sel.

Namun, akibat mutasi genetik ini, protein tersebut gagal dipecah dan justru menggumpal di dalam neuron atau sel otak. Gumpalan protein yang menumpuk ini secara bertahap mengganggu kemampuan neuron untuk berfungsi dan bertahan hidup.

Seiring waktu, sel-sel otak yang terpengaruh berhenti bekerja dan akhirnya mati. Ketika semakin banyak sel yang hilang, jaringan otak itu sendiri akan menyusut drastis, menyebabkan gejala demensia yang parah.

Meskipun mekanisme pasti mengapa proses ini bisa dimulai begitu dini dalam kehidupan belum sepenuhnya dipahami, adanya mutasi genetik yang kuat diyakini menjadi pemicu utama. Mutasi tersebut memungkinkan kerusakan otak berakselerasi, menembus pertahanan dan ketahanan otak yang biasanya dimiliki oleh orang muda.

Oleh karena itu, kasus seperti yang dialami Yarham menjadi pengingat penting bagi komunitas medis untuk meningkatkan kesadaran akan demensia onset dini dan pentingnya skrining genetik bagi keluarga yang memiliki riwayat penyakit neurodegeneratif ini.