Kekalahan Xabi Alonso di Real Madrid, Akhir Tragis Sang Pelatih
Uptodai.com - Keputusan pahit harus diterima oleh Xabi Alonso setelah periode singkatnya menukangi Real Madrid. Momen Kekalahan Xabi Alonso di Real Madrid pada ajang Piala Super Spanyol 2026 menjadi titik balik yang mengakhiri masa jabatannya di Santiago Bernabeu.
Meskipun perjalanan profesionalnya tidak berjalan sesuai harapan, pelatih asal Spanyol tersebut memilih untuk berpamitan dengan kepala tegak. Ia menegaskan bahwa kepergiannya didasari rasa bangga karena telah memberikan seluruh upaya terbaiknya kepada klub raksasa tersebut.
Final Piala Super Spanyol: Pemicu Akhir Karier Alonso
Manajemen Real Madrid mengambil keputusan tegas tak lama setelah Los Blancos takluk 2-3 dari rival abadi mereka, Barcelona. Pertandingan final Piala Super Spanyol 2026 di Riyadh itu menjadi klimaks dari serangkaian hasil minor yang telah menggerogoti kepercayaan klub.
Kekalahan dari Blaugrana bukan sekadar hasil buruk biasa, melainkan simbol kegagalan Alonso mengamankan gelar pertama musim itu. Apalagi, performa tim memang menunjukkan tren menurun drastis sejak memasuki bulan November tahun sebelumnya.
Statistik mencatat bahwa dari 14 pertandingan yang dijalani, Real Madrid hanya mampu mengantongi tujuh kemenangan saja. Kondisi ini secara langsung membuat mereka kehilangan posisi puncak klasemen Liga Spanyol, yang kemudian diambil alih oleh Barcelona.
Kehilangan Kontrol Ruang Ganti dan Ekspektasi Tinggi
Selain faktor hasil di lapangan, rapor merah Alonso juga dipengaruhi oleh isu internal yang sensitif. Kabar yang beredar menyebutkan bahwa sang pelatih mulai kehilangan kendali atas dinamika ruang ganti tim yang dipenuhi bintang-bintang besar.
Perseteruan yang intens dengan beberapa pemain kunci disebut-sebut menjadi alasan utama manajemen harus bertindak cepat. Stabilitas tim dianggap jauh lebih penting daripada mempertahankan pelatih yang gagal meredam gejolak internal tersebut.
Padahal, Alonso datang ke Madrid dengan ekspektasi setinggi langit setelah sukses besar bersama Bayer Leverkusen di Bundesliga. Sayangnya, mantan gelandang legendaris Liverpool dan Madrid ini gagal menerjemahkan ekspektasi tersebut menjadi prestasi nyata selama tujuh bulan kepemimpinannya.
Alonso Buka Suara: Pergi dengan Rasa Bangga
Melalui akun media sosial pribadinya, Xabi Alonso menyampaikan pesan perpisahan yang menyentuh. Ia mengakui bahwa fase profesionalnya di Madrid telah usai, meskipun hasil akhirnya tidak sesuai dengan apa yang ia inginkan saat memulai tugasnya.
“Fase profesional saya sudah selesai, dan tidak berakhir seperti yang kita inginkan. Melatih Real Madrid merupakan kehormatan dan tanggung jawab besar,” tulis Alonso dalam unggahan perpisahannya, Rabu (16/1/2026).
Ia menambahkan rasa terima kasih yang mendalam kepada seluruh elemen klub, termasuk para pemain, dan khususnya kepada penggemar Madrid. Alonso menekankan bahwa ia pergi dengan perasaan bangga, hormat, dan puas karena sudah berusaha semaksimal mungkin sejak didatangkan Mei lalu.
Selama menukangi Real Madrid, Alonso mencatatkan 24 kemenangan, empat hasil imbang, dan enam kekalahan di semua kompetisi. Meskipun harus meninggalkan Bernabeu dengan catatan yang kurang memuaskan, Alonso memilih untuk tidak menyimpan dendam dan tetap mengapresiasi kesempatan berharga tersebut.