Peneliti UI Ungkap Alasan Konsumen Beralih ke Mobil Bekas
Uptodai.com - Penjualan mobil baru di Indonesia mengalami stagnasi dalam beberapa tahun terakhir, dan hasil studi terbaru dari akademisi mengungkap Alasan Konsumen Beralih ke Mobil Bekas. Kondisi ini dipicu oleh tekanan ekonomi yang nyata dan pelemahan daya beli masyarakat yang tidak mampu mengejar kenaikan harga kendaraan.
Isu mengenai keterjangkauan atau affordability kini menjadi sorotan utama di pasar otomotif nasional. Para calon pembeli semakin mempertimbangkan unit bekas sebagai solusi paling realistis di tengah ketidakpastian ekonomi global dan domestik.
Kesenjangan Daya Beli Memicu Perpindahan ke Mobil Bekas
Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat, Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (LPEM FEB UI), menyoroti isu keterjangkauan sebagai masalah paling krusial di pasar otomotif saat ini. Peneliti LPEM FEB UI, Syahda Sabrina, menjelaskan bahwa target penjualan mobil baru seringkali tidak tercapai karena adanya kesenjangan daya beli yang signifikan.
Syahda mengungkapkan bahwa kemampuan finansial rumah tangga tidak tumbuh secepat lonjakan harga mobil yang terjadi dalam beberapa tahun terakhir. Fenomena ini tercermin dari data pertumbuhan pendapatan dan upah riil yang tertinggal jauh dibandingkan tingkat inflasi dan harga unit kendaraan di pasaran.
Harga Mobil Baru Jauh Meninggalkan Kenaikan Upah Riil
Apabila dicermati lebih mendalam, kenaikan income rumah tangga tidak sebanding dengan pertumbuhan harga mobil baru yang terus melambung. Kondisi serupa terjadi pada upah riil yang peningkatannya tidak mampu mengimbangi laju inflasi secara keseluruhan.
Indikasi ini menunjukkan adanya jurang lebar antara harga mobil yang ditawarkan produsen dan kemampuan beli riil yang dimiliki oleh mayoritas rumah tangga di Indonesia. Akibatnya, konsumen secara alamiah didorong untuk memilih opsi yang lebih terjangkau, yaitu pasar mobil bekas.
Faktor harga yang semakin tidak terjangkau ini membuat pasar mobil bekas terus tumbuh dan menjadi pilihan utama. Bahkan, pasar mobil bekas kini dianggap sebagai barometer baru bagi kesehatan daya beli masyarakat di sektor otomotif.
Dua Pertiga Konsumen Awalnya Ingin Beli Mobil Bekas
Kecenderungan konsumen untuk memilih mobil bekas dikuatkan oleh hasil survei yang dilakukan oleh LPEM FEB UI. Survei tersebut melibatkan 1.511 orang calon pembeli mobil yang berencana melakukan transaksi dalam lima tahun ke depan.
Dari total responden tersebut, mayoritas menyatakan preferensi awal mereka jatuh pada mobil bekas. Syahda memaparkan bahwa sekitar 962 orang atau hampir dua pertiga responden menyatakan minat awal untuk membeli mobil bekas, bukan unit baru.
Preferensi yang kuat ini muncul karena harga mobil baru dianggap semakin tidak rasional jika dibandingkan dengan kemampuan finansial mereka. Konsumen merasa bahwa selisih harga yang ditawarkan mobil bekas memberikan nilai lebih, terutama di tengah ketidakpastian ekonomi.
Simulasi Harga: Kunci Mengembalikan Konsumen Mobil Baru
Meskipun pasar mobil bekas mendominasi, hasil survei LPEM FEB UI juga memberikan petunjuk penting bagi para produsen mobil baru. Sebagian konsumen ternyata masih memiliki keinginan untuk beralih ke mobil baru, asalkan selisih harga dapat dipersempit secara signifikan.
Syahda menjelaskan, timnya melakukan simulasi skenario penurunan harga mobil baru sebesar 10 persen. Hasilnya sangat mengejutkan, di mana sekitar 27 persen dari 962 calon pembeli mobil bekas menyatakan bersedia untuk beralih ke unit baru.
Temuan ini menegaskan bahwa harga merupakan faktor kunci yang sangat sensitif dalam keputusan pembelian. Apabila produsen mampu memberikan insentif harga yang memadai, atau menawarkan diskon substansial, potensi pasar mobil baru untuk kembali bergairah sangat terbuka lebar. Selisih harga yang lebar antara mobil baru dan mobil bekas selama ini menjadi tembok penghalang utama bagi pertumbuhan penjualan unit baru.