Terobosan! Google Rancang Baterai Udara CO2 Google untuk Data Center
Uptodai.com - Raksasa teknologi global, Google, kini mengalihkan fokusnya dari baterai lithium-ion konvensional menuju inovasi yang lebih radikal. Perusahaan tersebut tengah serius mengembangkan Baterai Udara CO2 Google, sebuah sistem penyimpanan energi yang memanfaatkan karbon dioksida.
Langkah ambisius ini dilakukan melalui kerja sama dengan Energy Dome, sebuah perusahaan yang dinilai Google memiliki pendekatan yang paling tepat untuk mengatasi masalah fundamental dalam transisi energi hijau. Tujuan utamanya adalah menciptakan solusi penyimpanan listrik yang terstandardisasi dan dapat diterapkan secara luas.
Mekanisme Kerja ‘Kubah Energi’ Raksasa
Teknologi yang dikembangkan Energy Dome, dan kini didukung penuh oleh Google, berpusat pada pembangunan fasilitas penyimpanan listrik dalam kubah raksasa. Kubah tersebut diisi oleh gas karbon dioksida (CO2) yang dikompresi, berfungsi layaknya baterai raksasa.
Ainhoa Anda dari Google menjelaskan bahwa aspek standardisasi merupakan kunci utama yang mereka sukai dari teknologi ini. Sistem penyimpanan energi Google ini dirancang agar dapat digunakan secara “plug and play” atau siap pakai, sehingga mempermudah integrasi ke berbagai jenis pembangkit listrik.
Cara kerjanya cukup unik. Ketika ada kelebihan energi yang dihasilkan dari pembangkit listrik hijau—seperti saat matahari bersinar terik atau angin bertiup kencang—energi tersebut digunakan untuk mengompresi gas CO2 di dalam kubah. Energi kini tersimpan dalam bentuk tekanan gas.
Saat listrik dibutuhkan kembali, gas CO2 yang terkompresi akan dilepaskan. Pelepasan gas ini kemudian memutar turbin untuk menghasilkan listrik kembali. Proses ini memungkinkan energi terbarukan yang biasanya tidak stabil, dapat disimpan dan digunakan sesuai permintaan.
Keunggulan Solusi Penyimpanan Energi Google
Salah satu motivasi terbesar Google dalam mendukung proyek ini adalah untuk menutup celah ketidakstabilan proses pembangkitan energi terbarukan. Pembangkit listrik tenaga surya dan angin seringkali menghasilkan energi secara intermiten, bergantung pada kondisi cuaca.
Fasilitas yang dibangun oleh Energy Dome diklaim memiliki kapasitas penyimpanan yang sangat besar, mencapai 200 MWh listrik. Jumlah ini diperkirakan cukup untuk memasok kebutuhan listrik bagi sekitar 6.000 rumah tangga.
Tidak Butuh Mineral Tanah Jarang
Keunggulan krusial dari Baterai Udara CO2 Google ini adalah kemampuannya beroperasi tanpa memerlukan bahan baku tambahan yang mahal dan langka. Sistem ini sama sekali tidak membutuhkan mineral tanah jarang, komponen yang sangat penting dalam pembuatan baterai konvensional saat ini, termasuk baterai kendaraan listrik (EV).
Ketergantungan pada mineral langka seringkali menimbulkan masalah rantai pasok dan isu geopolitik. Dengan menghilangkan kebutuhan tersebut, teknologi penyimpanan energi berbasis CO2 ini menawarkan solusi yang lebih berkelanjutan dan mudah diproduksi secara massal.
Target Penerapan Global untuk Data Center
Google berencana mengaplikasikan teknologi revolusioner ini untuk membangun fasilitas penyimpanan listrik di pusat data (data center) utama mereka di seluruh dunia. Target utamanya mencakup wilayah Eropa, Amerika Serikat (AS), hingga Asia Pasifik.
Prototipe fasilitas penyimpanan energi terbarukan tanpa mineral ini tengah dibangun di atas lahan seluas 5 hektare di Sardinia, Italia. Apabila uji coba di Sardinia berjalan sukses sesuai harapan, fasilitas tersebut akan segera diterapkan di berbagai lokasi strategis.
Beberapa lokasi yang telah diincar untuk implementasi berikutnya termasuk India dan Amerika Serikat. Google secara aktif mencari lokasi yang sudah memiliki infrastruktur jaringan listrik yang memadai dan memiliki surplus energi terbarukan.
Dengan begitu, pusat data Google dapat langsung mengambil pasokan listrik dari baterai CO2 yang dikembangkan. Ini merupakan langkah signifikan Google untuk mencapai target operasional bebas karbon 24/7.