Uptodai.com - Ketegangan perdagangan di Amerika Utara memanas setelah Kanada mengambil langkah mengejutkan terkait impor kendaraan listrik (EV) dari Tiongkok. Keputusan Ottawa membuka kuota terbatas bagi Mobil Listrik China di Kanada memicu kemarahan besar dari Washington, yang menilai kebijakan tersebut sebagai blunder strategis.

Pemerintah Amerika Serikat (AS) secara terbuka menyuarakan kekecewaannya, khawatir bahwa akses yang diberikan Kanada akan menjadi “pintu belakang” bagi produsen Tiongkok untuk mengancam industri otomotif AS yang tengah berjuang. Peringatan keras pun dilayangkan, menegaskan bahwa kendaraan-kendaraan tersebut haram melintasi perbatasan ke selatan.

Washington Anggap Keputusan Ottawa Kesalahan Strategis

Menteri Transportasi AS, Sean Duffy, menjadi salah satu pejabat yang paling vokal mengkritik kebijakan tersebut. Dalam sebuah acara di pabrik Ford di Ohio, Duffy menyatakan bahwa Ottawa akan segera menyesali langkah yang telah mereka ambil.

Duffy menilai bahwa Kanada seharusnya mengikuti jejak AS yang telah memberlakukan tarif tinggi untuk melindungi pasar domestik dan pekerja otomotif mereka. “Saya pikir mereka akan meninjau kembali keputusan ini dan pasti menyesal telah membawa mobil China ke pasar mereka,” ujar Duffy, dikutip dari laporan media internasional, Sabtu (17/1/2026).

Keputusan Kanada ini terasa kontradiktif mengingat pada tahun 2024, Ottawa sempat mengikuti langkah AS dengan memberlakukan tarif sebesar 100% pada EV China. Namun, kebijakan terbaru justru mengizinkan masuknya hingga 49.000 unit EV China ke pasar mereka, sebuah angka yang langsung memicu alarm di Washington.

Kekhawatiran ‘Pintu Belakang’ dan Tarif Balasan AS

Kekhawatiran utama AS adalah potensi kendaraan Tiongkok memanfaatkan perjanjian dagang Amerika Utara (USMCA) untuk mendapatkan pijakan yang lebih luas di benua tersebut. Washington secara tegas menyatakan tidak akan membiarkan hal itu terjadi, terutama setelah AS sendiri telah menaikkan tarif impor EV China secara drastis.

Perwakilan Perdagangan AS (USTR), Jamieson Greer, menyebut keputusan Kanada tersebut “problematis” bagi hubungan dagang kedua negara. Meskipun Greer meyakini jumlah yang terbatas itu tidak akan mengganggu ekspor mobil AS ke Kanada, ia memastikan bahwa mobil-mobil impor Tiongkok tersebut tidak akan pernah melintasi perbatasan ke AS.

“Mobil-mobil itu pergi ke Kanada dan mereka tidak akan datang ke sini (AS). Ada alasan mengapa kami tidak menjual banyak mobil China di AS. Itu karena kami memiliki tarif untuk melindungi pekerja otomotif dan warga Amerika,” tegas Greer, menjelaskan kebijakan protektif yang diterapkan negaranya.

Keputusan Kanada ini disinyalir merupakan bagian dari kesepakatan dagang yang lebih luas dengan Beijing. Perdana Menteri Kanada, Mark Carney, dikabarkan mengharapkan China akan menurunkan tarif pada biji kanola (canola seed) menjadi sekitar 15% pada 1 Maret mendatang sebagai imbalan atas akses pasar EV tersebut.

Hambatan Siber Menjadi Benteng Pertahanan

Selain masalah tarif dan kuota, Greer juga menyoroti adanya hambatan non-tarif yang jauh lebih sulit dipenuhi oleh produsen Tiongkok, yaitu standar keamanan siber. AS telah mengadopsi aturan ketat sejak Januari 2025 mengenai keamanan kendaraan yang terkoneksi internet dan sistem navigasi di dalamnya.

Menurut Greer, sangat tidak mungkin bagi produk EV China untuk dapat memenuhi standar keamanan siber yang ditetapkan oleh AS. Aturan ini secara efektif menjadi benteng pertahanan kedua, yang membuat mobil-mobil tersebut makin sulit melaju di jalanan Amerika Serikat.

“Ada peraturan di Amerika mengenai keamanan siber kendaraan kami dan sistem di dalamnya. Saya pikir akan sulit bagi pihak China untuk mematuhi aturan semacam itu,” tambah Greer. Dengan demikian, meskipun Kanada membuka pintu, AS memastikan bahwa pintu perbatasan selatan tetap tertutup rapat, didukung oleh regulasi keamanan digital yang ketat.