Uptodai.com - Langkah raksasa teknologi Amerika Serikat, Meta Platforms, mengakuisisi perusahaan rintisan kecerdasan buatan (AI) asal China, Manus, memicu reaksi keras dari Beijing. Kabar mengenai Akuisisi Manus oleh Meta ini segera diikuti dengan pengumuman resmi dari Kementerian Perdagangan China (MofCom) yang menyatakan akan melakukan penyelidikan mendalam.

Pemeriksaan ini berfokus pada potensi pelanggaran regulasi ekspor dan investasi luar negeri. Tindakan ini secara langsung menyoroti sensitivitas Beijing terhadap kepemilikan aset teknologi strategis di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik.

Manus sendiri bukanlah startup sembarangan. Perusahaan ini dikenal sebagai salah satu ‘kebanggaan’ China di sektor AI, sering disandingkan dengan DeepSeek. Manus mencuri perhatian global karena berhasil mengembangkan agen AI serba guna yang mampu menangani tugas-tugas kompleks, mulai dari riset pasar, pengkodean, hingga analisis data.

Kenapa Akuisisi Manus oleh Meta Jadi Masalah?

Padahal, sebelum akuisisi ini terjadi, Manus telah mengambil langkah strategis untuk memperkuat ekspansi globalnya. Startup yang awalnya merupakan produk dari Butterfly Effect (Monica.Im) ini sempat merelokasi markas utamanya dari Beijing ke Singapura pada Juni 2025.

Relokasi ini dilakukan setelah sebelumnya Manus melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK) terhadap sebagian besar karyawannya di China pada Juli 2025. Langkah ini menunjukkan ambisi perusahaan untuk beroperasi di luar yurisdiksi ketat Beijing, meskipun akhirnya diakuisisi oleh perusahaan AS.

Langkah ekspansi ini dilakukan meskipun Manus menunjukkan kinerja finansial yang luar biasa. Hanya dalam delapan bulan setelah peluncuran produk pertamanya, Manus dilaporkan telah mencatat pendapatan berulang tahunan (ARR) lebih dari US$100 juta, menjadikannya aset teknologi yang sangat berharga dan bernilai sekitar Rp 33 triliun.

Dari sisi Meta, perusahaan milik Mark Zuckerberg tersebut menyatakan bahwa akuisisi ini bertujuan untuk mempercepat inovasi AI bagi bisnis. Mereka berencana mengintegrasikan otomatisasi canggih Manus ke dalam produk konsumen dan enterprise, termasuk asisten Meta AI.

Beijing Soroti Kontrol Ekspor dan Teknologi Strategis

Namun, bagi Beijing, perpindahan kepemilikan aset AI strategis ke tangan Amerika Serikat merupakan isu kedaulatan teknologi yang sensitif. Kementerian Perdagangan China mengonfirmasi bahwa mereka akan menilai kepatuhan akuisisi ini terhadap undang-undang pengendalian ekspor, impor teknologi, dan regulasi investasi luar negeri.

Juru bicara MofCom, He Yadong, menekankan bahwa pemerintah China secara konsisten mendukung operasi transnasional yang saling menguntungkan. Namun, ia menambahkan bahwa semua kerja sama teknologi internasional harus tunduk pada hukum dan peraturan yang berlaku di China.

Tindakan investigasi ini menggarisbawahi kekhawatiran Beijing bahwa teknologi AI yang dikembangkan di dalam negeri dapat digunakan oleh pesaing geopolitik. Manus, yang diklaim menawarkan kinerja superior dibandingkan agen AI Deep Research buatan OpenAI, jelas dipandang sebagai aset yang tidak boleh lepas begitu saja.

Para pengamat industri menilai penyelidikan ini menunjukkan bahwa China kini semakin protektif terhadap aset-aset digitalnya yang memiliki kemampuan strategis. Ini adalah sinyal jelas bahwa perang dingin teknologi antara AS dan China, terutama di sektor Kecerdasan Buatan, masih jauh dari kata usai.