Uptodai.com - Kondisi keamanan di Myanmar, negara tetangga Indonesia, kembali memanas setelah terjadi insiden tragis yang merenggut puluhan nyawa warga sipil. Sebuah serangan udara militer Myanmar dilaporkan menghantam wilayah yang dijadikan tempat perlindungan bagi para pengungsi internal di negara bagian Kachin.

Insiden mematikan ini terjadi di tengah persiapan putaran terakhir pemilu yang direncanakan oleh junta militer pada akhir pekan ini. Sedikitnya 21 orang tewas dan puluhan lainnya mengalami luka-luka akibat bombardir yang menyasar Desa Hteelin, sebuah lokasi yang seharusnya menjadi zona aman dari konflik bersenjata.

Militer Menargetkan Kompleks Doa dan Pengungsian

Kelompok pemberontak etnis setempat, Kachin Independence Army (KIA), bersama dengan media lokal, mengonfirmasi bahwa serangan terjadi pada Kamis di wilayah barat Kota Bhamo. Area tersebut, yang terletak di utara Myanmar, saat ini menampung ratusan warga yang terpaksa mengungsi akibat konflik yang tak kunjung usai sejak kudeta tahun 2021.

Kolonel Naw Bu, juru bicara KIA, menjelaskan bahwa sebuah jet tempur milik militer menjatuhkan bom tepat di atas kompleks yang sedang digunakan warga. Kompleks tersebut berfungsi ganda sebagai kamp pengungsian dan tempat warga berkumpul untuk mendoakan kerabat yang telah meninggal dunia.

“Jet tempur mengebom sebuah kompleks tempat para pelayat berkumpul untuk doa bagi orang yang meninggal, yang juga berfungsi sebagai kamp bagi pengungsi, bahkan ada sekolah dan pasar desa di sekitarnya,” jelas Naw Bu, seperti dikutip dari laporan media internasional.

Korban Sipil dalam Konflik Bersenjata di Kachin

Saat serangan brutal itu terjadi, diperkirakan sekitar 500 orang berada di Desa Hteelin, termasuk banyak warga yang mengungsi dari daerah konflik lainnya. Data awal mencatat 21 orang meninggal dunia seketika, sementara 28 orang lainnya mengalami cedera serius.

Naw Bu menambahkan bahwa di antara korban yang terluka, terdapat seorang bayi, dan beberapa korban berada dalam kondisi yang sangat kritis. Serangan ini menunjukkan eskalasi kekerasan yang mengabaikan keselamatan warga sipil, bahkan di tempat-tempat yang seharusnya dihormati sebagai tempat berlindung.

Sayangnya, verifikasi independen terhadap laporan mengenai serangan ini sangat sulit dilakukan. Hal ini disebabkan oleh akses internet dan jaringan telepon seluler di sebagian besar wilayah Kachin telah diputus total oleh otoritas militer. Meskipun demikian, sejumlah media yang berbasis di Kachin telah mempublikasikan foto dan video yang memperlihatkan jenazah warga sipil serta kerusakan parah pada bangunan pascaserangan.

Kontroversi Pemilu di Tengah Serangan Udara Militer Myanmar

Serangan udara mematikan ini terjadi hanya beberapa hari menjelang putaran ketiga dan terakhir dari pemilu tiga tahap yang direncanakan oleh pemerintah militer Myanmar. Kota Bhamo sendiri merupakan salah satu dari tiga wilayah di Kachin yang dijadwalkan akan menggelar pemungutan suara.

Secara nasional, junta militer hanya akan menyelenggarakan pemilu di 61 dari total 330 wilayah administratif di Myanmar, mencerminkan ketidakmampuan mereka mengontrol seluruh teritori. Namun, Naw Bu menegaskan bahwa rencana pemilu di Bhamo tidak mungkin dilaksanakan.

“Pemilu tidak mungkin digelar di Bhamo karena pusat kota berada di bawah kendali KIA dan pasukan sekutu kami,” tegasnya. Bhamo terletak sekitar 280 kilometer di timur laut Mandalay, kota terbesar kedua di Myanmar, dan menjadi titik strategis dalam perlawanan terhadap junta.

Myanmar terus dilanda krisis politik dan keamanan yang parah sejak kudeta militer pada Februari 2021. Konflik bersenjata antara militer dan berbagai kelompok etnis bersenjata, serta Pasukan Pertahanan Rakyat (PDF), telah menyebabkan jutaan orang mengungsi dan menciptakan krisis kemanusiaan yang mendalam di seluruh negeri.