Uptodai.com - Wacana penggunaan Jakarta International Stadium (JIS) sebagai lokasi pagelaran musik berskala internasional kembali mencuat, kali ini melibatkan salah satu grup K-Pop terbesar dunia. Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung, secara terbuka menyampaikan harapannya agar Konser BTS di Jakarta International Stadium dapat terlaksana pada akhir tahun 2026 mendatang.

Pernyataan tersebut disampaikan Pramono di Jakarta Utara, Minggu (25/1/2026), saat menghadiri acara peletakan batu pertama Jembatan Penyeberangan Orang (JPO) yang dirancang untuk menghubungkan kawasan Ancol dengan JIS. Dorongan ini muncul seiring dengan klaim pemerintah provinsi bahwa aksesibilitas dan fasilitas JIS telah mengalami peningkatan signifikan.

Optimisme Pemerintah DKI Terhadap Kesiapan JIS

Pramono Anung mengungkapkan bahwa ia telah meminta Direktur Utama JIS untuk secara serius mengejar jadwal konser BTS yang direncanakan berlangsung pada 26 dan 27 Desember 2026 di Jakarta. Menurutnya, JIS kini sudah jauh lebih siap menampung acara masif dibandingkan kondisi sebelumnya.

Berbagai perbaikan dan pengembangan fasilitas di JIS telah dilakukan secara bertahap. Gubernur meyakini bahwa stadion berkapasitas besar ini kini menawarkan kenyamanan yang lebih baik, didukung oleh kemudahan akses yang telah diperbarui.

“Jika BTS bisa tampil di JIS, itu akan sangat baik sekali. Dari segi transportasi, situasinya sudah tidak seperti dulu lagi. Tempat parkirnya sangat luas, bahkan bisa memanfaatkan area Ancol yang terintegrasi,” ujar Pramono menjelaskan optimisme pemerintah daerah.

Aksesibilitas Baru Menuju JIS Lokasi Konser BTS

Pramono menekankan bahwa konektivitas menuju stadion di Jakarta Utara tersebut semakin memadai berkat integrasi moda transportasi publik. Kehadiran JPO baru yang menghubungkan Ancol adalah salah satu kunci utama dalam mengatasi masalah kemacetan dan parkir yang sempat menjadi sorotan publik pada acara-acara sebelumnya.

Selain itu, masyarakat dapat menjangkau JIS menggunakan KRL Commuter Line maupun layanan Transjakarta yang telah disiapkan rutenya. Fasilitas ini diharapkan dapat membuat kawasan tersebut menjadi area yang sangat menjanjikan untuk penyelenggaraan event internasional di masa depan.

Dorongan untuk menghadirkan konser besar ini juga sejalan dengan ambisi Pemprov DKI untuk meningkatkan citra Jakarta sebagai kota penyelenggara event kelas dunia. Pramono juga sempat menyinggung harapannya agar ajang BTN Jakarta International Marathon (Jakim) dapat menarik lebih dari 50 ribu peserta pada tahun depan, bertepatan dengan peringatan 500 tahun Jakarta.

Reaksi ARMY Soal JIS: Kekhawatiran Logistik dan Kenyamanan

Wacana penggunaan JIS lokasi konser BTS ini ternyata disambut dengan beragam respons, bahkan cenderung negatif, dari para penggemar setia BTS yang dikenal dengan sebutan ARMY. Di berbagai platform media sosial, banyak ARMY menyampaikan kekhawatiran serius terkait logistik dan kenyamanan venue.

Sebagian besar Reaksi ARMY soal JIS menyoroti masalah akses transportasi massal yang dinilai belum sepenuhnya teruji untuk menampung puluhan ribu orang secara serentak, terutama pada malam hari setelah konser usai. Mereka khawatir akan terulang kembali skenario kemacetan parah dan penumpukan penonton di area keluar masuk stadion.

Preferensi Fans BTS Tolak JIS dan Memilih GBK

Banyak penggemar berpendapat bahwa Stadion Utama Gelora Bung Karno (GBK) masih menjadi pilihan yang jauh lebih ideal dan terjamin. GBK dinilai memiliki infrastruktur pendukung yang lebih matang, termasuk akses yang sangat mudah dijangkau dari berbagai penjuru Jakarta melalui MRT, Transjakarta, dan KRL.

Kekhawatiran lain yang muncul dari Fans BTS tolak JIS adalah faktor cuaca. Mengingat konser direncanakan berlangsung pada akhir Desember, yang merupakan puncak musim hujan di Jakarta, kondisi stadion dan area terbuka di sekitarnya dikhawatirkan akan mempersulit pergerakan penonton. Mereka menilai risiko genangan air atau ketidaknyamanan akibat hujan lebat lebih tinggi di JIS dibandingkan GBK.

Perdebatan ini menunjukkan bahwa meskipun pemerintah telah melakukan perbaikan infrastruktur, persepsi publik, khususnya komunitas penggemar yang sangat loyal dan kritis seperti ARMY, belum sepenuhnya berubah. Bagi mereka, pengalaman menonton yang aman dan nyaman adalah prioritas utama, bahkan melebihi keinginan pemerintah daerah untuk mempromosikan stadion baru.