Duh! Default Perusahaan Thailand Tertinggi dalam 25 Tahun
Uptodai.com - Kondisi ekonomi Thailand mengirimkan sinyal bahaya yang tidak bisa diabaikan oleh para investor regional. Laporan terbaru menunjukkan bahwa kasus gagal bayar perusahaan Thailand melonjak tajam, mencapai rekor tertinggi dalam seperempat abad terakhir.
Situasi ini mencerminkan rapuhnya kondisi kredit korporasi di tengah pemulihan ekonomi yang berjalan lambat. Selain itu, biaya pendanaan yang masih ketat juga menjadi faktor utama yang mencekik likuiditas banyak perusahaan.
Lonjakan Default Mencapai Level Tertinggi Sejak 2000
Data yang dirilis oleh Thailand Rating and Information Services (TRIS) sangat mengkhawatirkan. Laporan bertajuk “2025 Default Statistics and Rating Transition Rates in Thailand” mencatat, sepanjang tahun 2025 terdapat 12 emiten obligasi yang mengalami masalah pembayaran serius.
Angka 12 emiten tersebut terdiri dari enam kasus gagal bayar (default) dan enam penundaan pembayaran (deferral). Kenaikan ini signifikan jika dibandingkan dengan delapan emiten yang bermasalah pada tahun 2024.
Akibatnya, tingkat default tahunan Thailand melonjak drastis, dari hanya 0,9% pada 2024 menjadi 2,9% pada 2025. Jika digabungkan dengan penundaan pembayaran, tingkat gabungan default dan deferral bahkan mencapai 5,8%.
TRIS menegaskan bahwa tingkat gabungan 5,8% tersebut merupakan level tertinggi yang pernah tercatat sejak tahun 2000. Hal ini menunjukkan bahwa tekanan kredit kembali meningkat secara signifikan di pasar korporasi Negeri Gajah Putih.
Sektor Utilitas dan Properti Paling Terpukul
Yang lebih mengejutkan, pada sejumlah sektor utama, jumlah kasus gagal bayar dan penundaan pembayaran tercatat lebih tinggi dibandingkan masa Krisis Keuangan Asia 1997. Sektor-sektor yang paling terpukul meliputi utilitas yang diregulasi, pengembang properti, serta konstruksi dan rekayasa.
Gelombang gagal bayar ini juga tidak lagi terbatas pada perusahaan dengan peringkat kredit rendah atau *junk bond*. TRIS menyoroti adanya dua emiten yang sebelumnya menyandang status *investment grade* (BBB-) pada awal 2024.
Namun, kedua perusahaan tersebut akhirnya jatuh ke kondisi gagal bayar setelah profil kredit mereka memburuk dengan cepat. Fenomena ini menjadi peringatan keras bahwa tekanan kredit mulai merembet ke perusahaan yang sebelumnya dianggap memiliki stabilitas finansial yang relatif aman.
Perbedaan Struktur Risiko dengan Krisis 1997
Meskipun jumlah kasus di beberapa sektor melampaui periode krisis 1997, TRIS buru-buru menilai bahwa kondisi saat ini tidak separah krisis sistemik yang terjadi kala itu. Perbedaan mendasar terletak pada struktur risiko yang menjadi pemicu utama kegagalan.
Krisis 1997, yang dikenal sebagai Krisis Tom Yum Goong, dipicu oleh guncangan nilai tukar yang ekstrem, utang valuta asing yang masif, dan kolapsnya lembaga keuangan secara menyeluruh. Sebaliknya, tekanan kredit yang terjadi saat ini bersifat bertahap dan lebih terpusat.
Tekanan terbaru ini utamanya terkonsentrasi pada bisnis yang bersifat padat modal dan sangat bergantung pada permintaan domestik yang lesu. Walaupun tidak sistemik, kondisi ini tetap mencerminkan kesulitan perusahaan dalam mengakses pendanaan baru di tengah suku bunga yang masih ketat dan pasar yang kurang bergairah.
Peringatan Stabilitas Kredit Jangka Panjang
Jika melihat tren jangka panjang selama periode 1994 hingga 2025, jumlah kumulatif emiten yang mengalami gagal bayar telah mencapai 34 perusahaan. Angka ini melonjak menjadi 51 emiten jika turut memasukkan kasus penundaan pembayaran.
Rata-rata tingkat gagal bayar kumulatif tiga tahunan pun menunjukkan peningkatan, mencapai 3,11%. Angka ini naik menjadi 4,62% apabila digabungkan dengan kasus *deferral*, yang memperkuat sinyal tekanan kredit.
Data-data ini memperkuat sinyal bahwa pasar kredit korporasi Thailand sedang berada di bawah tekanan signifikan. Pemerintah dan regulator di Thailand kini dituntut untuk mengambil langkah mitigasi yang cepat untuk mencegah krisis likuiditas ini meluas dan mengganggu stabilitas ekonomi makro secara keseluruhan.