Bos Telkom: Investasi Besar Keamanan Data Tak Bisa Ditawar
Uptodai.com - Isu perlindungan data pribadi dan keamanan siber menjadi topik sentral yang mendominasi diskusi global, termasuk di ajang World Economic Forum (WEF) 2026 di Davos, Swiss. Dalam forum bergengsi tersebut, petinggi Telkom memberikan pandangan tegas mengenai kebutuhan mendesak untuk memperkuat benteng digital nasional.
Direktur Telkom, Dian Rachmawan, menegaskan bahwa investasi besar keamanan data merupakan sebuah keniscayaan yang harus diprioritaskan oleh seluruh pemangku kepentingan di Indonesia. Langkah ini bukan hanya sekadar mengikuti tren, melainkan kebutuhan fundamental untuk menjaga kepercayaan publik dan keberlangsungan bisnis di era digital.
Penegakan Hukum Data Pribadi Harus Diperkuat
Dian menyoroti bahwa Indonesia sebenarnya sudah memiliki landasan hukum yang kuat, yaitu Undang-Undang Perlindungan Data Pribadi (UU PDP). Regulasi ini menyediakan kerangka kerja yang jelas mengenai hak dan kewajiban dalam pengelolaan data.
Namun demikian, memiliki regulasi saja tidak cukup. Menurutnya, tantangan utama saat ini terletak pada implementasi dan penegakan hukum (enforcement) dari UU PDP tersebut. Hal ini perlu dilihat secara mendalam bagaimana pemerintah dapat mengawal dan memastikan bahwa setiap entitas mematuhi aturan yang berlaku.
“Satu hal adalah kita punya law, tetapi penegakannya adalah hal lain,” ujar Dian dalam wawancara di sela gelaran WEF 2026. Ia menekankan bahwa penegakan yang tegas akan menciptakan lingkungan digital yang lebih aman dan bertanggung jawab.
Keamanan Data Tanggung Jawab Kolektif
Dian menerangkan bahwa keamanan data tidak bisa hanya dibebankan kepada pemerintah atau regulator semata. Tanggung jawab ini harus diinternalisasi dan dilaksanakan secara serius oleh setiap pelaku industri, termasuk Telkom sebagai penyedia layanan konektivitas dan digital terbesar di Indonesia.
Setiap perusahaan wajib menerjemahkan prinsip-prinsip data security ke dalam operasional sehari-hari. Hal ini memastikan bahwa data pribadi pelanggan, baik segmen ritel maupun korporasi (enterprise), benar-benar terjaga dari ancaman kebocoran maupun serangan siber.
“Bagaimana kita memastikan bahwa data pribadi customer, baik ritel maupun enterprise, itu bisa terjaga dengan baik. Kemudian dari sisi cyber security juga bisa terjaga,” jelasnya. Komitmen ini membutuhkan sumber daya dan fokus yang berkelanjutan.
Tiga Pilar Investasi Keamanan Data
Memperkuat sistem pertahanan siber bukanlah proses yang sederhana, apalagi murah. Dian menekankan bahwa upaya penguatan sistem keamanan data memerlukan alokasi dana yang signifikan dan perubahan mendasar di berbagai aspek operasional perusahaan.
Investasi Besar Keamanan Data Meliputi Proses, Sistem, dan SDM
Menurutnya, ada tiga pilar utama yang membutuhkan investasi besar keamanan data agar perlindungan dapat berjalan optimal. Pertama adalah perubahan proses. Perusahaan harus merevisi dan memperketat prosedur kerja yang melibatkan penanganan data sensitif.
Kedua, perbaikan sistem dan teknologi. Hal ini mencakup pengadaan perangkat lunak keamanan siber tercanggih, implementasi sistem enkripsi, hingga penggunaan teknologi Kecerdasan Buatan (AI) untuk mendeteksi anomali dan ancaman secara real-time. Biaya untuk infrastruktur pertahanan siber kelas dunia sangatlah tinggi.
Pilar ketiga, dan yang paling krusial, adalah faktor manusia. Dian menyoroti pentingnya disiplin dan kesadaran dari seluruh tenaga kerja. Karyawan harus memiliki pemahaman yang mendalam mengenai pentingnya proteksi privasi dan cyber security, sebab seringkali celah keamanan justru berasal dari kelalaian internal.
“Itu bukan hal yang mudah dan murah. Itu memerlukan perubahan proses, perbaikan sistem, dan terutama dari sisi manusianya. Bagaimana tenaga kerja mempunyai disiplin, sehingga proteksi untuk privasi maupun cyber security bisa terjaga dengan baik,” pungkas Dian. Telkom sendiri terus memperkuat infrastruktur digitalnya seiring dengan upaya mendorong Indonesia menjadi pusat konektivitas digital regional.