Mengenang Honda PCX Hybrid: Spesifikasi Lengkap dan Alasan Disetop
Uptodai.com - Jauh sebelum era motor listrik murni masif seperti sekarang, PT Astra Honda Motor (AHM) pernah membuat gebrakan besar dengan meluncurkan Honda PCX Hybrid spesifikasi lengkap di pasar Indonesia. Skutik bongsor ini mencatatkan sejarah karena diklaim sebagai motor hybrid produksi massal pertama di dunia saat dirilis pada awal tahun 2018 silam.
Kehadiran PCX Hybrid kala itu didasarkan pada basis All New Honda PCX 150, bukan versi 160cc yang beredar saat ini. Meskipun mendapat respons positif dari publik yang penasaran dengan teknologi elektrifikasi baru, usia penjualan motor ini ternyata tidak panjang.
Alasan Honda PCX Hybrid Disetop
AHM secara resmi menghentikan produksi dan penjualannya pada awal tahun 2023. Keputusan strategis ini disampaikan oleh Marketing Director AHM, Octavianus Dwi Putro, yang menyebutkan bahwa penghentian tersebut merupakan bagian dari perubahan fokus perusahaan.
Pihak Honda memutuskan untuk mengubah haluan. Fokus AHM bergeser lebih serius ke pengembangan dan produksi motor listrik murni (Battery Electric Vehicle/BEV) yang dilakukan secara lokal. PCX Hybrid, yang merupakan langkah awal, dianggap sudah menyelesaikan misinya memperkenalkan teknologi hybrid ke masyarakat.
Perbedaan Fisik dan Bobot PCX Hybrid
Secara dimensi fisik dan bentuk bodi, PCX Hybrid praktis tidak memiliki perbedaan dengan versi 150cc standar. Keduanya memiliki panjang 1.923 mm, lebar 745 mm, dan jarak antara sumbu roda 1.131 mm.
Namun, perbedaan signifikan terasa pada bobot totalnya. PCX 150 standar memiliki bobot 132 kg, sementara versi Hybrid sedikit lebih berat, mencapai 136 kg. Peningkatan bobot 4 kg ini disebabkan oleh penambahan komponen sistem hybrid.
Selain bobot, Honda juga hanya menyediakan satu pilihan warna eksklusif untuk varian hybrid ini, yaitu Hybrid Blue. Hal ini bertujuan untuk membedakannya secara visual dari varian konvensional yang memiliki opsi warna lebih beragam.
Detail Teknologi Honda PCX Hybrid Spesifikasi Lengkap
Mesin bensin utamanya tetap mengandalkan unit 149,3 cc 4-tak SOHC injeksi yang terkenal irit dan responsif. Namun, kunci dari sistem hybrid paralel ini terletak pada penambahan baterai lithium-ion bertegangan 50,4 volt dengan kapasitas 3,8 Ah. Baterai khusus inilah yang menjadi jantung penggerak tambahan pada skutik premium tersebut.
Tenaga listrik dari baterai lithium-ion dialirkan untuk menggerakkan ACG Starter. Dalam sistem PCX Hybrid, ACG Starter ini memiliki fungsi ganda, yaitu sebagai motor assist atau motor bantuan. Motor assist inilah yang memberikan sensasi tarikan berbeda dibandingkan PCX standar.
Fungsi assist ini baru aktif ketika pengendara melakukan pembukaan tuas gas secara mendadak, atau yang dikenal dengan istilah ‘snapping’. Saat terjadi snapping, sinyal input segera diteruskan ke Power Drive Unit (PDU).
PDU kemudian memerintahkan baterai lithium-ion untuk menyalurkan daya listrik ke ACG starter. Motor assist akan memberikan dorongan tenaga tambahan yang signifikan selama kurang lebih 3 detik. Dorongan instan ini sangat membantu saat akselerasi awal atau ketika melewati tanjakan.
Durasi bantuan tenaga listrik selama 3 detik tersebut dapat dipantau langsung melalui indikator charge/assist yang terletak pada panel instrumen digital paling atas. Jika daya listrik pada baterai lithium-ion habis, fungsi motor assist akan nonaktif, dan motor akan berjalan murni menggunakan mesin bensin konvensional hingga baterai terisi kembali.
Meskipun kini sudah tidak diproduksi dan dijual lagi di pasaran, PCX Hybrid meninggalkan warisan penting sebagai pionir teknologi elektrifikasi di segmen skutik premium Indonesia. Keputusan AHM untuk beralih fokus menunjukkan dinamika pasar otomotif yang kini semakin condong ke arah kendaraan listrik murni, meninggalkan era hybrid ringan.