Peringatan Ahli Jepang: Zona Megathrust RI Bergeser, Ancaman M 9,2
Uptodai.com - Dalam laporan kegempaan terbaru, terdeteksi adanya akumulasi energi yang signifikan di area tektonik Indonesia. Temuan ini menjadi sorotan utama karena menunjukkan bahwa Zona Megathrust RI Bergeser, terutama di wilayah yang sebelumnya dianggap kurang aktif.
Pergeseran ini memicu peringatan dini yang serius dari komunitas ilmiah global, menuntut pemerintah dan masyarakat untuk meningkatkan kesiapsiagaan bencana. Data terbaru menggarisbawahi urgensi pemantauan jangka panjang terhadap potensi pelepasan energi raksasa di palung-palung laut Nusantara.
Mengapa Zona Megathrust RI Bergeser Mirip Nankai Trough?
Profesor Kosuke Heki dari Hokkaido University, salah satu pakar kegempaan terkemuka Jepang, memberikan pandangan krusial mengenai kondisi tektonik Indonesia. Ia menilai bahwa karakter geologi Nusantara memiliki kemiripan yang mencolok dengan zona Nankai Trough. Nankai Trough sendiri dikenal sebagai salah satu kawasan megathrust paling aktif dan berbahaya di dunia, yang secara historis menghasilkan gempa-gempa besar.
Heki menjelaskan bahwa pandangan klasik di Jepang mengenai gempa bermagnitudo 8 adalah terjadi dalam interval 50 hingga 100 tahun. Namun, ia menekankan bahwa meski waktu terjadinya gempa besar sulit diprediksi, pemantauan deformasi kerak bumi jangka panjang adalah kunci mitigasi. Heki, yang sempat menjadi Visiting Researcher di Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), mendorong Indonesia untuk mengambil langkah proaktif.
Ia juga menyoroti adanya kopling seismik yang saling mengunci hampir di sepanjang sumbu palung laut di Indonesia. Fenomena penguncian ini berarti regangan terus terakumulasi pada batas lempeng yang sangat dangkal. Akumulasi tegangan inilah yang berpotensi dilepaskan sebagai gempa bumi dahsyat di masa depan, layaknya pegas yang ditarik hingga mencapai batas elastisitasnya.
Deteksi Slow Slip Event, Indikator Krusial
Salah satu indikator paling penting yang diamati oleh para ahli adalah fenomena slow slip event (SSE) atau pergeseran lempeng yang terjadi secara sangat lambat. Pergerakan ini terjadi dalam hitungan hari hingga bulan dan tidak menghasilkan guncangan yang terasa oleh manusia. Meskipun pergerakannya sangat perlahan, SSE berpotensi menjadi pemicu awal sebelum terjadinya gempa besar.
Fenomena SSE telah berulang kali terdeteksi di Nankai Trough dan beberapa wilayah lain di Jepang yang memiliki aktivitas tektonik tinggi. Oleh karena itu, Heki menyarankan Indonesia untuk fokus pada deteksi dini fenomena ini. Pemahaman terhadap SSE dapat memberikan jendela waktu yang lebih baik bagi para ilmuwan untuk menilai tingkat risiko.
Untuk mendeteksi sinyal-sinyal ini, Heki mendorong Indonesia untuk memperkuat sistem pemantauan berbasis teknologi canggih. Penggunaan Global Navigation Satellite System (GNSS) dan pengukuran geodesi dasar laut sangat vital. Dengan teknologi ini, akumulasi tegangan di zona subduksi dapat dibaca dengan presisi yang jauh lebih tinggi dan berkelanjutan.
Mengingat Indonesia memiliki banyak zona subduksi aktif, mulai dari Sumatra, Jawa, Bali, Lombok, hingga Maluku, peluang pengembangan sistem pemantauan serupa sangat besar. Heki bahkan menyatakan bahwa ia sedang berupaya mengaplikasikan metode ini di Indonesia. Upaya ini diharapkan dapat memberikan data yang lebih akurat untuk perencanaan mitigasi bencana jangka panjang dan membangun sistem peringatan yang lebih responsif.
Daftar Wilayah Krusial: Potensi Gempa M 9,2 Menghantui
Peta terbaru yang dirilis oleh para peneliti menunjukkan potensi magnitudo gempa yang sangat mengkhawatirkan di beberapa wilayah megathrust Indonesia. Zona Megathrust Aceh-Andaman tercatat memiliki potensi gempa terbesar. Magnitudo maksimum di wilayah ini diperkirakan mencapai 9,2.
Sementara itu, potensi ancaman besar juga mengintai di selatan Jawa. Megathrust Jawa menyimpan potensi untuk memicu gempa hingga magnitudo 9,1. Angka-angka ini menunjukkan bahwa Indonesia berada dalam ancaman bencana alam yang membutuhkan mitigasi struktural dan non-struktural yang kuat.
Beberapa zona krusial lain, seperti Mentawai-Siberut, Mentawai-Pagai, dan Enggano, juga menyimpan potensi gempa yang tidak kalah besar, masing-masing hingga magnitudo 8,9. Seluruh wilayah ini berada dalam kondisi akumulasi tegangan yang harus diwaspadai.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) sebelumnya juga telah menyoroti keberadaan dua zona megathrust yang masih berada dalam kondisi seismic gap. Kondisi seismic gap ini mengindikasikan bahwa zona tersebut sudah lama tidak melepaskan energi. Akibatnya, akumulasi tegangan menjadi sangat tinggi dan berpotensi memicu pelepasan energi secara tiba-tiba dengan kekuatan yang masif.