Uptodai.com - Anggapan bahwa berjalan kaki adalah aktivitas fisik paling dasar dan efektif untuk menjaga kesehatan seringkali dianggap mutlak. Namun, temuan studi terbaru menunjukkan bahwa Bersepeda cegah risiko demensia secara jauh lebih signifikan dibandingkan sekadar berjalan kaki biasa.

Aktivitas fisik yang digolongkan sebagai ‘perjalanan aktif’ (active travel), yaitu kegiatan bergerak yang terintegrasi dengan mobilitas sehari-hari, terbukti memiliki dampak yang lebih besar dalam melindungi fungsi kognitif otak. Para peneliti di Inggris melakukan kajian mendalam untuk memahami bagaimana berbagai mode perjalanan memengaruhi risiko penyakit penurunan fungsi otak, termasuk Alzheimer.

Membandingkan Moda Perjalanan Aktif dan Dampaknya

Studi yang dipublikasikan dalam jurnal JAMA Network Open ini mengelompokkan moda perjalanan harian ke dalam empat kategori utama. Pengelompokan ini bertujuan untuk menganalisis efek spesifik dari setiap jenis gerakan terhadap dua kelompok demensia: demensia onset dini (sebelum usia 65 tahun) dan demensia onset lanjut (usia 65 tahun ke atas).

Kategori pertama adalah perjalanan nonaktif, meliputi penggunaan mobil pribadi, kendaraan bermotor, atau transportasi umum. Sementara itu, kategori perjalanan aktif dibagi menjadi berjalan kaki murni, berjalan kaki campuran (berjalan kaki dikombinasikan dengan moda nonaktif), serta bersepeda atau bersepeda campuran (bersepeda dikombinasikan dengan moda lain).

Keunggulan Signifikan Bersepeda

Hasil penelitian ini sangat mengejutkan. Individu yang memilih bersepeda, atau menggabungkan bersepeda dengan moda perjalanan lainnya, menunjukkan penurunan risiko demensia secara keseluruhan yang jauh lebih rendah. Sebagai perbandingan, menggunakan kombinasi berjalan kaki hanya mengurangi risiko demensia total sebesar 6%.

Di sisi lain, subjek penelitian yang rutin bersepeda atau menggunakan kombinasi bersepeda berhasil menurunkan risiko demensia sebesar 19%. Bahkan, untuk kasus demensia yang muncul di usia muda (onset dini), bersepeda atau bersepeda campuran terbukti mengurangi risiko hingga 40%.

Data ini memberikan sudut pandang baru mengenai intensitas dan jenis gerakan yang diperlukan untuk perlindungan kognitif optimal. Menariknya, berjalan kaki murni justru sedikit dikaitkan dengan peningkatan risiko penyakit Alzheimer sebesar 14%, sebuah temuan yang memerlukan penelitian lanjutan. Namun, risiko ini dapat ditekan hingga 22% jika aktivitas berjalan kaki diganti atau dikombinasikan dengan bersepeda.

Mengapa Bersepeda Lebih Efektif Menjaga Kesehatan Otak?

Perbedaan signifikan ini diduga kuat berkaitan dengan intensitas olahraga. Bersepeda umumnya memerlukan upaya kardiovaskular yang lebih tinggi dan berkelanjutan dibandingkan berjalan kaki santai.

Peningkatan detak jantung yang lebih stabil saat bersepeda memicu aliran darah yang lebih baik ke seluruh tubuh, termasuk otak. Aliran darah yang lancar memastikan pasokan oksigen dan nutrisi penting ke sel-sel otak tetap optimal, sebuah faktor krusial dalam pencegahan penyakit neurodegeneratif.

Ketika para peneliti menganalisis hasil pemindaian otak partisipan, mereka menemukan korelasi yang jelas. Bersepeda dan menggabungkan bersepeda dengan metode perjalanan lain dikaitkan dengan sedikit peningkatan volume materi abu-abu (GMV).

Peningkatan GMV ini terdeteksi pada bagian-bagian spesifik otak, termasuk hipokampus, area yang vital fungsinya untuk pembentukan dan penyimpanan memori. Sebaliknya, subjek yang hanya berjalan kaki atau menggunakan kombinasi berjalan kaki cenderung memiliki volume materi abu-abu dan materi putih yang sedikit lebih kecil di beberapa area kritis.

Temuan ini memperkuat bukti bahwa aktivitas fisik yang lebih dinamis dan terstruktur, seperti bersepeda, memberikan manfaat neurologis yang superior. Memahami bagaimana perjalanan aktif memengaruhi risiko demensia dapat menjadi pendorong perubahan pola hidup sehari-hari, menggeser pilihan transportasi dari yang nonaktif menjadi lebih aktif demi masa depan kognitif yang lebih sehat.