Uptodai.com - Ketegangan di Asia Selatan meningkat tajam setelah pasukan keamanan Pakistan melancarkan serangan balasan masif. Sebuah operasi militer Pakistan Balochistan yang berlangsung selama 48 jam terakhir dilaporkan telah menewaskan sedikitnya 177 militan separatis.

Skala penumpasan ini menjadi salah satu yang paling mematikan dalam sejarah konflik di wilayah tersebut. Operasi besar-besaran ini digelar sebagai respons atas gelombang serangan terkoordinasi yang sebelumnya menargetkan warga sipil dan fasilitas keamanan di provinsi terbesar Pakistan itu.

Respon Keras Islamabad terhadap Serangan BLA

Peningkatan drastis kekerasan ini dipicu oleh serangan serentak yang dilancarkan oleh kelompok Tentara Pembebasan Baloch (Baloch Liberation Army/BLA) sejak akhir pekan lalu. BLA, yang merupakan kelompok separatis bersenjata, menggunakan bom bunuh diri dan tembakan intensif ke kantor polisi, pangkalan militer, serta permukiman warga.

Gelombang serangan teror tersebut menewaskan sedikitnya 50 orang, di mana mayoritas korban adalah warga sipil, termasuk perempuan dan anak-anak. Insiden ini memaksa pemerintah pusat di Islamabad mengambil tindakan tegas yang belum pernah terjadi sebelumnya.

Pejabat keamanan Pakistan mengonfirmasi bahwa puluhan militan kembali ditembak mati dalam penggerebekan yang dilakukan semalam di berbagai wilayah barat daya Pakistan, dekat perbatasan Afghanistan. Dengan tambahan korban tersebut, total militan yang tewas dalam dua hari terakhir mencapai angka 177 orang.

Para analis keamanan Pakistan menyoroti bahwa skala kematian militan dalam 48 jam terakhir ini merupakan yang tertinggi dalam beberapa dekade. Ini menunjukkan keseriusan dan agresivitas Pasukan Keamanan Pakistan dalam menanggapi ancaman BLA.

Pemerintah Tegaskan Tak Ada Dialog dengan Teroris

Menteri Pertahanan Pakistan, Khawaja Mohammad Asif, memberikan pernyataan keras di hadapan parlemen. Ia mengonfirmasi bahwa serangan BLA telah menewaskan 33 warga sipil dan 17 anggota pasukan keamanan sebelum operasi balasan dimulai.

Asif dengan tegas menyatakan bahwa pemerintah menutup pintu dialog dengan kelompok teror. “Asesmen kami jelas. Tidak akan ada pembicaraan dengan teroris yang membunuh warga sipil, termasuk perempuan dan anak-anak,” ujar Asif, menegaskan sikap tidak kompromi Islamabad.

Sementara itu, Menteri Dalam Negeri Mohsin Naqvi memuji keberhasilan aparat keamanan yang menunjukkan profesionalisme dan ketegasan dalam menghadapi terorisme. Naqvi juga melontarkan tudingan serius, menyebut kelompok tersebut sebagai “teroris yang didukung India”, meskipun ia tidak menyertakan bukti spesifik.

Pemerintah India sendiri belum memberikan tanggapan resmi atas tudingan yang dilontarkan oleh pejabat Pakistan tersebut. Tuduhan dukungan asing ini sering kali muncul dalam narasi konflik di Balochistan, menambah lapisan kompleksitas geopolitik di kawasan tersebut.

Akar Konflik Separatis Balochistan yang Berkepanjangan

Balochistan adalah provinsi terbesar di Pakistan berdasarkan luas wilayah, namun memiliki populasi paling sedikit dan didominasi oleh pegunungan. Wilayah ini menjadi pusat komunitas etnis Baloch yang telah lama merasa didiskriminasi oleh pemerintah pusat.

Sentimen separatis muncul karena etnis Baloch menuding Islamabad melakukan eksploitasi sumber daya alam secara besar-besaran, sementara penduduk lokal tetap hidup dalam kemiskinan. Kekayaan mineral dan gas di provinsi ini dianggap hanya dinikmati oleh elite di pusat, memicu pemberontakan bersenjata yang telah berlangsung puluhan tahun.

Selain kelompok separatis seperti BLA, wilayah ini juga menjadi sarang bagi berbagai kelompok militan Islam yang aktif beroperasi. Kompleksitas ini semakin diperparah oleh proyek Koridor Ekonomi China-Pakistan (CPEC) yang melintasi Balochistan.

Proyek infrastruktur CPEC sering menjadi target utama serangan militan. Kelompok separatis menganggap proyek tersebut sebagai bentuk kolonialisme ekonomi baru yang semakin merampas hak-hak mereka. Situasi ini memastikan bahwa ketegangan dan konflik separatis Balochistan akan terus menjadi tantangan keamanan terbesar bagi Pakistan di masa mendatang.