Uptodai.com - Ekspansi masif pabrikan global di Indonesia memicu sorotan tajam dari Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo). Asosiasi tersebut secara tegas meminta komitmen jangka panjang merek mobil baru yang kini membanjiri pasar Tanah Air.

Permintaan ini muncul seiring dengan lonjakan signifikan jumlah anggota Gaikindo dalam beberapa waktu terakhir. Fenomena tersebut menunjukkan betapa menariknya Indonesia sebagai basis produksi dan pasar otomotif regional, terutama bagi pemain kendaraan energi baru.

Lonjakan Anggota dan Investasi Raksasa Pabrikan EV

Sekretaris Umum Gaikindo, Kukuh Kumara, mengungkapkan bahwa keanggotaan asosiasi kini telah melonjak drastis dari sekitar 30 perusahaan menjadi 62 perusahaan. Peningkatan ini sebagian besar didorong oleh masuknya agen pemegang merek (APM) baru, khususnya yang bergerak di segmen kendaraan listrik (EV).

Kukuh mengapresiasi langkah sejumlah APM pendatang baru yang telah menunjukkan keseriusan investasi dengan membangun fasilitas perakitan lokal. Langkah ini dianggap krusial untuk memastikan transfer teknologi dan penyerapan tenaga kerja domestik.

Sebagai contoh nyata, produsen EV raksasa asal China, BYD, dilaporkan akan segera mengoperasikan pabriknya di Subang, Jawa Barat, pada kuartal I/2026. Investasi BYD mencapai angka fantastis Rp11,2 triliun, yang dipersiapkan untuk kapasitas produksi hingga 150.000 unit per tahun.

Tidak hanya BYD, pabrikan asal Vietnam, VinFast, juga telah menanamkan modal awal lebih dari US$300 juta. Fasilitas manufaktur VinFast yang berdiri di atas lahan 171 hektare di Subang ditargetkan memiliki kapasitas produksi awal sekitar 50.000 unit kendaraan per tahun.

VinFast bahkan berjanji meningkatkan total investasi mereka secara bertahap hingga menembus US$1 miliar atau setara Rp16 triliun. Pada fase penuh, kapasitas produksi ditargetkan mencapai 350.000 unit kendaraan per tahun, melayani pasar domestik sekaligus membuka peluang ekspor ke kawasan Asia Tenggara.

Gaikindo Tolak Strategi ‘Hit and Run’ di Pasar RI

Kendati investasi besar mengalir, Kukuh Kumara menegaskan bahwa kehadiran merek-merek baru tersebut harus dibarengi dengan kemampuan bertahan. Mayoritas merek pendatang baru di pasar Indonesia berasal dari China, di antaranya seperti Changan, iCar, Lepas, Geely, XPeng, Jaecoo, hingga Jetour.

Beberapa APM tersebut telah memulai perakitan lokal (Completely Knocked Down/CKD) melalui fasilitas milik PT Handal Indonesia Motor (HIM). Namun, Kukuh menekankan bahwa perakitan lokal saja tidak cukup tanpa adanya komitmen jangka panjang yang solid.

“Perlu dicatat bahwa industri otomotif adalah industri dengan komitmen jangka panjang, tidak bisa hit and run,” tegas Kukuh. Ia menjelaskan bahwa para pemain baru diwajibkan memiliki kemampuan untuk bertahan cukup lama dan tumbuh bersama masyarakat Indonesia.

Ketidakmampuan bertahan dalam jangka waktu yang memadai dikhawatirkan akan merugikan konsumen yang telah membeli produk mereka, terutama terkait layanan purnajual dan ketersediaan suku cadang. Oleh karena itu, Gaikindo menuntut kepastian investasi yang berkelanjutan.

Tantangan di Tengah Lesunya Pasar Domestik

Ironisnya, lonjakan jumlah pabrikan dan investasi ini terjadi di tengah kondisi pasar otomotif domestik yang masih menunjukkan tren lesu. Data penjualan mobil wholesales (dari pabrik ke dealer) yang dicatat Gaikindo menunjukkan kontraksi penjualan.

Sepanjang periode Januari hingga Desember 2025, total penjualan mobil di pasar domestik hanya tembus 803.687 unit. Angka ini menunjukkan penurunan dibandingkan performa tahun sebelumnya, menandakan tantangan besar yang harus dihadapi oleh para pemain lama maupun pemain baru.

Situasi pasar yang melambat ini menambah urgensi bagi Gaikindo untuk memastikan bahwa komitmen jangka panjang merek mobil baru benar-benar terimplementasi. Kehadiran pemain baru diharapkan mampu mendongkrak daya beli, bukan malah memperkeruh persaingan di pasar yang sedang stagnan.