Alasan Utama Penutupan Pabrik Osaka Steel di Cilegon
Uptodai.com - Kabar mengenai penutupan pabrik Osaka Steel di Indonesia telah dikonfirmasi oleh pihak pemerintah. Keputusan ini menyangkut operasional PT Krakatau Osaka Steel (KOS) yang berlokasi di Cilegon, Banten.
Wakil Menteri Perindustrian (Wamenperin), Faisol Riza, membenarkan informasi penghentian operasional tersebut. Ia menjelaskan bahwa langkah drastis ini diambil akibat kondisi finansial yang membelit perusahaan induk di Jepang.
Fakta di Balik Penghentian Operasi Krakatau Osaka Steel
Faisol Riza menyampaikan bahwa Osaka Steel tengah menghadapi tekanan keuangan yang sangat berat. Kondisi ini membuat mereka kesulitan untuk bersaing di tengah ketatnya persaingan industri baja global maupun domestik.
“Kalau itu memang ada indikasi bahwa perusahaan Osaka Steel memang memiliki kesulitan keuangan,” jelas Faisol Riza saat ditemui di Kompleks Parlemen, Rabu (4/2/2026).
Ia menambahkan, keputusan penutupan pabrik ini bukan berasal dari manajemen lokal, melainkan arahan langsung dari kantor pusat perusahaan di Jepang. Tekanan finansial tersebut memaksa induk perusahaan mengambil keputusan yang tidak terhindarkan.
“Jadi memang ada call dari pusat bahwa mereka tidak bisa bersaing dengan yang lain-lain dan kesulitan keuangan sehingga mereka akhirnya memutuskan untuk menutup,” lanjut Wamenperin. Keputusan ini murni didasari faktor internal perusahaan, bukan karena kebijakan regulasi di Indonesia.
Jejak Langkah KOS: Investasi Besar yang Tumbang
PT Krakatau Osaka Steel (KOS) sendiri merupakan salah satu proyek kerja sama strategis yang dibentuk pada tahun 2012. Perusahaan ini merupakan hasil kolaborasi antara Osaka Steel Jepang dan PT Krakatau Steel (Persero) Tbk.
Tujuan utama kemitraan ini adalah memproduksi dan memasarkan berbagai produk baja profil, flat bar, dan plat tulang baja untuk memenuhi kebutuhan pasar konstruksi dan infrastruktur di Indonesia.
Secara kepemilikan saham, Osaka Steel Co Ltd memegang porsi mayoritas sebesar 80% di PT KOS, sementara 20% sisanya dimiliki oleh PT Krakatau Steel (PTKS). Pabrik KOS beroperasi di Kawasan Industri Krakatau Cilegon, menempati lahan seluas 21,6 hektare.
Investasi yang ditanamkan dalam proyek ini tergolong besar, mencapai US$ 200 juta, dengan modal disetor sebesar US$ 70 juta. PT KOS mulai beroperasi secara komersial pada tahun 2016, menargetkan penjualan hingga 500 ribu ton per tahun.
Sayangnya, kinerja perusahaan tidak mampu menahan badai keuangan yang dihadapi induknya. Penutupan pabrik ini otomatis berdampak pada tenaga kerja lokal yang sebelumnya diserap, yang diperkirakan berjumlah kurang lebih 170 orang.
Dampak Penutupan Pabrik Baja dan Prospek Industri
Meskipun penutupan ini disebabkan oleh kesulitan finansial internal perusahaan Jepang, hal ini tetap menjadi sorotan bagi industri baja nasional. Industri baja domestik saat ini memang menghadapi tantangan besar, terutama dari serbuan produk impor yang masuk dengan harga kompetitif.
Pemerintah melalui Kementerian Perindustrian terus berupaya menjaga iklim investasi. Namun, kasus penghentian operasi Krakatau Osaka Steel ini menunjukkan bahwa tekanan kompetisi global sangat nyata dan dapat menumbangkan pemain besar sekalipun.
Langkah penutupan ini menjadi pengingat bagi pelaku industri baja di Indonesia. Mereka harus terus berinovasi dan meningkatkan efisiensi agar produk baja dalam negeri tetap mampu bersaing, sekaligus meminimalisir dampak penutupan pabrik baja terhadap rantai pasok domestik.