Uptodai.com - Gelombang kritik keras dan kekecewaan tengah menghantam Ajax Amsterdam. Klub raksasa Belanda ini kembali menjadi sorotan tajam publik lantaran kebijakan transfer yang dinilai tidak memiliki perencanaan matang dan terkesan asal-asalan.

Kondisi ini semakin memanas setelah klub mengumumkan sejumlah langkah di bursa transfer, termasuk rumor kedatangan kiper Timnas Indonesia, Maarten Paes. Namun, bukannya meredam, langkah manajemen justru memicu kemarahan suporter yang merasa klub mengabaikan prioritas mendesak.

Publik Belanda Murka Jordi Cruyff dan Jajaran Manajemen

Publik Belanda murka Jordi Cruyff dan jajaran manajemen Ajax Amsterdam setelah kebijakan transfer klub raksasa Eredivisie itu dinilai serampangan dan tidak terarah. Kritik pedas ini langsung menghantam departemen teknis hanya beberapa hari setelah legenda Barcelona itu resmi menjabat posisi penting di Johan Cruyff ArenA.

Para penggemar Ajax merasa muak dengan serangkaian keputusan yang dianggap tidak matang, terutama saat bursa transfer musim dingin ditutup tanpa adanya penguatan signifikan. Mereka menilai, klub gagal total dalam memenuhi kebutuhan mendesak tim, padahal Ajax sedang berjuang keras memperbaiki posisi di liga setelah mengalami periode terburuk dalam sejarah klub.

Sorotan utama publik bukan hanya tertuju pada sosok Jordi Cruyff semata, yang baru saja ditunjuk sebagai direktur teknik. Justru, kebijakan transfer secara keseluruhan yang terlihat asal jalan dan tanpa prioritas yang jelas menjadi pemicu utama kemarahan suporter.

Kebijakan Transfer Ajax Serampangan, Beuker dan Kroes Jadi Sasaran

Media Belanda, *Soccernews.nl*, melaporkan bahwa ketidakpuasan suporter memuncak karena adanya kekosongan posisi pelatih baru dan juga kegagalan mendatangkan pemain di sektor vital. Laporan tersebut menyebutkan bahwa Cruyff bekerja sama dengan Marijn Beuker dan Alex Kroes dalam departemen teknis.

Dua nama terakhir, Beuker dan Kroes, kini paling banyak disalahkan oleh suporter. Keduanya dianggap bertanggung jawab penuh atas kegagalan membaca peta kebutuhan tim di lapangan. Meskipun Cruyff baru bergabung, sinergi manajemen teknis ini sudah dicap gagal oleh para loyalis *De Godenzonen*.

Cruyff sendiri, secara struktural, mungkin belum sepenuhnya bertanggung jawab atas semua kebijakan yang sudah berjalan. Namun, publik tetap menyalahkan tim teknis secara kolektif karena tidak adanya arah yang jelas dalam upaya penyelamatan tim dari krisis.

Prioritas yang Keliru: Kebutuhan Gelandang Bertahan Diabaikan

Salah satu titik didih kemarahan fans adalah pengabaian terhadap sektor paling krusial: gelandang bertahan atau pemain nomor enam. Posisi ini sudah lama menjadi lubang di lini tengah Ajax dan sangat membutuhkan penguatan segera untuk menyeimbangkan pertahanan dan serangan.

Para suporter merasa manajemen tidak serius dalam mengatasi masalah struktural tim, bahkan setelah berbulan-bulan mengalami kesulitan di lini tengah. Padahal, posisi tersebut dianggap fundamental untuk membangun kembali kekuatan Ajax di Eredivisie.

“Sungguh lucu dan menyedihkan bahwa Ajax tidak mampu menemukan satu pun pemain untuk posisi ‘enam’,” ujar seorang penggemar di media sosial X, sebagaimana dikutip dari laporan *Soccernews.nl*. Sentimen ini mencerminkan frustrasi mendalam atas inkonsistensi manajemen.

Maarten Paes dan Urgensi Transfer yang Dipertanyakan

Menariknya, kritik yang menyatakan kebijakan transfer Ajax serampangan ini semakin membesar tak lama setelah klub dikaitkan erat dengan kiper berkualitas seperti Maarten Paes. Meskipun Paes adalah kiper yang mumpuni, suporter mempertanyakan urgensi transfer ini di tengah kebutuhan mendesak di lini lain.

Mereka menilai, Ajax masih kekurangan bek kiri, pemain sayap, dan terutama gelandang bertahan, namun manajemen justru memilih fokus pada posisi penjaga gawang. Inkonsistensi ini menunjukkan prioritas yang tidak selaras dengan kondisi tim yang sedang berjuang keras.

“Seorang kiper, seorang pemain sayap, dan seorang bek kiri. Susunan lini tengah tidak akan berubah,” tulis pendukung lainnya dengan nada pesimis. Keluhan ini menunjukkan bahwa publik merasa manajemen telah menurunkan motivasi tim dengan keputusan transfer yang tidak strategis, meskipun nama besar seperti Jordi Cruyff kini ada di belakang meja direksi.