Uptodai.com - Musim kompetisi 2025/2026 berjalan cukup menjanjikan bagi AC Milan. Rossoneri menunjukkan stabilitas performa yang solid, konsisten menempel ketat para pesaing di papan atas Serie A. Kedalaman skuad dan strategi yang matang menjadi kunci utama keberhasilan mereka sejauh ini.

Namun, di tengah catatan positif tersebut, muncul alarm keras dari salah satu sosok paling dihormati dalam sejarah sepak bola Italia. Legenda sekaligus mantan pelatih sukses, Fabio Capello, melayangkan kritik pedas yang sifatnya bukan teknis, melainkan struktural. Capello kritik identitas AC Milan yang dianggapnya kian menipis.

Capello Soroti Minimnya Pemain Italia di Skuad Utama

Kritik yang dilontarkan Capello tidak tertuju pada hasil pertandingan atau perolehan poin. Ia justru mengangkat isu yang jauh lebih fundamental, yakni makin tipisnya kehadiran pemain lokal Italia di jantung skuad Rossoneri. Menurut Capello, fenomena ini adalah cerminan masalah yang lebih besar dalam sepak bola Italia secara keseluruhan.

Capello menyoroti komposisi tim utama Milan yang sering kali hanya menyisakan satu pemain Italia di starting XI. Nama Davide Bartesaghi menjadi satu-satunya representasi lokal yang rutin mendapat kepercayaan, sementara pemain lokal lain seperti Matteo Gabbia lebih sering memulai dari bangku cadangan.

“Milan hanya memiliki satu pemain Italia di starting eleven. Juventus hanya punya dua. Sementara Inter memiliki empat atau lima, dan Roma dua atau tiga. Ini adalah kunci masalahnya,” ujar Capello, menekankan bahwa kondisi ini tidak hanya dialami Milan, tetapi juga klub-klub besar Italia lainnya.

Alarm Merah: Masa Depan Sepak Bola Italia Terancam

Bagi Capello, isu minim pemain Italia Serie A bukan sekadar masalah klub, melainkan ancaman serius bagi masa depan tim nasional. Ia melihat bahwa jika klub-klub besar tidak lagi menjadi panggung utama bagi talenta lokal, maka regenerasi pemain akan terhambat.

Mantan pelatih Real Madrid dan Juventus ini bahkan menuding sistem pembinaan di Italia telah gagal. Ia menilai bahwa kurikulum pelatihan terlalu berfokus pada taktik yang kaku dan melupakan esensi dasar sepak bola itu sendiri.

“Kita tidak memiliki banyak peluang untuk masa depan. Sistem pelatihan telah gagal; terlalu banyak taktik dan terlalu sedikit sepak bola. Inilah masalahnya di Italia,” tegas Capello, menyiratkan bahwa krisis identitas di level klub akan berdampak langsung pada kualitas Gli Azzurri.

Gaya Bermain dan Kritik Khusus untuk Rafael Leao

Selain masalah identitas, Capello juga menyentuh aspek taktik dalam pandangannya terhadap AC Milan. Ia mengamati bahwa skuad Milan, meskipun memiliki kualitas individu yang tinggi, masih memiliki celah signifikan dalam kerja kolektif, terutama saat transisi bertahan.

Sorotan khusus diarahkan pada bintang Portugal, Rafael Leao. Capello mengakui kualitas menyerang Leao yang luar biasa, namun menilai sang winger kurang ideal untuk skema pressing intensif yang dituntut dalam sepak bola modern.

“Kita berbicara tentang pemain yang, ketika mereka menguasai bola, membahayakan lawan. Namun, ketika tim tidak menguasainya, mereka harus mundur, tetapi tidak melakukan pressing,” jelasnya. Kritik ini bukan ditujukan secara personal kepada Leao, melainkan sebagai gambaran filosofi tim yang terlalu bergantung pada momen brilian individu, dan kurang solid dalam fase bertahan tanpa bola.

Capello berharap manajemen klub-klub Italia, termasuk AC Milan, dapat menyeimbangkan ambisi meraih trofi dengan tanggung jawab melestarikan identitas nasional. Baginya, klub besar Italia seharusnya menjadi mercusuar bagi talenta-talenta lokal, bukan sekadar etalase bagi bintang-bintang impor.