Uptodai.com - Kegagalan Timnas Italia ke Piala Dunia 2026 menyisakan luka mendalam sekaligus memicu polemik panjang di internal sepak bola Negeri Menara Piza tersebut. Mantan Direktur Juventus, Luciano Moggi, secara blak-blakan menunjuk skandal Calciopoli tahun 2006 sebagai akar permasalahan yang menghancurkan fondasi prestasi nasional mereka. Menurutnya, kehancuran sistemik yang terjadi hampir dua dekade lalu itu masih terasa dampaknya hingga saat ini.

Langkah Gli Azzurri terhenti secara tragis setelah mereka menyerah 1-4 melalui drama adu penalti melawan Bosnia dan Herzegovina. Pertandingan tersebut berakhir imbang 1-1 di waktu normal setelah gol Moise Kean berhasil dibalas oleh Haris Tabakovic. Situasi semakin sulit bagi anak asuh Gennaro Gattuso setelah Alessandro Bastoni menerima kartu merah yang mengubah alur permainan secara drastis.

Dampak Calciopoli Terhadap Kegagalan Timnas Italia ke Piala Dunia

Luciano Moggi menilai bahwa kejayaan Italia di masa lalu tidak lepas dari struktur kepemimpinan yang solid dan kompetisi yang kuat. Ia menegaskan bahwa kemenangan Italia di Piala Dunia 2006 merupakan hasil terakhir dari sistem yang benar-benar berfungsi dengan baik. Namun, badai Calciopoli yang meledak tepat setelah turnamen itu dianggap telah membunuh esensi sepak bola Italia secara perlahan.

Mantan petinggi Napoli ini berpendapat bahwa sejak kasus tersebut mencuat, arah perkembangan sepak bola di negaranya menjadi tidak menentu. Italia kini tercatat gagal melangkah ke putaran final Piala Dunia dalam tiga edisi berturut-turut, sebuah catatan hitam bagi negara pemegang empat gelar juara dunia. Partisipasi terakhir mereka di panggung tertinggi sepak bola dunia tersebut terjadi pada edisi 2014 di Brasil.

Desakan Mundur untuk Presiden FIGC Gabriele Gravina

Selain menyoroti faktor sejarah, Moggi juga memberikan kritik tajam terhadap kepemimpinan Presiden Federasi Sepak Bola Italia (FIGC), Gabriele Gravina. Ia menganggap Gravina gagal total dalam membenahi sistem yang sudah lama rusak di tubuh federasi. Moggi mengibaratkan kondisi ini seperti ikan yang membusuk mulai dari bagian kepalanya terlebih dahulu.

Kegagalan beruntun ini membuat posisi Gravina dan pelatih Gennaro Gattuso berada di ujung tanduk karena desakan publik yang kian masif. Moggi sepakat bahwa pengunduran diri adalah jalan terbaik untuk memulai proses pembersihan total. Baginya, tanpa adanya revolusi di tingkat kepemimpinan, sepak bola Italia akan terus terjebak dalam siklus kegagalan yang memalukan.

Intervensi Pemerintah dan Harapan Revolusi Sepak Bola

Menteri Pemuda dan Olahraga Italia, Andrea Abodi, juga telah menyuarakan keresahan serupa dengan mendesak adanya perubahan radikal di tubuh FIGC. Moggi mendukung penuh langkah Abodi untuk melakukan intervensi serius demi menyelamatkan masa depan tim nasional. Ia menekankan bahwa sekadar berwacana tidak akan cukup untuk memperbaiki kerusakan yang sudah sangat mendasar.

Publik kini menanti langkah nyata dari otoritas terkait untuk merombak total struktur manajemen sepak bola mereka. Revolusi nyata menjadi harga mati agar Italia tidak lagi menjadi penonton di turnamen-turnamen besar mendatang. Tanpa perbaikan fundamental, mimpi untuk melihat Gli Azzurri kembali berjaya di kancah internasional mungkin hanya akan menjadi angan-angan belaka.