Ragnar Oratmangoen Bangun Masjid di Daerah Terpencil Indonesia
Uptodai.com - Pemain mualaf Timnas Indonesia, Ragnar Oratmangoen, kembali mencuri perhatian publik bukan karena aksinya mengolah si kulit bundar di lapangan hijau. Pria yang akrab disapa “Wak Haji” oleh para penggemar sepak bola tanah air ini mengumumkan rencana mulia untuk membangun masjid di wilayah pelosok Indonesia.
Langkah inspiratif ini ia ambil sebagai bentuk apresiasi atas dukungan dan cinta luar biasa yang ia terima sejak memperkuat skuad Garuda. Ragnar merasa memiliki tanggung jawab moral untuk memberikan kontribusi nyata bagi masyarakat, terutama di daerah yang sulit terjangkau fasilitas ibadah.
Melalui unggahan di akun Instagram pribadinya, pemain yang kini membela klub FCV Dender tersebut mengajak para penggemar untuk ikut berpartisipasi dalam aksi sosial ini. Ia menggandeng organisasi kemanusiaan untuk mewujudkan pembangunan masjid sekaligus lapangan sepak bola di komunitas terpencil.
Misi Mulia Ragnar Oratmangoen untuk Pelosok Negeri
Ragnar mengungkapkan bahwa Indonesia telah memberikan banyak hal positif dalam hidupnya selama beberapa tahun terakhir. Ia merasa saat ini adalah waktu yang tepat untuk membalas kebaikan tersebut melalui aksi nyata yang bermanfaat bagi orang banyak. Kolaborasi ini diharapkan dapat membantu masyarakat di daerah terisolasi agar memiliki tempat ibadah yang layak.
Pemain kelahiran Oss, Belanda, ini menjelaskan bahwa proyek tersebut tidak hanya fokus pada pembangunan fisik masjid semata. Ia juga berencana membangun lapangan sepak bola di sekitar area masjid untuk menghidupkan kegiatan olahraga bagi anak-anak muda setempat. Kerja sama dengan pihak seperti Sadaqah Smile dan Chatmo menjadi jembatan untuk menyalurkan bantuan dari para donatur.
Antusiasme netizen pun meledak setelah mendengar kabar baik ini, mengingat sosok Ragnar memang dikenal sangat rendah hati. Julukan “Wak Haji” yang melekat padanya seolah semakin menemukan relevansinya dengan aksi religius yang ia lakukan. Banyak pihak menilai bahwa langkah Ragnar ini membuktikan betapa kuatnya ikatan emosional antara pemain naturalisasi dengan bangsa Indonesia.
Kisah Perjalanan Spiritual Sang Gelandang
Keputusan Ragnar untuk memeluk agama Islam bukanlah proses yang terjadi secara instan atau mendadak. Pemain mualaf Timnas Indonesia ini tumbuh dalam lingkungan keluarga yang menganut agama Nasrani di Belanda. Namun, interaksi sosial dengan teman-temannya di masa remaja mulai membuka cakrawala baru mengenai konsep ketuhanan.
Ragnar mengaku sering diajak oleh rekan-rekannya untuk berkunjung ke masjid sejak ia masih berusia cukup muda. Rasa penasaran yang muncul membuatnya mulai mengeksplorasi ajaran Islam dan cara umat Muslim beribadah. Ia merasa ada ketenangan tersendiri saat melihat orang-orang melaksanakan salat berjamaah di rumah ibadah tersebut.
Ketertarikan itulah yang akhirnya memantapkan hati Ragnar untuk mengucap kalimat syahadat dan menjadi seorang Muslim. Ia menegaskan bahwa perjalanannya mengenal Tuhan adalah pencarian pribadi yang sangat mendalam. Dukungan dari lingkungan sekitar di Belanda juga membantu proses adaptasinya sebagai seorang penganut agama baru.
Menghidupkan Sunnah Melalui Senyuman
Selain rencana membangun masjid, kepribadian Ragnar Oratmangoen juga sering dipuji karena keramahannya yang luar biasa. Ia dikenal sebagai pemain yang murah senyum, baik saat bertemu penggemar di stadion maupun di luar lapangan. Ternyata, kebiasaan ini merupakan salah satu bentuk pengamalan sunnah Rasulullah SAW yang ia jalani.
Ragnar memahami bahwa dalam ajaran Islam, senyum kepada sesama merupakan bagian dari sedekah yang paling sederhana. Hal ini ia terapkan secara konsisten sehingga menciptakan citra positif bagi dirinya sebagai figur publik. Karakter hangatnya membuat Ragnar menjadi salah satu pemain Timnas yang paling dicintai oleh berbagai kalangan usia.
Darah Indonesia yang mengalir dalam tubuhnya berasal dari sang kakek yang lahir di Larat, Maluku, pada tahun 1925 silam. Meski lahir dan besar di Eropa, Ragnar selalu menunjukkan kebanggaannya terhadap akar budayanya. Komitmennya membangun masjid di Indonesia menjadi bukti bahwa ia tidak pernah melupakan asal-usulnya meski telah sukses berkarier di kancah internasional.