Uptodai.com - Pasar global sedang dilanda kepanikan masif, ditandai dengan aksi jual saham teknologi yang terjadi secara beruntun di berbagai bursa. Pelepasan saham ini berfokus pada sektor perangkat lunak (software) konvensional, menyusul meningkatnya kekhawatiran bahwa gelombang Kecerdasan Buatan (AI) akan membuat industri tersebut usang.

Sentimen negatif ini memicu tekanan jual yang meluas dari Asia hingga Eropa, yang dimulai sejak Selasa pekan lalu dan berlanjut ke hari berikutnya. Investor bereaksi keras terhadap spekulasi bahwa AI generatif mampu mendisrupsi model bisnis lama, terutama pada perusahaan yang bergerak di bidang layanan data dan profesional.

Kekhawatiran Disrupsi AI terhadap Software Konvensional

Pemicu utama dari turbulensi pasar ini adalah peluncuran pembaruan chatbot terbaru oleh pengembang AI terkemuka, Anthropic. Pembaruan tersebut dinilai sangat canggih dan memicu spekulasi liar di kalangan investor global.

Kekhawatiran yang mencuat adalah bahwa kemampuan AI yang semakin mandiri akan mengurangi kebutuhan perusahaan untuk menggunakan atau membayar lisensi perangkat lunak pihak ketiga. Jika AI bisa melakukan pekerjaan yang sebelumnya membutuhkan aplikasi khusus, maka nilai saham perusahaan software lama akan tergerus signifikan.

Dampak dari sentimen negatif ini terlihat jelas di berbagai bursa Asia. Di India, Indeks NIFTY IT, yang berisi eksportir teknologi informasi, anjlok tajam 6,3% pada Rabu pekan lalu, dengan saham Infosys turun tajam hingga 7,3%.

Situasi serupa juga terjadi di Asia Timur. Indeks Layanan Perangkat Lunak CSI China turun 3%, sementara saham Kingdee International Software Group di Hong Kong terperosok lebih dari 13%. Bahkan di Jepang, saham perusahaan penyedia tenaga kerja seperti Recruit Holdings dan Nomura Research masing-masing anjlok 9% dan 8%.

Jensen Huang: AI Justru Bergantung pada Ekosistem Lama

Di tengah badai pelepasan saham software yang memicu kerugian miliaran dolar, CEO Nvidia, Jensen Huang, tampil memberikan pandangan yang menenangkan. Dalam konferensi AI yang diselenggarakan Cisco Systems di San Francisco, Huang menyebut bahwa kekhawatiran investor tersebut adalah sebuah kesalahan fundamental.

Huang, yang perusahaannya (Nvidia) menjadi pemain kunci dalam revolusi AI, menegaskan bahwa Kecerdasan Buatan tidak akan bekerja dalam ruang hampa. Sebaliknya, AI justru sangat bergantung pada ekosistem perangkat lunak yang sudah mapan dan telah ada selama bertahun-tahun.

Menurutnya, tidak masuk akal jika AI harus membangun ulang alat-alat dasar dari nol. Logika ini menjadi penekanan utama Huang untuk menepis narasi kepunahan industri software.

Mengapa AI Tidak Akan Menciptakan Ulang Alat Dasar?

Huang menekankan prinsip dasar efisiensi yang berlaku universal, baik bagi manusia maupun robot. Ia berpendapat bahwa setiap entitas cerdas akan selalu memilih menggunakan alat yang sudah tersedia untuk meningkatkan produktivitas dan efisiensi.

“Jika Anda manusia atau robot, baik robot buatan maupun robotika umum, apakah Anda akan menggunakan alat atau menciptakan ulang alat tersebut? Jawabannya jelas, menggunakan alat yang sudah ada,” ujar Huang, menjelaskan analogi yang sangat sederhana namun kuat.

Ia melanjutkan, terobosan terbaru dalam AI secara eksplisit berfokus pada penggunaan alat (tools) yang sudah dirancang dengan baik. Hal ini karena alat-alat tersebut telah teruji dan terintegrasi, memungkinkan AI untuk mencapai efisiensi maksimal tanpa perlu membuang sumber daya untuk rekayasa ulang sistem dasar.

Oleh karena itu, meskipun kekhawatiran dampak AI terhadap pekerjaan konvensional itu nyata, Huang meyakini bahwa perusahaan software yang menyediakan fondasi alat digital akan tetap relevan, bahkan menjadi semakin penting sebagai mitra utama bagi pengembangan Kecerdasan Buatan di masa depan.