Ancaman Sampah Antariksa Intai Jakarta, Ini Penjelasannya
Uptodai.com - Para ahli kini mulai mengkhawatirkan ancaman sampah antariksa yang terus meningkat dan berpotensi jatuh menghantam wilayah padat penduduk di Indonesia. Fenomena jatuhnya sisa-sisa peluncuran roket ini bukan lagi sekadar fiksi ilmiah, melainkan ancaman nyata yang mengintai kehidupan sehari-hari.
Berdasarkan laporan terbaru, wilayah perkotaan di belahan bumi selatan memiliki risiko yang jauh lebih tinggi. Kondisi geografis dan lintasan orbit satelit membuat beberapa kota besar dunia kini berada dalam zona bahaya.
Mengapa Ancaman Sampah Antariksa Mengintai Jakarta?
Sebuah studi ilmiah mengungkapkan bahwa kota-kota di wilayah Global South memiliki risiko tiga kali lebih besar terkena jatuhan material luar angkasa. Jakarta menjadi salah satu kota yang paling terancam bersama dengan Dhaka di Bangladesh dan Lagos di Nigeria.
Para peneliti memproyeksikan adanya peluang sebesar sepuluh persen terkait jatuhnya puing-puing roket yang tidak terkendali dalam satu dekade ke depan. Hal ini tentu memicu kekhawatiran besar mengingat padatnya populasi di ibu kota Indonesia tersebut.
Sebaliknya, kota-kota besar di belahan bumi utara justru memiliki tingkat risiko yang jauh lebih rendah. Wilayah metropolitan seperti New York, Beijing, maupun Moskow relatif lebih aman dari potensi jatuhnya serpihan logam raksasa ini.
Ribuan Ton Logam Mengapung Tanpa Kendali
Saat ini, ruang hampa di luar atmosfer bumi telah berubah menjadi tempat pembuangan raksasa yang sangat padat. Badan Penerbangan dan Antariksa Amerika Serikat atau NASA mencatat ada sekitar sembilan ribu ton logam bekas satelit yang masih melayang di atas sana.
Sebagian besar material tersebut merupakan sisa-sisa peluncuran misi luar angkasa yang sudah tidak aktif lagi. Angka ini terus bertambah seiring dengan masifnya perlombaan teknologi antariksa global dari berbagai negara maju.
Dari jumlah tersebut, terdapat sekitar 25 ribu objek berukuran lebih dari sepuluh sentimeter yang berhasil terpantau secara aktif. Namun, jutaan fragmen kecil lainnya masih melayang bebas tanpa bisa terlacak oleh radar pemantau bumi.
Teknologi Modern yang Membawa Dampak Samping
Secara teknis, sebagian besar komponen roket pendorong dirancang untuk terbakar habis saat kembali memasuki atmosfer bumi. Akan tetapi, perkembangan teknologi material modern justru membuat komponen-komponen tersebut menjadi jauh lebih kuat.
Produsen pesawat luar angkasa kini menggunakan bahan yang sangat tahan panas demi menjamin keselamatan misi peluncuran. Sayangnya, ketangguhan material ini membuat puing-puing tersebut tidak hancur sepenuhnya saat bergesekan dengan atmosfer.
Akibatnya, bongkahan logam berukuran besar berpotensi lolos dari pembakaran alami dan meluncur deras menuju permukaan tanah. Hal inilah yang meningkatkan risiko terjadinya benturan fisik di wilayah daratan yang padat penduduk.
Kesaksian Astronaut dari Stasiun Luar Angkasa
Fenomena mengerikan ini bukan sekadar teori di atas kertas, melainkan peristiwa nyata yang kerap terjadi di langit malam. Seorang astronaut bernama Chris Williams sempat menyaksikan langsung momen dramatis saat sampah logam tersebut terbakar di atmosfer.
Melalui jendela Stasiun Luar Angkasa Internasional atau ISS, Williams melihat bola api raksasa yang pecah menjadi ribuan serpihan kecil. Pemandangan menakjubkan sekaligus mengerikan tersebut terjadi saat stasiun luar angkasa sedang melintas di atas wilayah Afrika Barat.
Meskipun peluang jatuhnya puing tepat di atas pemukiman warga tergolong kecil, para ahli mengingatkan bahwa risikonya tidak pernah nol. Pemerintah dan lembaga riset seperti BRIN perlu terus memantau pergerakan objek-objek mencurigakan ini demi keselamatan masyarakat.