Uptodai.com - PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk kini tengah memacu pertumbuhan pendapatan baru melalui langkah strategis pada bisnis fiber optik Telkom yang baru saja dilepas menjadi entitas mandiri. Langkah korporasi ini terbukti langsung membuahkan hasil positif hanya dalam waktu singkat sejak pertama kali digulirkan. Manajemen optimis bahwa pemisahan unit usaha ini akan menjadi mesin pertumbuhan baru di tengah melambatnya bisnis seluler nasional.

Infranexia Jadi Motor Baru Lini Bisnis Infrastruktur Telkom

Melalui anak usaha barunya yang bernama Infranexia, emiten berkode saham TLKM ini mulai menargetkan pasar di luar Telkom Group secara lebih agresif. Sebelumnya, sebagian besar pendapatan dari sektor infrastruktur ini masih bersifat internal atau antar-perusahaan di dalam grup sendiri. Kini, dengan entitas baru yang lebih lincah, perusahaan membidik porsi pendapatan dari luar grup yang jauh lebih besar.

Berdasarkan laporan kinerja keuangan terbaru, kelompok usaha infrastruktur business-to-business (B2B Infra) menyumbang angka yang sangat signifikan bagi perseroan. Sektor ini sukses menjadi kontributor pendapatan terbesar kedua bagi Telkom Group setelah lini bisnis seluler Telkomsel. Sepanjang tahun lalu, lini bisnis infrastruktur Telkom ini berhasil mengamankan pendapatan hingga puluhan triliun rupiah.

Namun, tantangan utama selama ini adalah ketergantungan pada ekosistem internal yang masih sangat mendominasi portofolio keuangan mereka. Dari total pendapatan infrastruktur tersebut, porsi dari pelanggan eksternal sebelumnya masih tergolong sangat minim. Oleh karena itu, langkah spin-off menjadi kunci utama untuk membuka potensi pasar yang jauh lebih luas di industri telekomunikasi.

Menggenjot Pendapatan B2B Infra Telkom dari Pasar Eksternal

Pihak manajemen mengungkapkan bahwa pasar seluler di Indonesia saat ini sudah berada pada titik jenuh dengan tingkat penetrasi yang sangat tinggi. Meskipun layanan internet kabel masih menawarkan ruang pertumbuhan, kompetisi harga yang ketat sering kali menekan margin keuntungan perusahaan. Situasi menantang ini mendorong korporasi untuk mencari alternatif sumber cuan lain yang lebih menjanjikan.

Pemisahan aset dan operasional ke dalam Infranexia dirancang khusus untuk menangkap peluang emas di sektor wholesale atau grosir konektivitas. Proses pengalihan aset fiber optik ini ditargetkan dapat rampung sepenuhnya pada kuartal ketiga tahun ini. Langkah taktis tersebut diharapkan mampu mendongkrak pendapatan B2B Infra Telkom secara signifikan dari klien-klien luar ekosistem BUMN tersebut.

Sinyal positif dari kebijakan strategis ini bahkan sudah mulai terlihat nyata pada awal tahun berjalan. Manajemen mencatat adanya lonjakan permintaan yang cukup tinggi dari mitra eksternal yang sebelumnya belum tergarap optimal. Hal ini membuktikan bahwa kemandirian operasional memberikan fleksibilitas yang lebih besar dalam memenangkan persaingan pasar.

Strategi Akselerasi Omset Bisnis Infrastruktur Telkom

Direktur Wholesale & International Service Telkom, Budi Satria Dharma Purba, menjelaskan bahwa dampak pemisahan ini langsung terasa pada kinerja keuangan awal tahun. Sebelum restrukturisasi dilakukan, kontribusi dari klien luar terhadap bisnis fiber optik tergolong sangat kecil. Namun, pasca-pemisahan tahap pertama, pertumbuhan dari sektor eksternal langsung melesat melampaui target awal perseroan.

Perusahaan kini memasang target optimistis untuk meningkatkan kontribusi pendapatan luar hingga seperempat dari total pendapatan unit tersebut. Untuk mencapai target itu, tim pemasaran kini gencar menawarkan solusi infrastruktur digital ke berbagai sektor industri potensial. Mulai dari penyedia layanan internet lokal hingga korporasi multinasional kini menjadi bidikan utama untuk mengerek omset bisnis infrastruktur Telkom.

Dengan infrastruktur fiber optik yang membentang luas di seluruh Indonesia, Infranexia memiliki keunggulan kompetitif yang sulit ditandingi oleh kompetitor lain. Transformasi ini tidak hanya memperkuat posisi Telkom di pasar domestik, tetapi juga membuka jalan menuju ekspansi regional yang lebih luas. Upaya berkelanjutan ini diharapkan dapat menjaga momentum pertumbuhan kinerja keuangan perseroan secara jangka panjang.