Uptodai.com - Planet yang kita tinggali sedang mengalami perubahan fundamental. Sebuah studi ilmiah menemukan adanya Pergeseran Sumbu Rotasi Bumi yang cukup signifikan, mencapai sekitar 45 sentimeter dari posisi normalnya. Fenomena ini, yang kerap memicu narasi dramatis, ternyata memiliki akar ilmiah yang jelas: redistribusi massa air global akibat aktivitas manusia.

Pergeseran poros putar planet ini terjadi karena adanya perpindahan massa air dari daratan menuju lautan. Ketika sejumlah besar air diambil dari reservoir daratan, momen inersia Bumi ikut berubah, yang pada akhirnya menggeser sumbu rotasi.

Mengapa Air Tanah Mengubah Poros Bumi?

Profesor Clark Wilson, ahli geofisika dari University of Texas di Austin, menjelaskan bahwa prinsip fisika sederhana berlaku di sini. Menurutnya, jika massa air yang sangat besar dipindahkan dari daratan dan didistribusikan ulang ke lautan, hal tersebut otomatis mengubah distribusi massa di seluruh planet.

Perubahan distribusi massa inilah yang menyebabkan sumbu rotasi Bumi bergeser. Meskipun angka 45 sentimeter terdengar kecil, dalam konteks planet, pengukuran yang presisi ini sangat penting dan menjadi indikator kritis terhadap kondisi lingkungan global.

Penelitian Mendalam dan Angka Kehilangan Air

Penelitian yang menguak detail pergeseran ini dipimpin oleh Profesor Ki-Weon Seo dari Seoul National University. Tim tersebut menggunakan kombinasi data radar satelit dan model kelembaban tanah untuk merekonstruksi secara akurat bagaimana deposit air global berubah sejak akhir abad ke-20.

Temuan mereka sangat mencengangkan, terutama pada periode antara tahun 2000 hingga 2002. Terjadi penurunan tajam pada tingkat kelembaban tanah yang secara langsung berkontribusi pada kenaikan permukaan laut global sekitar 1,95 milimeter per tahun.

Angka tersebut jauh melampaui kontribusi pencairan es di Greenland, yang hanya menyumbang sekitar 0,8 milimeter per tahun pada periode yang sama. Data ini menunjukkan bahwa eksploitasi air tanah memiliki dampak yang lebih besar terhadap distribusi massa planet dibandingkan yang diperkirakan sebelumnya.

Tren pengeringan ini sayangnya tidak berhenti. Dari tahun 2003 hingga 2016, tercatat sebanyak 1.000 gigaton air tanah kembali hilang dari reservoir daratan. Hingga tahun 2021, tingkat kelembaban tanah belum menunjukkan tanda-tanda kembali normal, mengindikasikan bahwa pergeseran penyimpanan air daratan ini adalah masalah jangka panjang.

Dampak Pergeseran Sumbu Rotasi Bumi pada Kehidupan Sehari-hari

Pergeseran poros putar Bumi ini memiliki korelasi kuat dengan wilayah-wilayah yang saat ini sedang menghadapi kekeringan ekstrem. Beberapa kawasan yang terdampak meliputi Asia Timur dan Tengah, Amerika Utara dan Selatan, serta Afrika Tengah.

Wilson menambahkan bahwa selain menjadi tanda nyata Dampak Perubahan Iklim Global, pergeseran sumbu ini juga memiliki konsekuensi praktis yang tidak bisa diabaikan. Akurasi sistem navigasi global, seperti GPS, sangat bergantung pada pengukuran posisi sumbu Bumi yang tepat.

Oleh sebab itu, pergerakan sumbu Bumi terus dipantau oleh badan antariksa seperti NASA dan institusi geofisika lainnya dengan tingkat ketelitian hingga milimeter. Meskipun Bumi tidak benar-benar ‘doyong’ dalam artian harfiah, pergeseran yang dipicu oleh hilangnya air tanah ini menjadi peringatan keras tentang bagaimana tindakan manusia memengaruhi keseimbangan fundamental planet.

Memahami mekanisme Pergeseran Sumbu Rotasi Bumi ini sangat krusial, bukan hanya untuk ilmu pengetahuan, tetapi juga untuk perencanaan sumber daya air dan mitigasi risiko di masa depan.