Ini Alasan Google Pilih Malaysia untuk Data Center, RI Kalah SDM
Uptodai.com - Pergerakan raksasa teknologi global yang ramai-ramai menanamkan modal besar untuk membangun pusat data (data center) di kawasan Asia Tenggara menjadi sorotan utama. Fenomena ini semakin menarik perhatian karena perusahaan sekelas Google pilih Malaysia data center di Johor, sementara Indonesia yang memiliki pasar dan sumber daya alam lebih besar justru terlewati.
Investasi masif ini sangat krusial untuk menopang kebutuhan komputasi awan (cloud computing) dan pengembangan Kecerdasan Buatan (AI) yang kini menjadi motor penggerak utama ekonomi digital global. Selain Google, nama-nama besar seperti Amazon, Nvidia, hingga Alibaba juga memilih Malaysia sebagai basis utama ekspansi infrastruktur mereka di regional ini.
Mengapa Raksasa Teknologi Lebih Memilih Malaysia?
Banyak pihak menduga bahwa keputusan ini didasarkan pada ketersediaan lahan, listrik, dan air yang melimpah, sumber daya yang sebenarnya dimiliki Indonesia dalam jumlah jauh lebih besar. Namun, Deputi Promosi Penanaman Modal dan Hilirisasi Kementerian Investasi/BKPM, Nurul Ichwan, mengungkapkan adanya faktor penentu lain yang jauh lebih substansial.
Menurut Nurul Ichwan, isu fundamental yang menjadi pertimbangan utama para investor teknologi tinggi ini adalah ketersediaan sumber daya manusia (SDM) yang berkualitas. Perusahaan-perusahaan tersebut membawa teknologi yang sangat spesifik dan canggih, sehingga mereka membutuhkan SDM lokal yang mampu mengoperasikan dan mengelola sistem tersebut secara mendalam.
Kebutuhan ini melampaui sekadar tenaga kerja operasional biasa. Investasi di sektor teknologi tinggi menuntut kemampuan dasar teknis yang kuat dari SDM lokal agar teknologi yang diimpor dapat berjalan optimal dan berkelanjutan di negara tujuan.
Data Kualifikasi Master dan PhD Jadi Penentu
Nurul Ichwan menjelaskan bahwa perusahaan raksasa teknologi ini tidak sembarangan dalam memilih lokasi. Mereka melakukan pemetaan mendalam terhadap kualitas dan tingkatan lulusan perguruan tinggi di setiap negara yang menjadi target investasi mereka.
Secara spesifik, para investor tersebut mendata berapa banyak lulusan Master dan PhD di bidang komputer yang tersedia di Indonesia dan di Malaysia. Data kualifikasi ini disesuaikan secara ketat dengan kebutuhan teknis yang mereka miliki untuk mengelola data center berteknologi tinggi.
Hasil observasi yang dilakukan oleh perusahaan-perusahaan tersebut menunjukkan hasil yang mengejutkan. Nurul Ichwan menyebutkan bahwa suka atau tidak suka, Malaysia ternyata memiliki jumlah lulusan Master dan PhD di bidang komputer yang lebih banyak dan sesuai dengan standar yang mereka cari.
Faktor inilah yang kemudian menjadi penentu utama bagi Google, Nvidia, dan Alibaba untuk menjatuhkan pilihan investasi data center mereka ke Malaysia, bukan ke Indonesia.
Tantangan Indonesia: Fokus pada Pendidikan STEM
Situasi ini jelas menjadi tantangan serius bagi Indonesia yang bercita-cita menjadi pemain utama dalam ekonomi digital regional. Ketersediaan infrastruktur fisik saja tidak cukup jika tidak diimbangi dengan kualitas SDM yang mumpuni di bidang teknologi.
Pemerintah kini dituntut untuk segera merumuskan strategi penciptaan SDM yang berorientasi pada Science, Technology, Engineering, and Mathematics (STEM). Peningkatan kualitas pendidikan tinggi, khususnya di bidang ilmu komputer dan teknik, harus menjadi prioritas nasional.
Ke depan, pendidikan berbasis STEM harus menjadi arus utama dalam peningkatan sumber daya manusia di Indonesia. Langkah strategis ini penting untuk memastikan bahwa Indonesia tidak hanya menjadi pasar, tetapi juga mampu menyediakan SDM yang kompetitif agar dapat menarik investasi teknologi tinggi yang berkelanjutan.