Uptodai.com - Harga RAM komputer 2026 diprediksi akan mengalami lonjakan drastis akibat tingginya permintaan komponen untuk kebutuhan pusat data kecerdasan buatan (AI). Tren kenaikan ini mulai meresahkan konsumen global karena berdampak langsung pada biaya perakitan perangkat digital di seluruh dunia.

Di tengah situasi krisis pasokan tersebut, sejumlah produsen semikonduktor asal China justru mengambil langkah berani dengan menawarkan harga yang jauh lebih kompetitif. Strategi ini menjadi angin segar bagi industri manufaktur yang saat ini sedang terhimpit oleh biaya produksi yang kian melambung tinggi.

Melansir data dari Technetnooks, memori jenis DDR4 3200 ECC 32GB saat ini dibanderol pada kisaran US$138 hingga US$140 atau sekitar Rp2,32 juta sampai Rp2,35 juta. Angka tersebut tergolong sangat murah jika kita bandingkan dengan produk serupa di pasar global yang mencapai US$300 hingga US$400.

Penyebab Utama Lonjakan Harga Memori PC Terbaru

Fenomena kenaikan harga memori PC terbaru ini berakar dari pergeseran fokus produksi para raksasa teknologi dunia. Banyak produsen besar kini lebih memprioritaskan pembuatan High Bandwidth Memory (HBM) untuk mendukung infrastruktur komputasi AI yang sangat masif.

Kondisi ini menyebabkan pasokan DRAM untuk perangkat konsumen umum seperti laptop dan komputer desktop menjadi sangat terbatas. Akibatnya, hukum pasar berlaku di mana ketersediaan barang yang menipis memicu lonjakan harga yang tidak terkendali di tingkat retail.

Permintaan dari pusat data AI memang terus menunjukkan grafik yang meningkat tajam sejak awal tahun lalu. Perusahaan teknologi raksasa berlomba-lomba membangun infrastruktur yang kuat, sehingga menyerap sebagian besar kapasitas produksi chip memori dunia secara signifikan.

Langkah Agresif ChangXin Memory Technologies (CXMT)

Menghadapi krisis komponen teknologi global ini, ChangXin Memory Technologies (CXMT) berencana memperluas kapasitas produksinya secara besar-besaran di Shanghai. Fasilitas baru ini diprediksi akan memiliki skala dua hingga tiga kali lebih besar dibandingkan kantor pusat mereka di Hefei.

Langkah ekspansi ini bertujuan untuk menstabilkan pasokan memori di tengah ketidakpastian pasar global yang kian memanas. CXMT menargetkan fasilitas produksi terbaru tersebut sudah bisa mulai beroperasi penuh pada tahun 2027 mendatang untuk memenuhi kebutuhan pasar.

Selain CXMT, produsen memori terkemuka lainnya yakni Yangtze Memory Technologies (YMTC) juga tengah mempercepat pengembangan fasilitas mereka. Proyek Wuhan Fase III milik YMTC bahkan ditargetkan beroperasi lebih cepat, yakni pada paruh kedua tahun 2026.

Fokus Produksi DRAM untuk Menekan Kelangkaan

YMTC berencana mengalokasikan setengah dari total kapasitas produksi barunya khusus untuk memproduksi chip DRAM. Keputusan strategis ini diambil untuk mengantisipasi kelangkaan perangkat keras komputer yang diprediksi akan mencapai puncaknya pada akhir tahun depan.

Kehadiran produk dari merek-merek China ini memberikan alternatif bagi konsumen yang membutuhkan komponen berkualitas dengan harga yang lebih masuk akal. Persaingan harga ini diharapkan dapat mengerem laju inflasi pada sektor perangkat keras komputer yang kian mengkhawatirkan.

Dampak Berantai pada Industri Smartphone dan Motherboard

Kenaikan harga komponen memori tidak hanya memukul pasar komputer rakitan, tetapi juga merembet ke sektor elektronik lainnya. Sejumlah produsen smartphone kini mulai memberikan sinyal akan adanya penyesuaian harga pada produk-produk terbaru mereka di masa mendatang.

Komponen RAM merupakan salah satu bagian terpenting dalam struktur biaya pembuatan smartphone dan motherboard. Jika harga chip memori terus merangkak naik, maka harga jual akhir ke tangan konsumen dipastikan akan ikut terkerek naik secara otomatis.

Para pengamat industri menyarankan konsumen untuk segera melakukan pembaruan perangkat sebelum krisis pasokan ini semakin parah. Pasalnya, ketersediaan stok dengan harga lama diprediksi akan habis dalam waktu dekat seiring dengan meningkatnya permintaan pasar menjelang akhir tahun.