Uptodai.com - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) kembali merilis peringatan dini cuaca ekstrem untuk kawasan Ibu Kota dan sekitarnya. Masyarakat di wilayah metropolitan diminta untuk waspada hujan sangat lebat Jakarta yang diprediksi akan terjadi pada awal Februari 2026, khususnya di beberapa wilayah pesisir dan dataran rendah.

Meskipun demikian, intensitas hujan yang diperkirakan melanda kawasan Jabodetabek selama periode 1 hingga 5 Februari mendatang tidak seintens laporan yang dirilis pada akhir Januari. Prakiraan cuaca menunjukkan dominasi hujan sedang hingga lebat di sebagian besar wilayah. Sementara itu, puncak hujan lebat hingga sangat lebat diperkirakan hanya terjadi pada hari Minggu, 1 Februari 2026.

Dinamika Atmosfer Pemicu Hujan Ekstrem di Jabodetabek

BMKG menjelaskan bahwa kondisi cuaca ekstrem yang berpotensi memicu waspada hujan sangat lebat Jakarta ini dipengaruhi oleh dinamika atmosfer pada skala global, regional, dan juga lokal. Laporan ‘Prospek Cuaca Mingguan’ yang dirilis BMKG pada 27 Januari 2026 menyebutkan adanya beberapa faktor pendorong utama.

Salah satu faktor utama adalah El Niño-Southern Oscillation (ENSO) yang saat ini terpantau menguat pada fase negatif. Kondisi ini secara teknis mengindikasikan adanya La Nina lemah. La Nina lemah tersebut berpotensi signifikan meningkatkan pasokan uap air yang mendukung pembentukan awan hujan masif di sebagian wilayah Indonesia, terutama bagian timur.

Selain pengaruh La Nina lemah, aktivitas monsun Asia juga diprediksi masih cukup persisten dan akan bertahan hingga dasarian pertama Bulan Februari. Fenomena Cross Equatorial Northerly Surge (CENS) juga dilaporkan masih aktif, menambah potensi curah hujan tinggi di wilayah barat Indonesia.

Lebih lanjut, daerah tekanan rendah berpotensi terbentuk di Samudera Hindia selatan Banten, Teluk Carpentaria, dan daratan Australia barat laut. Kondisi ini mampu membentuk daerah perlambatan kecepatan angin atau konvergensi di wilayah Indonesia bagian selatan, yang otomatis meningkatkan peluang hujan lebat.

Ancaman Bibit Siklon Tropis 98P dan Dampaknya

Selain faktor-faktor atmosfer di atas, BMKG turut memantau pembentukan Bibit Siklon Tropis 98P yang terdeteksi sejak 29 Januari 2026. Saat ini, bibit siklon tersebut berada di sekitar daratan Australia, namun dampaknya terasa tidak langsung di Indonesia.

Dampak tidak langsung ini berupa peningkatan intensitas hujan sedang hingga lebat, disertai angin kencang di wilayah Nusa Tenggara Timur (NTT), Maluku Barat Daya, dan Kepulauan Tanimbar. Masyarakat di wilayah tersebut diimbau untuk meningkatkan kewaspadaan.

Ancaman gelombang laut tinggi juga menyertai peringatan cuaca ini. BMKG memprakirakan gelombang setinggi 1,25 hingga 2,5 meter dapat terjadi di beberapa perairan. Bahkan, gelombang yang lebih tinggi, mencapai 2,5 hingga 4 meter, berpotensi terjadi di sejumlah perairan Indonesia lainnya.

Daftar Wilayah Waspada Hujan Sangat Lebat Jakarta dan Sekitarnya

Khusus untuk wilayah Jabodetabek, BMKG merincikan prediksi cuaca Jabodetabek Februari pada periode 1 hingga 5 Februari 2026. Tanggal 1 Februari menjadi hari paling krusial yang memerlukan kesiapsiagaan tinggi dari pemerintah daerah dan masyarakat.

Pada 1 Februari 2026:

  • Waspada Hujan Sedang-Lebat: Kota Tangerang, Kota Tangsel, Kab. Tangerang, Jakpus, Jaktim, Jaksel, Kota Bekasi, Kab. Bogor, Kota Bogor, Kota Depok.
  • Siaga Hujan Lebat-Sangat Lebat: Jakut, Jakbar, dan Kepulauan Seribu.

Pada 2 Februari 2026:

Kondisi hujan merata dengan intensitas sedang hingga lebat. Wilayah yang harus waspada meliputi Kota Tangerang, Kota Tangsel, Kab. Tangerang, Jakut, Jakpus, Jakbar, Jaktim, Jaksel, Kep. Seribu, Kab. Bekasi, Kota Bekasi, Kab. Bogor, Kota Bogor, dan Kota Depok.

Pada 3 Februari 2026:

Intensitas hujan sedang hingga lebat masih diprediksi terjadi di Kota Tangerang, Kota Tangsel, Kab. Tangerang, Jakut, Jakpus, Jakbar, Jaktim, Jaksel, Kep. Seribu, dan Kota Depok.

Pada 4 Februari 2026:

Hujan sedang-lebat diprakirakan terjadi di Jakut, Jakpus, Jakbar, dan beberapa wilayah penyangga lainnya. Masyarakat diimbau untuk terus memantau informasi resmi dari BMKG dan menyiapkan langkah mitigasi bencana, terutama di daerah rawan banjir.