Uptodai.com - Implementasi jaringan 5G di Indonesia saat ini dinilai belum ideal jika harus dipaksakan menjangkau seluruh pelosok tanah air secara serentak. Asosiasi Penyelenggara Telekomunikasi Seluruh Indonesia (ATSI) mengungkapkan berbagai tantangan mendasar yang masih mengganjal ambisi pemerataan teknologi tersebut.

Sekretaris Jenderal ATSI, Merza Fachys, menjelaskan bahwa kondisi geografis dan demografis Indonesia yang sangat luas menjadi faktor penentu utama. Selain itu, tingkat kesiapan ekonomi masyarakat di berbagai wilayah masih menunjukkan kesenjangan yang cukup signifikan untuk mengadopsi teknologi terbaru.

Kendala Rendahnya Penetrasi Perangkat 5G

Salah satu hambatan paling nyata dalam implementasi jaringan 5G di Indonesia adalah masih rendahnya kepemilikan perangkat atau handset yang mendukung teknologi tersebut. Merza menyebutkan bahwa secara nasional, penetrasi ponsel 5G baru menyentuh angka sekitar 30 persen di jaringan hampir seluruh operator.

Angka tersebut bahkan jauh lebih rendah jika menilik wilayah-wilayah di luar kota besar atau daerah rural. Di sejumlah daerah tertentu, tingkat kepemilikan smartphone 5G tercatat hanya berkisar antara 2 hingga 5 persen saja dari total pengguna seluler.

Kondisi ini membuat operator seluler harus berpikir dua kali sebelum menggelontorkan investasi besar-besaran untuk membangun infrastruktur pendukung. Tanpa ekosistem perangkat yang memadai di tangan masyarakat, layanan 5G yang canggih tidak akan bisa dinikmati secara optimal dan efisien.

Pertimbangan Investasi dan Fokus Sektor Industri

Membangun infrastruktur untuk menunjang implementasi jaringan 5G di Indonesia membutuhkan biaya yang jauh lebih mahal dibandingkan generasi sebelumnya. Oleh karena itu, para operator kini lebih memilih untuk bersikap selektif dalam menentukan titik perluasan jaringan mereka di berbagai daerah.

Operator cenderung mengarahkan modal investasi mereka ke wilayah yang benar-benar memberikan manfaat ekonomi dan memiliki potensi kebutuhan industri yang tinggi. Kawasan industri atau pusat bisnis menjadi prioritas utama karena teknologi ini menawarkan latensi rendah yang sangat dibutuhkan oleh sektor manufaktur modern.

Jika sebuah wilayah memiliki potensi industri yang besar, operator dipastikan akan mengejar pembangunan jaringan di sana tanpa perlu adanya paksaan regulasi. Strategi ini dianggap lebih rasional untuk menjaga keberlangsungan bisnis perusahaan telekomunikasi di tengah ketatnya persaingan pasar digital saat ini.

Langkah Bertahap Menuju Transformasi Digital

Sebagai contoh konkret, beberapa operator besar seperti XL Axiata sudah mulai meluncurkan layanan 5G di puluhan kota strategis di tanah air. Fokus awal mereka adalah memastikan cakupan penuh di area perkotaan yang populasi pengguna perangkat 5G-nya sudah dianggap memadai secara ekonomi.

Meskipun target perluasan terus berjalan, jangkauan ke wilayah pinggiran atau pedesaan masih akan memakan waktu yang lebih lama. Pertimbangan keekonomian tetap menjadi landasan utama agar investasi yang dikeluarkan tidak menjadi sia-sia atau justru menjadi beban bagi perusahaan.

Di sisi lain, pemerintah melalui Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) tetap mematok target pengembangan yang terukur untuk masa depan. Menteri Komdigi, Meutya Hafid, menargetkan cakupan jaringan 5G bisa mencapai 8,5 persen dari total luas permukiman nasional pada tahun 2026 mendatang.

Target ini mencerminkan sikap realistis pemerintah dalam menghadapi tantangan infrastruktur digital yang sangat kompleks di Indonesia. Dengan pendekatan yang bertahap, diharapkan kualitas konektivitas tetap terjaga tanpa membebani ekosistem telekomunikasi secara berlebihan di tengah proses transisi teknologi.