Indonesia Negara Paling Berkembang di Dunia, AS Kalah Jauh
Uptodai.com - Sebuah laporan mengejutkan dari riset internasional menobatkan Indonesia negara paling berkembang di dunia, mengungguli raksasa ekonomi seperti Amerika Serikat (AS) dan Inggris. Studi yang dikenal sebagai Global Flourishing Study ini menyoroti bahwa kesejahteraan sejati tidak melulu diukur dari kekayaan finansial semata.
Hasil ini secara tegas mematahkan anggapan bahwa negara-negara maju otomatis memiliki tingkat kebahagiaan dan makna hidup tertinggi. Penelitian yang melibatkan lebih dari 203.000 responden di 22 negara ini membuktikan adanya dimensi lain yang jauh lebih krusial dalam menilai kualitas hidup.
Mengukur Kesejahteraan Multidimensi: Bukan Hanya Soal Uang
Global Flourishing Study mengadopsi tujuh variabel utama dalam penilaiannya, melampaui metrik ekonomi tradisional. Variabel tersebut mencakup kesehatan, kebahagiaan, makna hidup, karakter pro-sosial, relasi sosial, ketahanan finansial, hingga aspek spiritualitas.
Dengan skor perkembangan mencapai 8,3, Indonesia berhasil menduduki peringkat teratas, jauh di atas Israel (7,87) dan Filipina (7,71) yang menyusul di posisi kedua dan ketiga. Temuan ini menegaskan bahwa berkembang itu bersifat multidimensi, dan setiap negara memiliki jalur unik menuju kesejahteraan.
Peneliti menjelaskan bahwa kesejahteraan bukanlah sekadar soal kekayaan atau kesehatan fisik semata. Mereka menekankan bahwa berbagai negara berkembang dengan cara yang berbeda, bergantung pada kekuatan internal masyarakatnya.
Karakter Pro-Sosial Dorong Kesejahteraan Indonesia Tertinggi
Meskipun bukan termasuk negara terkaya di dunia, Indonesia unggul signifikan dalam aspek hubungan sosial dan karakter pro-sosial. Faktor ini mendorong terciptanya keterhubungan dan komunitas yang kuat di tengah masyarakat, menjadi kunci utama skor tinggi tersebut.
Para peneliti mencatat bahwa hubungan sosial yang solid dan makna hidup yang mendalam menjadi penentu utama tingginya skor Indonesia. Selain itu, nilai-nilai spiritualitas dan kekeluargaan yang kental turut memperkuat fondasi kesejahteraan non-materi yang dicari oleh studi ini.
Keunggulan dalam aspek-aspek non-materi ini berhasil menutupi kekurangan dalam dimensi keamanan finansial jika dibandingkan dengan negara-negara Eropa atau Amerika Utara.
Paradoks Negara Kaya: AS, Inggris, dan Jepang Tertinggal Jauh
Kontras dengan Indonesia, negara adidaya seperti Amerika Serikat hanya mampu berada di peringkat ke-12 dalam daftar Global Flourishing Study. Sementara itu, Inggris bahkan terperosok di posisi ke-20 dari 22 negara yang disurvei, hanya sedikit di atas negara-negara terbawah.
Penelitian ini secara eksplisit menjelaskan bahwa banyak negara maju memang mencatat skor tinggi dalam hal keamanan finansial. Namun, mereka justru menunjukkan skor yang sangat rendah dalam aspek makna hidup, hubungan sosial, dan karakter pro-sosial.
Kasus Jepang menjadi contoh paling ekstrem dalam riset ini, di mana mereka menempati posisi paling bawah sebagai negara yang masyarakatnya paling tidak berkembang, dengan skor hanya 5,89. Meskipun secara ekonomi lebih kaya dan memiliki harapan hidup tinggi, responden di Jepang paling jarang menjawab ‘ya’ ketika ditanya apakah mereka memiliki teman dekat atau hubungan sosial yang erat.
Secara keseluruhan, studi yang dipublikasikan oleh para akademisi Harvard ini memberikan perspektif baru mengenai definisi kemakmuran global. Kesejahteraan sejati, menurut riset ini, adalah kombinasi harmonis antara kekayaan materi dan kekayaan hubungan sosial yang mendalam.
Temuan ini juga mencatat bahwa tingkat kesejahteraan cenderung meningkat seiring bertambahnya usia responden di seluruh dunia, menunjukkan bahwa pengalaman hidup dan kematangan emosional berperan besar dalam pencapaian makna hidup.