Uptodai.com - Pendiri sekaligus CEO Nvidia, Jensen Huang, baru-baru ini melakukan kunjungan ke Taipei, Taiwan, dan secara terbuka Jensen Huang minta TSMC tingkatkan produksi semikonduktor secara masif. Permintaan ini datang di tengah ledakan permintaan global untuk chip kecerdasan buatan (AI) yang menjadi tulang punggung dominasi Nvidia di pasar teknologi.

Huang, yang memiliki kekayaan fantastis mencapai US$165 miliar atau setara hampir Rp2.700 triliun, disambut bak selebritas di tanah kelahirannya. Kunjungan tersebut bukan hanya sekadar acara seremonial, tetapi menjadi penegasan betapa krusialnya peran Taiwan dalam revolusi AI yang dipimpin oleh perusahaannya.

Permintaan Mendesak di Tengah Revolusi Chip AI Global

Saat berinteraksi dengan para pemasok utama Nvidia di Taiwan, Huang menyampaikan urgensi peningkatan kapasitas produksi. Ia secara spesifik menyebut Taiwan Semiconductor Manufacturing Company (TSMC), produsen chip tercanggih di dunia, sebagai mitra vital yang harus bekerja ekstra keras.

“TSMC harus bekerja sangat keras tahun ini karena saya membutuhkan banyak wafer,” ujar Huang sambil tertawa, menunjukkan betapa tingginya tekanan pasokan saat ini. Nvidia membutuhkan pasokan wafer dan memori dalam jumlah besar untuk memenuhi lonjakan permintaan chip AI hingga tahun 2026.

Permintaan chip AI yang terus meroket mendorong Huang memproyeksikan peningkatan kapasitas produksi TSMC. Ia memperkirakan kapasitas produksi perusahaan tersebut dalam 10 tahun ke depan akan meningkat lebih dari dua kali lipat, sejalan dengan ekspansi besar-besaran industri semikonduktor global.

Proyeksi Huang ini sejalan dengan rencana investasi TSMC. Perusahaan tersebut sebelumnya mengungkapkan bahwa belanja modal mereka tahun ini bisa melonjak hingga 37% menjadi US$56 miliar. Investasi ini diprediksi akan terus meningkat signifikan pada tahun-tahun berikutnya, didorong oleh kebutuhan mendesak akan komputasi AI.

Sambutan Hangat ‘Ayah Rakyat’ di Tanah Kelahiran

Di luar urusan bisnis yang sangat serius, sosok Huang di Taiwan mendapatkan perlakuan istimewa layaknya pahlawan yang pulang kampung. Media lokal menjulukinya sebagai “ayah rakyat”, sementara kerumunan penggemar berbondong-bondong mendekat hanya untuk meminta tanda tangan atau sekadar berswafoto.

Status selebritas yang disandang Huang menunjukkan pengakuan publik terhadap kontribusi besar Nvidia. Perusahaan tersebut tahun lalu mencetak sejarah sebagai perusahaan pertama di dunia dengan valuasi pasar menembus US$5 triliun, sebuah capaian yang menegaskan dominasi mereka di pusat revolusi teknologi.

Dalam sebuah jamuan makan malam bersama puluhan eksekutif teknologi terkemuka, termasuk Chairman Foxconn Young Liu, Huang kembali menegaskan peran tak tergantikan Taiwan. Ia menyampaikan apresiasi mendalam terhadap ekosistem teknologi di sana.

“Nvidia tidak akan mungkin ada tanpa Taiwan. Ada keajaiban di pulau ini, dengan teknologi dan budaya perusahaan yang luar biasa,” tegas Huang. Pernyataan ini menggarisbawahi betapa pentingnya rantai pasok Taiwan bagi keberlangsungan bisnis raksasa semikonduktor Amerika Serikat tersebut.

Tantangan Pasokan Memori dan Rantai Global

Meskipun fokus utama adalah peningkatan produksi wafer oleh TSMC, pendiri Nvidia yang berimigrasi ke Amerika Serikat sejak kecil itu juga mengungkapkan kekhawatiran lain. Ia menyoroti ketatnya pasokan chip memori, khususnya High Bandwidth Memory (HBM), yang merupakan komponen krusial bagi komputasi AI canggih.

Menurut Huang, lonjakan permintaan yang ekstrem ini tidak hanya membebani produsen wafer, tetapi juga seluruh rantai pasok. Tantangan berat ini dihadapi oleh semua pihak yang terlibat dalam industri semikonduktor global, mulai dari bahan baku hingga perakitan akhir.

Kondisi ini menciptakan persaingan sengit di antara raksasa teknologi untuk mengamankan pasokan. Dengan revolusi chip AI global yang semakin cepat, kemampuan Taiwan untuk meningkatkan produksi secara cepat akan menjadi penentu utama siapa yang memenangkan perlombaan kecerdasan buatan dalam beberapa tahun ke depan.