Telkom Kelola Aset Fiber Optik BUMN Lewat InfraNexia
Uptodai.com - Konsolidasi aset fiber optik BUMN kini menjadi agenda besar yang didorong oleh Badan Pengelola Investasi Danantara. Langkah strategis ini bertujuan untuk menyatukan seluruh infrastruktur kabel optik milik perusahaan negara di bawah naungan PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk. Kebijakan tersebut diharapkan mampu menciptakan efisiensi operasional yang jauh lebih tinggi di sektor telekomunikasi nasional.
Danantara memberikan arahan agar penggabungan ini tidak hanya terbatas pada sektor infrastruktur digital saja. Berbagai bidang usaha lain seperti real estate juga masuk dalam kajian untuk disatukan dalam satu entitas yang lebih kuat. Transformasi ini menjadi bagian dari upaya pemerintah untuk memperkuat fundamental perusahaan pelat merah di tengah persaingan global.
PT Telkom Infrastruktur Indonesia (TIF) atau yang lebih dikenal dengan nama InfraNexia akan menjadi ujung tombak dalam rencana besar ini. Entitas baru tersebut dipersiapkan untuk mengelola seluruh jaringan fiber optik yang tersebar di berbagai instansi BUMN. Dengan demikian, pengelolaan aset digital negara akan menjadi lebih terpusat dan terintegrasi secara profesional.
Fokus Penguatan InfraNexia sebagai FiberCo Utama
Direktur Utama TelkomGroup, Dian Siswarini, menjelaskan bahwa fokus utama perusahaan tahun ini adalah memperkuat posisi InfraNexia sebagai fiberco yang mumpuni. Fokus internal ini membuat manajemen memutuskan untuk menunda rencana pencarian mitra strategis atau investor baru. Rencana pendanaan dari pihak luar, baik domestik maupun asing, kemungkinan baru akan berlanjut pada tahun depan.
Manajemen saat ini sedang melakukan kajian mendalam mengenai teknis penggabungan aset dari perusahaan negara lainnya. Proses ini membutuhkan ketelitian tinggi agar integrasi infrastruktur tidak mengganggu layanan yang sudah berjalan. Danantara menekankan bahwa sinergi antar-BUMN harus memberikan nilai tambah yang signifikan bagi perekonomian digital Indonesia.
Meskipun belum menyebutkan daftar perusahaan secara spesifik, beberapa nama besar diprediksi akan terlibat dalam penggabungan ini. Dua entitas kuat yang memiliki jaringan fiber optik luas adalah PT PLN (Persero) melalui Icon Plus dan PT Jasa Marga (Persero) Tbk. Kedua perusahaan tersebut memiliki infrastruktur yang sangat strategis untuk mendukung konektivitas nasional.
Meningkatkan Pendapatan dari Pihak Ketiga
Direktur Wholesale & International Service Telkom, Budi Satria Dharma Purba, memaparkan target ambisius terkait konsolidasi aset fiber optik BUMN ini. Melalui skema spin-off ke InfraNexia, Telkom mengincar kenaikan pendapatan yang signifikan dari jasa layanan pihak ketiga. Langkah ini merupakan bagian dari strategi unlock value yang telah dirancang sejak lama.
Saat ini, kontribusi pendapatan Telkom dari layanan fiber neutral untuk pihak eksternal masih berada di angka 15 persen. Setelah proses integrasi dan pemisahan bisnis selesai, angka tersebut ditargetkan melonjak hingga mencapai kisaran 25 hingga 40 persen. Peningkatan ini menunjukkan potensi pasar yang sangat besar dalam penyediaan infrastruktur kabel optik di tanah air.
Konsolidasi anak usaha menjadi prioritas yang harus diselesaikan sebelum perusahaan melangkah ke tahap komersialisasi yang lebih luas. Dengan infrastruktur yang lebih solid, InfraNexia diharapkan mampu melayani kebutuhan data yang terus meningkat dengan kualitas yang lebih stabil. Sinergi ini sekaligus mempertegas posisi Telkom sebagai pemimpin pasar dalam transformasi digital di Indonesia.